Hari Baik untuk Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitungnya

Hari Baik untuk Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitungnya

Mira Rachmalia - detikJatim
Selasa, 28 Jul 2026 09:00 WIB
Pindah rumah
Ilustrasi pindah rumah. Foto: pch.vector/Freepik
Surabaya -

Bagi sebagian masyarakat Jawa, pindah rumah bukan hanya sekadar memindahkan barang ke tempat tinggal baru. Momen tersebut juga diyakini sebagai awal kehidupan baru yang diharapkan membawa ketenangan, rezeki, dan keharmonisan bagi seluruh penghuni rumah.

Karena itu, banyak orang masih mempertimbangkan hari baik sebelum melakukan pindahan dengan berpedoman pada perhitungan Primbon Jawa. Dalam tradisi Jawa, penentuan hari baik dilakukan melalui perhitungan weton atau neptu yang berasal dari hari kelahiran seseorang.

Selain memperhitungkan hari, masyarakat juga mengenal bulan-bulan yang dianggap baik maupun kurang baik untuk pindah rumah, serta sejumlah tradisi yang dipercaya menjadi simbol rasa syukur dan doa agar kehidupan di rumah baru berjalan lancar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana cara menghitung hari baik untuk pindah rumah menurut Primbon Jawa? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal Weton dan Neptu dalam Tradisi Jawa

Sebelum menghitung hari baik untuk pindah rumah, penting memahami terlebih dahulu konsep Primbon, weton, dan neptu yang menjadi dasar perhitungan dalam tradisi Jawa.

ADVERTISEMENT

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Primbon merupakan kitab yang berisi berbagai perhitungan tradisional, seperti penentuan hari baik, hari kurang baik, hingga ramalan yang berkembang dalam budaya Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, Primbon menjadi salah satu pedoman untuk menentukan waktu pelaksanaan berbagai peristiwa penting, mulai dari pernikahan, membangun rumah, hingga pindah tempat tinggal.

Sementara itu, weton adalah gabungan antara hari kelahiran dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setiap kombinasi hari dan pasaran memiliki nilai angka atau neptu yang berbeda-beda.

Dalam sistem penanggalan Jawa terdapat tujuh hari dalam sepekan, yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu yang dipadukan dengan lima hari pasaran. Kombinasi tersebut akan berulang setiap 35 hari sehingga setiap orang memiliki weton yang tetap sepanjang hidupnya.

Nilai neptu inilah yang kemudian digunakan dalam berbagai perhitungan Primbon, termasuk untuk menentukan kecocokan pasangan, memilih hari pernikahan, memulai usaha, hingga menentukan hari yang dianggap baik untuk pindah rumah.

Cara Menghitung Hari Baik untuk Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa

Dalam Primbon Jawa, penentuan hari baik untuk pindah rumah dilakukan melalui perhitungan neptu antara weton pemilik rumah dengan hari yang dipilih untuk pindahan.

1. Tentukan Neptu Weton Pemilik Rumah

Langkah pertama adalah mengetahui nilai neptu berdasarkan hari dan pasaran kelahiran orang yang akan menempati rumah.

Nilai neptu hari:

Minggu = 5
Senin = 4
Selasa = 3
Rabu = 7
Kamis = 8
Jumat = 6
Sabtu = 9

Nilai neptu pasaran:

Kliwon = 8
Legi = 5
Pahing = 9
Pon = 7
Wage = 4

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Senin Wage memiliki neptu:

Senin = 4

Wage = 4

Total neptu = 8

Apabila pindah rumah dilakukan bersama pasangan atau anggota keluarga lain, sebagian masyarakat Jawa juga menghitung neptu seluruh penghuni rumah sebagai bahan pertimbangan.

2. Tambahkan dengan Neptu Hari Pindahan

Setelah mengetahui nilai neptu, langkah berikutnya adalah menjumlahkannya dengan nilai neptu hari yang dipilih sebagai hari pindahan.

Misalnya seseorang dengan neptu 8 ingin pindah rumah pada Minggu yang memiliki neptu 5, maka hasilnya:

8 + 5 = 13

3. Bagi dengan Angka Empat

Jumlah tersebut kemudian dibagi dengan angka empat. Yang digunakan bukan hasil pembagiannya, melainkan sisa hasil bagi.

Sisa inilah yang dipercaya menentukan apakah hari tersebut membawa pertanda baik atau kurang baik menurut Primbon Jawa.

4. Cocokkan dengan Makna Weton

Hasil sisa pembagian memiliki makna yang berbeda-beda.

  • Sisa 1 (Guru) dipercaya melambangkan kehidupan yang selamat, dihormati banyak orang, dan rezeki yang lancar.
  • Sisa 2 (Ratu) dipercaya membawa kewibawaan, kemudahan rezeki, serta kehidupan rumah tangga yang lebih harmonis.
  • Sisa 3 (Rogoh) dipercaya kurang baik karena berkaitan dengan kemungkinan kehilangan harta benda maupun persoalan dalam kehidupan rumah tangga.
  • Sisa 0 (Sempoyong) diyakini melambangkan penghuni rumah yang kurang betah, sering mengalami kesulitan, atau lebih mudah terjadi perselisihan.

Perlu dipahami bahwa makna tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dalam Primbon Jawa dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Bulan untuk Pindah Rumah

Selain mempertimbangkan hari, sebagian masyarakat Jawa juga memilih bulan tertentu ketika akan menempati rumah baru. Beberapa bulan yang dianggap baik antara lain sebagai berikut.

Bulan Besar

Dalam Primbon Jawa, Bulan Besar sering dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai berbagai kegiatan penting, termasuk pindah rumah.

Bulan Ruwah

Bulan Ruwah dipercaya membawa keberkahan sehingga banyak masyarakat Jawa memilih waktu ini untuk berpindah tempat tinggal.

Bulan Bakdamulud

Bulan Bakdamulud juga dinilai baik untuk mendirikan maupun menempati rumah baru. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bulan ini diharapkan membawa keberuntungan dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.

Bulan yang Tidak Baik untuk Pindah Rumah

Sebaliknya, terdapat beberapa bulan yang umumnya dihindari untuk pindah rumah. Bulan-bulan itu adalah sebagai berikut.

  • Bulan Sura, yang dalam tradisi Jawa dianggap kurang tepat untuk memulai kegiatan besar.
  • Bulan Sapar, yang oleh sebagian masyarakat juga dihindari sebagai waktu pindahan.
  • Bulan Pasa, karena dinilai kurang baik untuk memulai aktivitas besar seperti pindah rumah.

Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi Primbon Jawa yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan sebagian masyarakat hingga kini.

Tradisi Pindah Rumah dalam Masyarakat Jawa

Selain menentukan hari dan bulan yang dianggap baik, masyarakat Jawa juga mengenal sejumlah tradisi ketika memasuki rumah baru sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar keluarga memperoleh keselamatan.

Salah satu tradisi yang masih banyak dilakukan adalah selamatan atau syukuran. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama keluarga, tetangga, maupun tokoh agama sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keberkahan di tempat tinggal baru.

Ada pula tradisi siraman, yaitu ritual penyucian diri sebelum menempati rumah baru. Dalam budaya Jawa, siraman dimaknai sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin sebelum memulai kehidupan baru.

Selain itu, sebagian masyarakat juga masih melakukan pemasangan sesaji sebagai bagian dari tradisi leluhur. Sesaji dipandang sebagai simbol penghormatan kepada para pendahulu sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas tempat tinggal yang baru.

Meski pelaksanaannya kini semakin beragam mengikuti perkembangan zaman, tradisi-tradisi tersebut masih menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

Perhitungan hari baik untuk pindah rumah menurut Primbon Jawa merupakan salah satu tradisi yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga sekarang.

Melalui perhitungan weton, pemilihan bulan, serta pelaksanaan tradisi seperti selamatan, masyarakat berharap kehidupan di rumah baru dipenuhi keberkahan, keselamatan, dan keharmonisan.

Terlepas dari apakah seseorang mempercayainya atau tidak, Primbon Jawa tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal dan cara masyarakat Jawa memaknai setiap fase penting dalam kehidupan.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads