3 Desa di Mojokerto Langganan Krisis Air Bersih, 2.776 KK Terdampak

3 Desa di Mojokerto Langganan Krisis Air Bersih, 2.776 KK Terdampak

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Sabtu, 25 Jul 2026 08:15 WIB
Tiga desa di Mojokerto langganan krisis air bersih
Tiga desa di Mojokerto langganan krisis air bersih (Foto: Dok. Istimewa)
Mojokerto -

Tiga desa di kaki Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto menjadi langganan krisis air bersih setiap tahun. Pemerintah sebatas melakukan penanganan darurat dengan menyalurkan bantuan air bersih untuk 2.776 KK terdampak.

Krisis air bersih setiap kemarau, rutin melanda warga Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas. Letak ketiga desa tersebut di kaki Gunung Penanggungan.

Kepala Desa Kunjorowesi, Susi Darsono menjelaskan, sekitar 1.500 Kepala Keluarga (KK) terdampak krisis air bersih di desanya. Terdiri dari sebagian wilayah Dusun Kandangan dan sebagian Dusun Kunjoro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak musim kemarau sudah krisis air bersih, sekitar 2-3 bulan. Hanya terkadang hujan, sampai bulan kemarin, hujan sebulan sekali," jelasnya kepada detikJatim, Sabtu (25/7/2026).

ADVERTISEMENT

Selama kemarau, lanjut Darsono, warga Dusun Kunjoro dan Kandangan mengandalkan hujan yang turun sebulan sekali, aliran dari Sumber Lumpang di Desa Duyung. Air dari Sumber Lumpang dialirkan melalui pipa sekitar 11 Km ke penampungan di Dusun Kunjoro.

Selanjutnya dari Dusun Kunjoro, air didorong dengan 2 mesin pompa tenaga listrik ke Dusun Kandangan. Sebab permukiman penduduk Kandangan lebih tinggi dan jaraknya sekitar 1-2 Km dari penampungan air di Dusun Kunjoro.

"Tapi bergilir, tiap RT dapat jatah 6 hari sekali. Dari penampungan dialirkan pakai pipa ke rumah warga dilengkapi meteran untuk bayar listrik 2 mesin pompa. Listriknya kadang tak cukup Rp 5 juta/bulan dua pompa. Itu pun tidak bisa terus menerus dinyalakan karena ketika ditarik ke atas, warga Dusun Kunjoro tak kebagian air, ditambah beban listrik, makanya sore jam 4 sudah dimatikan," ujarnya.

Kades Manduro Manggung Gajah Eka Dwi Firmansyah menuturkan, krisis air bersih saat ini melanda Dusun Buluresik dan Gajah Mungkur. Menurutnya, dampak kekeringan tak separah tahun lalu.

Sebab warga menampung air hujan yang sesekali masih turun. Selain itu, untuk bertahan hidup, warganya juga mengangsu air dari Dusun Genting, Desa Wontanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, serta dari sebuah perusahaan.

"Selagi belum ada suplai air dari sumber mata air atau pengeboran, masih tetap setiap tahun krisis air bersih," cetusnya.

Sedangkan di Desa Duyung, krisis air bersih dialami 85 KK di Dusun Bantal sejak 2 hari lalu. Karena debit sumber air yang terus menipis. Bantuan air bersih dari pemerintah pun difokuskan untuk dusun ini.

"Setiap hari bantuan 2 tangki, sementara untuk Dusun Bantal. Aslinya tidak cukup, tapi alhamdulillah karena kami baru terdampak," terang Kades Duyung, Jurianto Bambang Siswantoro.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin menjelaskan, krisis air bersih di 3 desa tersebut ditangani melalui penyaluran bantuan air bersih 22 Juli-5 September 2026. Setiap harinya, 7 tangki air bersih masing-masing 4.000 liter dikirim untuk 2.776 KK terdampak.

"(Bantuan air bersih sampai 5 September karena) Ketersediaan anggaran yang ada," tandasnya.

BPBD Kabupaten Mojokerto merilis, jumlah warga terdampak di Desa Kunjorowesi 1.499 KK. Terdiri dari 693 KK di Dusun Kandangan dan 806 KK di Dusun Kunjoro. Desa ini menerima jatah 4 tangki atau 16.000 liter/hari.

Desa Manduro Manggung Gajah 774 KK terdampak. Terdiri dari 375 KK di Dusun Gajah Mungkur 375 KK dan Dusun Buluresik 399 KK. Jatah air bersih 1 tangki atau 4.000 liter/hari.

Desa Duyung 503 KK terdampak krisis air bersih. Terdiri dari 247 KK di Dusun Duyung dan 256 KK di Dusun Bantal. Jatah air bersih 2 tangki atau 8.000 liter/hari.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads