Aksi nekat Achmad Zaenuri alias Zaenal (68) mengevakuasi ular kobra tanpa alat bantu maupun alat pelindung diri (APD) berujung petaka. Pimpinan Relawan Birunya Cinta (RBC) Mojokerto itu digigit ular berbisa saat berusaha menangkap kembali kobra yang lepas dari tas ranselnya.
Akibatnya, ia harus menjalani operasi karena jaringan di kedua tangannya mengalami kerusakan.
Peristiwa itu bermula saat Zaenuri menerima laporan adanya ular masuk ke rumah warga di Lingkungan Mulyosari, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Setibanya di lokasi, ia mencari ular yang disebut bersembunyi di saluran air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai di lokasi, keterangan pemilik rumah, ularnya lari ke got. Saya cari, ternyata ular di dalam pipa dari saluran rumah menuju got, cuma kelihatan kepalanya," kata Zaenuri kepada detikJatim di kamar rawat inap Kertabumi 9, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, Senin (27/7/2026).
Saat melihat bagian kepala ular, Zaenuri mengaku sudah mengetahui satwa tersebut merupakan jenis kobra. Meski demikian, ia tetap memilih menangkapnya dengan tangan kosong tanpa menggunakan sarung tangan maupun alat bantu.
"Tidak pakai sarung tangan karena saya memang ingin menangkap ular tanpa alat. Saya kepingin seperti pawang ular," terangnya.
Setelah berhasil ditangkap, Zaenuri mengaku sempat melepaskan ular tersebut di jalan aspal depan rumah warga untuk dijinakkan sebelum dimasukkan ke dalam tas ransel.
"Ingin saya jinakkan dulu, itu harus dijinakkan. Jadi, kalau menangkap ular itu harus dijinakkan. Setelah jinak, lemas, baru ditangkap. Setelah itu, saya masukkan ke dalam tas rangsel abu-abu," cetusnya.
Di dalam tas tersebut ternyata sudah ada seekor ular kayu peliharaannya. Saat berhenti di depan warung bakso di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Mojokerto, kedua ular itu keluar dari tas karena bagian atas ransel berlubang.
Seorang juru parkir kemudian mengingatkan Zaenuri bahwa ular tersebut lepas. Khawatir membahayakan warga sekitar, ia berusaha menangkap kembali ular kobra tersebut. Saat itulah telapak tangan kirinya digigit. Ketika mencoba melepaskan gigitan dan menangkap kembali ular menggunakan tangan kanan, jari telunjuk tangan kanannya juga digigit.
"Langsung saya tarik pakai tangan kanan, lepas dan lari, lalu saya tangkap lagi pakai tangan kanan, jari telunjuk digigit juga. Kemudian saya masukkan ke tas ransel satunya. Ular kayu juga saya masukkan ke tas itu," ungkapnya.
Setelah sadar digigit ular berbisa, Zaenuri langsung menuju RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo untuk mendapatkan penanganan medis. Tas berisi ular kobra dan ular kayu ditinggalkan di sepeda motornya karena khawatir diambil orang.
"Karena saya khawatir tas itu dicuri orang, tidak tahu kalau isinya ular," ujarnya.
Akibat bisa ular kobra, kedua tangan Zaenuri mengalami pembengkakan. Dokter kemudian melakukan operasi pada Sabtu (25/7/2026) untuk mengangkat jaringan yang rusak. Hingga kini, ia masih menjalani masa pemulihan di rumah sakit.
"Tadi sudah boleh pulang, tapi saya masih mual, demam, pusing dan muntah," jelasnya.
Meski mengalami kejadian tersebut, Zaenuri mengaku tidak kapok. Relawan yang selama ini dikenal aktif mengevakuasi korban kecelakaan, bencana, hingga satwa liar itu justru bertekad tetap menangkap ular tanpa alat bantu maupun pelindung diri.
"Saya masih ingin bisa menangkap ular tanpa alat. Karena kesenangan saja, senang dan hobi. Sebetulnya saya ini menyelamatkan ular yang meresahkan atau mengganggu warga, jangan sampai dibunuh," terangnya.
Saat ini, Zaenuri memelihara sejumlah satwa hasil evakuasi di rumah adiknya, Alfiah. Koleksinya terdiri atas empat ekor ular kobra, seekor ular sanca sepanjang enam meter, dua ular sanca berukuran kecil, seekor kera, dan seekor luwak.
"Ular yang di rumah itu sudah jinak. Kalau ada yang minta, saya kasihkan, tapi tidak boleh dibunuh," tegasnya.
