3 Desa Langganan Krisis Air, Pemkab Mojokerto Andalkan Bantuan Pemprov

3 Desa Langganan Krisis Air, Pemkab Mojokerto Andalkan Bantuan Pemprov

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Sabtu, 25 Jul 2026 11:15 WIB
Tiga desa di Mojokerto langganan krisis air bersih
Tiga desa di Mojokerto langganan krisis air bersih (Foto: Dok. Istimewa)
Mojokerto -

Pemkab Mojokerto seakan kewalahan mengatasi masalah tiga desa di kaki Gunung Penanggungan yang setiap kemarau menjadi langganan krisis air bersih. Saat ini, mereka mengandalkan bantuan dari Pemprov Jatim.

BPBD Kabupaten Mojokerto merilis, 2.776 KK terdampak krisis air bersih di tiga desa. Mereka menyalurkan bantuan tujuh tangki atau 28.000 liter air bersih/hari sejak 22 Juli sampai 5 September 2026. Yaitu empat tangki untuk Desa Kunjorowesi, 1 tangki untuk Desa Manduro Manggung Gajah, serta 2 tangki untuk Desa Duyung.

"Kami telah meminta bantuan Pemprov Jatim untuk mencari solusi permanen mengatasi kekeringan di Desa Kunjorowesi, Manduro MG dan Duyung dengan pembangun SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) ditahun 2026. Sudah dianggarkan melalui APBD Provinsi Jatim tahun anggaran 2026," terang Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko kepada detikJatim, Sabtu (25/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SPAM untuk Desa Kunjorowesi, lanjut Teguh, bakal memanfaatkan mata air Sumber Lumpang di Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Nantinya, air dialirkan melalui pipa sepanjang 19 Km ke Dusun Kunjoro, Desa Kunjorowesi. Anggarannya sekitar Rp 4,8 miliar.

Menurutnya, pipanisasi yang sama juga akan dikerjakan dari Sumber Lumpang ke Dusun Bantal, Desa Duyung. Pembangunan SPAM ini membutuhkan pemasangan pipa sepanjang 1 Km.

ADVERTISEMENT

"Saat ini, proyek tersebut menunggu penyelesaian perizinan UKL UPL dan izin perlintasan pipa di lokasi HGU (Hak Guna Usaha) yang dimiliki pihak swasta. Diharapkan setelah perizinan tersebut selesai, proyek tersebut akan segera dilaksanakan oleh Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Jatim," jelasnya.

Lain halnya dengan Desa Manduro MG yang membutuhkan pengeboran sumber air dalam. Kepala Desa setempat, Eka Dwi Firmansyah sampai ia rela merogoh kocek pribadinya sekitar Rp 15 juta untuk membiayai pencarian sumber air pada 2023 dan 2024.

Penelitian dengan metode geolistrik dan pencitraan satelit saat itu, menghasilkan temuan adanya sumber air di Dusun Gajah Mungkur. Hanya saja keberadaan air tanah mencapai kedalaman sekitar 130 meter. Sehingga dibutuhkan pengeboran dengan sistem angin menggunakan pipa casing ukuran 8 dim.

Biaya pengeboran tersebut ditaksir Rp 500 juta. Biaya tersebut tentu tak mungkin ditanggung Pemerintah Desa Manduro MG. Terlebih lagi di tengah efisiensi anggaran. Sehingga Eka mengharapkan bantuan dari Pemkab Mojokerto, Pemprov Jatim, atau pemerintah pusat.

Pengeboran di Dusun Gajah Mungkur paling ideal karena letaknya yang lebih tinggi. Sehingga tidak perlu mesin pompa untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga maupun ke permukiman Dusun Buluresik yang letaknya lebih rendah.

Dikonfirmasi detikJatim terkait aspirasi tersebut, Teguh belum bisa memberi penjelasan lebih. Ia sebatas memberikan informasi adanya pengeboran air oleh Universitas Pertahanan (Unhan) di Dusun Buluresik, Desa Manduro MG.

"Pengeboran oleh Unhan di Dusun Buluresik sampai saat ini menurut pihak desa belum ada serah terima ke desa. Jadi, desa tidak berani memanfaatkannya," ungkapnya.

Sedangkan yang sudah dimanfaatkan warga, tambah Teguh, sumur bor buatan Kementerian ESDM di Dusun Manduro, Desa Manduro MG sekitar tahun 2023.

"Sudah terpasang pompa submersible dan jaringan listrik dari PLN, sudah dimanfaatkan oleh Desa Manduro MG. Namun terkendala biaya bulanan yang cukup besar untuk pembayaran listrik," ujarnya.

Kepala Desa Manduro MG, Eka Dwi Firmansyah membenarkan adanya pengeboran air oleh Unhan di Dusun Buluresik. "Benar, debit airnya sangat kecil, sangat tidak mencukupi," tandasnya.

Sebelumnya, 774 KK terdampak krisis air bersih di Desa Manduro MG, Kecamatan Ngoro. Yaitu 375 KK di Dusun Gajah Mungkur dan 399 KK di Dusun Buluresik. Bantuan air bersih yang disalurkan 1 tangki atau 4.000 liter/hari sejak 22 Juli lalu.

Jumlah warga terdampak krisis air di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro mencapai 1.499 KK. Terdiri dari 693 KK di Dusun Kandangan dan 806 KK di Dusun Kunjoro. Desa ini juga menerima bantuan 4 tangki atau 16.000 liter air bersih per hari sampai 5 September nanti.

Kades Duyung, Jurianto Bambang Siswantoro menyebut, krisis air dialami 85 KK di Dusun Bantal sejak 3 hari lalu. Karena sejumlah mata air mulai mengering. Sedangkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, 503 KK terdampak krisis air di Desa Duyung. Terdiri dari 247 KK di Dusun Duyung dan 256 KK di Dusun Bantal. Bantuan air bersih 2 tangki atau 8.000 liter/hari.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads