Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari buka suara soal pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan sebutan londo ireng. Qodari mengajak agar melihat topik keseluruhan rangkaian pidato yang disampaikan Prabowo.
"Kita fokus topik ini aja ya. Pertama begini, kalau mengenai pernyataan Presiden, pidato Presiden, mari kita lihat rangkaian pidato Presiden, semuanya itu untuk membela kepentingan rakyat," kata Qodari kepada wartawan saat menghadiri Pelaksanaan Uji Coba Portal Perlinsos Digital dan Meninjau Pembangunan Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 di Kantor Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Qodari menilai pidato yang disampaikan Prabowo konsisten berfokus pada kesejahteraan masyarakat luas. Mulai dari sektor pertanian hingga ketahanan energi nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsisten sekali pidato Presiden itu, selalu berbicara meningkatkan kesejahteraan petani, taraf hidup petani, taraf hidup nelayan, ketahanan pangan, swasembada beras, ketahanan energi, pencapaian B50," jelasnya.
Selain isu kesejahteraan dan pangan, Qodari juga menyinggung poin-poin strategis lain yang disampaikan Presiden, seperti pengaktifan proyek Blok Masela serta upaya mengatasi kebocoran keuangan negara.
"Kemudian juga bagaimana Blok Masela yang sudah 28 tahun akhirnya dimulai. Kemudian bagaimana beliau mengungkap adanya praktik under-invoicing, transfer pricing yang merugikan negara setiap tahun Rp 500 triliun sampai Rp 600 triliun, itu semua mau dihentikan. Jadi insyaallah kita kalau fokus kepada substansi, itulah poin-poin yang sesungguhnya dari pidato bapak presiden," jelasnya.
Ditanya lagi soal sebutan londo ireng kepada jurnalis, pengamat hingga LSM, Qodari enggan menanggapi lebih jauh dan meminta fokus subtansi pidato Prabowo.
"Substansi, teman-teman (jurnalis). Substansi pada teman-teman. Terima kasih," pungkasnya.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo menyebut profesi jurnalis, pengamat hingga LSM sebagai londo ireng. Ia menyebut istilah londo ireng merujuk pada orang Indonesia dahulu yang mengabdi atau bekerja dengan penjajah Belanda.
"Dikira kita gak ngerti. Ada orang-orang Indonensia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang melawan kita. londo londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM," ujar Prabowo pidato di puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center pada Kamis, 23 Juli 2026.
