Tiga desa di kaki Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto setiap kemarau menjadi langganan krisis air bersih. Warga pun meminta solusi permanen dari pemerintah, mulai dari pipanisasi hingga pengeboran dengan biaya Rp 500 juta.
"Selagi belum ada suplai air dari sumber mata air atau pengeboran, masih tetap setiap tahun krisis air bersih," kata Kepala Desa (Kades) Manduro Manggung Gajah, Eka Dwi Firmansyah kepada detikJatim, Sabtu (24/7/2026).
BPBD Kabupaten Mojokerto merilis, 774 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih di Desa Manduro MG, Kecamatan Ngoro. Yaitu 375 KK di Dusun Gajah Mungkur dan 399 KK di Dusun Buluresik. Bantuan air bersih yang disalurkan 1 tangki atau 4.000 liter/hari sejak 22 Juli lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka sangat berharap kepada pemerintah daerah atau pusat menghadirkan solusi permanen masalah krisis air bersih. Sebab ia kasihan dengan penduduknya yang kesulitan air setiap kemarau.
Sampai ia rela merogoh kocek pribadinya sekitar Rp 15 juta untuk membiayai pencarian sumber air pada 2023 dan 2024. Penelitian dengan metode geolistrik dan pencitraan satelit saat itu, menghasilkan temuan adanya sumber air di Dusun Gajah Mungkur.
"Harapan saya dengan hasil itu, kami buktikan sendiri ada sumber air. Karena kasihan warga sudah puluhan tahun dan setiap tahun krisis air," terangnya.
Hanya saja keberadaan air tanah mencapai kedalaman sekitar 130 meter. Sehingga dibutuhkan pengeboran dengan sistem angin menggunakan pipa casing ukuran 8 dim. Biaya pengeboran tersebut ditaksir Rp 500 juta.
Biaya tersebut tentu tak mungkin ditanggung Pemerintah Desa Manduro MG. Terlebih lagi di tengah efisiensi anggaran. Sehingga Eka mengharapkan bantuan dari Pemkab Mojokerto, Pemprov Jatim, atau pemerintah pusat.
Menurutnya, pengeboran di Dusun Gajah Mungkur paling ideal karena letaknya yang lebih tinggi. Sehingga tidak perlu mesin pompa untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga maupun ke permukiman Dusun Buluresik.
"Harapan kami ada bantuan pengeboran. Sudah kami usulkan setiap tahun, bahkan ke Pemprov juga setiap tahun," ungkapnya.
Harapan agar krisis air bersih tak lagi menjadi rutinitas tahunan juga datang dari Kades Duyung, Jurianto Bambang Siswantoro. Kemarau tahun ini, krisis air dialami 85 KK di Dusun Bantal sejak 3 hari lalu. Karena sejumlah mata air mulai mengering.
Sedangkan data BPBD Kabupaten Mojokerto menyebutkan 503 KK terdampak krisis air di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Terdiri dari 247 KK di Dusun Duyung dan 256 KK di Dusun Bantal. Bantuan air bersih 2 tangki atau 8.000 liter/hari sejak 22 Juli 2026.
Jurianto menagih janji Pemprov Jatim yang akan membantu pipanisasi untuk mengalirkan air bersih dari Sumber Lumpang di Dusun Duyung ke Dusun Bantal. Jarak mata air ini ke permukiman penduduk sekitar 3,3 Km.
"Pengajuannya mulai 2009, kami disanggupi, ternyata sampai sekarang belum dibangun. Kasihan masyarakat. Padahal tidak perlu mesin pompa air, cukup pipanisasi, sebetulnya pakai pipa 2 dim sudah layak, tandon juga sudah ada," jelasnya.
Bantuan pipanisasi dari Pemprov Jatim rupanya juga dinanti-nanti warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro. Jumlah warga terdampak krisis air di desa ini mencapai 1.499 KK. Terdiri dari 693 KK di Dusun Kandangan dan 806 KK di Dusun Kunjoro. Desa ini juga menerima bantuan 4 tangki atau 16.000 liter air bersih per hari sampai 5 September nanti.
"Tiga tahun lalu, saat Bu Khofifah (Gubernur Jatim) masih periode pertama hadir. Katanya dianggarkan Pemprov Jatim, pipanisasi dari Sumber Lumpang dan penampungan. Sampai sekarang belum terealisasi," terang Kades Kunjorowesi Susi Darsono.
Pipanisasi tersebut, tambah Darsono, untuk menambah jaringan pipa yang sudah ada. Karena selama ini, penyaluran air dari Sumber Lumpang di Dusun Duyung ke Dusun Kunjoro, belum mencukupi kebutuhan warganya.
Menurutnya, bantuan pipanisasi dari Pemprov Jatim direncanakan juga untuk menyalurkan air dari Sumber Lumpang ke Dusun Kunjoro. Bak penampungan yang akan dibangun seluas 8x4 meter. Selanjutnya, air didorong ke Dusun Kandangan dengan 2 pompa listrik.
"Setiap kunjungan bupati maupun gubernur, selama ini dropping air sebagai penanganan darurat. Masa selamanya darurat. Kami berharap ada perhatian khusus sehingga berikutnya, kebutuhan masyarakat terkait air bisa tercukupi. Supaya tidak seperti sekarang, terbatas sekali. Alhamdulillah dengan bantuan 4 tangki itu sudah lumayan," tandasnya.
