Tangis Menteri LH Jumhur Hidayat Bela Program MBG yang Banyak Dicerca

Tangis Menteri LH Jumhur Hidayat Bela Program MBG yang Banyak Dicerca

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 27 Jul 2026 14:21 WIB
Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat menangis saat membela Program MBG yang banyak dicerca
Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat menangis saat membela Program MBG yang banyak dicerca (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat menangis ketika menutup Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Mojokerto. Jumhur tak kuasa menahan air mata salah satunya karena membela program makan bergizi gratis (MBG) yang belakangan ini dicerca.

KSI 2026 di wisata Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Trawas, Mojokerto diikuti 500 anggota komunitas sungai dari 15 provinsi. Puncak konferensi dihadiri langsung oleh Jumhur. Mulai dari menanam pohon, hingga deklarasi komunitas sungai dan dialog interaktif.

Jumhur tiba-tiba menangis di atas panggung saat menutup KSI 2026. Ia menyampaikan keresahan di luar konteks lingkungan hidup. Salah satunya ihwal program andalan Presiden Prabowo Subianto, MBG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang yang lapar dikasih makan, anda cerca, jangan dong, engga boleh. Sory saya kaya gini sangat sensitif karena saya tahu persis," kata Jumhur sambil menangis di atas panggung, Senin (27/7/2026).

ADVERTISEMENT

Jumhur lantas melanjutkan pidatonya. Kali ini, ia menyebut pemerintahan Prabowo sedang mengerjakan revolusi di bidang ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran rakyat.

"Termasuk di dunia pertambangan, di dunia sawit. Uang yang biasa nyolong dari penjualan, menipu under invoicing, itu akan dituntaskan. Jadi, ini sesuatu yang mulia. Saya ingin mengajak saudara-saudara menghancurkan yang mengganggu, termasuk orang-orang dalam pemerintahan yang mengganggu program itu, atau entah orang dari mana, tidak ingin kita berhasil," ujarnya.

Ketika dikonfirmasi wartawan terkait tangisannya, Jumhur menjelaskan ada 22 juta penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan kronis. Menurutnya, angka tersebut dari studi yang dilakukan ADB bersama Bappenas tahun 2016-2018.

"Saya tahu, orang miskin itu banyak di Indonesia. Tahun 2018, 2016, 17, 18 itu ADB bersama Bappenas bikin studi. Ada 22 juta orang kelaparan kronis. Kelaparan kronis itu tahu apa? Artinya dia tuh sudah siap mati untuk lapar. Dan mohon maaf ya, banyak budaya kita yang tidak berani mengungkapkan, akhirnya dia mati. Itu banyak budaya kita. Tidak berani melawan, gitu ya," jelasnya.

Ketika pemerintahan Prabowo memberi makan rakyat yang mengalami kelaparan kronis melalui MBG, menurut Jumhur, itu merupakan program yang mulia. Sehingga tak sepatutnya MBG menjadi sasaran kemarahan.

"Nah, bahwa orang-orang kelaparan kronis itu udah hancur banget, itu kaya udah stunting, tapi yang setengah kelaparan kronis kan ada juga. Yang tadi makannya mungkin seminggu cuman dua kali itu tiga kali. Tapi yang makannya 3 hari sekali atau 2 hari sekali juga ada, itu juga kurang makan juga. Itu mungkin bisa 50, 60, 70 juta orang. Dan itulah yang menjadi subjek bagi distribusi MBG sebetulnya," terangnya.

Jumhur menegaskan kalau dirinya siap menghadapi pihak-pihak yang menentang MBG.

"Bahwa, ya, dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, itu bukan hanya urusan MBG, urusan mana pun banyak terjadi penyimpangan. Jadi sebetulnya, kita hajar penyimpangan penyimpangan itu, tapi programnya jangan. Kalau Anda menghardik program orang yang lapar diberi makan, anda berhadapan dengan saya," tandasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads