Sejumlah jurnalis di Bondowoso menggelar aksi damai. Mereka menyikapi ucapan Prabowo yang menyebut jurnalis sebagai "Londo Ireng". Dalam aksinya, jurnalis yang tergabung dalam organisasi profesi PWI dan IJTI itu mengutuk keras pernyataan presiden yang disampaikan secara terbuka di acara Harlah PKB di Jakarta.
Selain berorasi, aksi jurnalis yang digelar di Museum Kereta Api Bondowoso itu juga membentangkan poster berisi seruan dan pernyataan serta aksi teatrikal. Beberapa poster yang dibawa di antaranya berbunyi "Kami Ireng Tapi Bukan Londo", "Londo Ireng Bukan Pers", "Tolak Pembungkaman Berekspresi", dan lainnya.
"Presiden Prabowo menyebut wartawan sebagai Londo Ireng," kata koordinator lapangan, Nanang Ervandi, di sela aksinya, Senin (27/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota PWI ini juga mengatakan, narasi itu merupakan frasa yang bisa diartikan penjajah, pengkhianat dan penindas rakyat, seperti era kolonial dulu.
"Ini sangat mencederai marwah, harga diri, independensi dan keberadaan jurnalis," tegasnya.
Menurutnya, kepala negara seharusnya melindungi dan membela marwah jurnalis, bukan malah melecehkan profesi jurnalis.
"Maka, kami mendesak agar Presiden Prabowo mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada insan pers," tandas Nanang Ervandi.
Sebelumnya dalam pidato di Harlah PKB, Prabowo melontarkan ungkapan bahwa saat ini masih ada Londo Ireng. Mereka adalah wartawan, jurnalis, pengamat, serta LSM (Lembaga Swadaya Mayarakat).
Ungkapan itu lantas memantik reaksi dari organisasi wartawan. Di antaranya AJI, IJTI, serta beberapa elemen media lainnya. Jurnalis di beberapa daerah bahkan juga menggelar aksi menyikapi ucapan tersebut.
