Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Aksi heroik seorang penjaga Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 105 di Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan menjadi sorotan publik. Rekaman CCTV yang memperlihatkan petugas itu bertaruh nyawa menyelamatkan seorang pria yang diduga hendak menabrakkan diri ke kereta api viral di media sosial.
Petugas tersebut adalah M Shofi Bahtiar (24), warga Desa Masangan. Berbekal refleks dan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya, ia nekat menerjang rel demi menarik seorang pria lanjut usia keluar dari lintasan sesaat sebelum Kereta Api Sangkuriang melintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkat aksinya, nyawa pria tersebut berhasil diselamatkan dan tidak ada korban dalam peristiwa yang terjadi pada Minggu (26/7/2026) sekitar pukul 19.46 WIB itu.
Peristiwa tersebut terjadi di JPL 105, Desa Masangan. Berdasarkan rekaman CCTV, seorang pria mengenakan sarung tanpa mengenakan baju terlihat berdiri di atas rel sambil menendang-nendang batas rel. Meski cahaya lampu kereta dari arah timur semakin mendekat dan klakson terus dibunyikan, pria tersebut tidak bergeming.
Saat kereta semakin dekat, pria itu justru menghadap ke arah kereta dan mengangkat tangan seolah menghentikan laju rangkaian. Menyadari situasi sangat berbahaya, Shofi langsung melompat dari pos jaga menuju rel, merangkul pria tersebut, lalu menyeretnya keluar lintasan.
Namun, upaya penyelamatan belum selesai. Pria itu kembali naik ke rel. Shofi kembali mengejarnya, menarik tubuh pria tersebut, lalu mendorongnya menjauh dari rel. Hanya berselang beberapa detik, Kereta Api Sangkuriang melintas dengan kecepatan tinggi tepat di depan mereka.
Saat ditemui detikJatim di JPL 105, Selasa (28/7/2026), Shofi membenarkan bahwa peristiwa dalam video viral tersebut terjadi ketika dirinya sedang bertugas.
"Iya benar di sini kejadian dalam video itu. Saat itu pas saya yang piket. KA Sangkuriang yang melintas," kata Shofi.
Menurut Shofi, pria yang diduga hendak mengakhiri hidup itu bernama Dasuki, warga Dusun Blawi, Desa Masangan, yang diperkirakan berusia 75-80 tahun. Sehari-hari, Dasuki diketahui bekerja sebagai pencari barang rongsokan.
Penjaga palang pintu di Pasuruan gagalkan aksi bunuh diri Foto: Muhajir Arifin/detikJatim |
Shofi kemudian menceritakan detik-detik sebelum dirinya memutuskan menerjang rel. Saat itu ia baru saja menutup palang perlintasan dan bersiap memberikan salam kepada masinis ketika melihat seseorang berdiri tepat di tengah rel.
"Saat itu ada Kereta Api Sangkuriang dari arah timur, saya nutup palang, pintu saya tutup semua. Saya bersiap memberi salam kepada masinis. Ternyata di sini ada orang di tengah rel," kata Shofi.
Ia sempat memperingatkan Dasuki agar segera turun dari rel. Namun, peringatan tersebut diabaikan.
"Saya bilangin 'Pak ada kereta mau melintas.' Orangnya bilang 'gak' gitu," terang Shofi.
Yang membuatnya semakin khawatir, pria tersebut justru mengangkat tangan ke arah kereta seolah menantang laju lokomotif. Tanpa berpikir panjang, Shofi langsung melompat ke rel.
"Sambil menoleh (menghadap) kereta tangannya gini (menirukan gerakan menyetop), mau nantang kereta, ya saya refleks, spontan, dari sini loncat, loncat ngamanin. Ternyata mau balik lagi. Udah niat bunuh diri kayak, saya tarik lagi ... Alhamdulillah selamat nggak ada korban," ujarnya.
Shofi mengaku aksi tersebut sama sekali tidak direncanakan. Saat itu yang ada di benaknya hanya menyelamatkan nyawa seseorang yang berada di lintasan kereta.
Ia menjelaskan dirinya merupakan petugas outsourcing di bawah Dinas Perhubungan Kabupaten Pasuruan. Sebelum resmi bekerja sebagai penjaga JPL, ia lebih dulu menjadi relawan di lokasi tersebut.
"Saya ikut Dishub, outsourcing sudah 1,5 tahun. Sebelumnya memang relawan di sini (sebelum ada JPL)," terangnya.
Setiap bulan, Shofi menerima upah sekitar Rp 1,6 juta. Meski demikian, ia menegaskan besaran gaji tidak pernah memengaruhi tanggung jawabnya saat bertugas menjaga keselamatan di perlintasan kereta.
"Saat itu refleks saja, spontan. Jarak kereta sekitar 500 meter," terangnya.
Ketika ditanya apakah dirinya tidak takut mempertaruhkan nyawa, Shofi menjawab sederhana bahwa tindakan tersebut merupakan konsekuensi dari pekerjaannya.
"Ya namanya kerjaannya ngamanin kereta, Pak. Harus tanggung jawab lah," ungkapnya.
Aksi heroik Shofi mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Febri Irawan Darwis, yang datang langsung ke JPL 105 untuk menemuinya.
"Kita apresiasi luar biasa sikap heroik Mas Shofi, jarang ditemukan. Dia rela bertaruh nyawa. Lebih penting menjadi masyarakat yang peduli. Biasanya kan orang peduli kalau sudah kejadian," kata Febri.
Febri mengatakan pihaknya akan berupaya memperjuangkan kesejahteraan para penjaga JPL berstatus outsourcing yang berada di bawah kewenangan Dinas Perhubungan Kabupaten Pasuruan.
"Kita upayakan ada penambahan gaji. Saat ini ada 120 pegawai outsourcing penjaga JPL," tandasnya.
Aksi spontan yang dilakukan Shofi tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dedikasi dan rasa tanggung jawab seorang petugas di lapangan dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati dalam hitungan detik.

