Femas Sempat Terdeteksi di Masjid Korea tapi Belum Tertangkap

Femas Sempat Terdeteksi di Masjid Korea tapi Belum Tertangkap

Aprilia Devi - detikJatim
Senin, 20 Jul 2026 12:45 WIB
Femas saat diduga berada di Masjid Ansan Korea Selatan
Femas saat diduga berada di Masjid Ansan Korea Selatan. (Foto: Istimewa)
Sidoarjo -

Pencarian Femas Yani Arianto (22), pemuda asal Madiun yang kabur dari rombongan tur di Korea Selatan mulai menemui titik terang. Keberadaan pemuda yang kini berstatus overstay di Korea Selatan itu sempat terdeteksi di kawasan Masjid Ansan atau Islam Korean Ansan Mosque, Korea Selatan.

Meski lokasinya sudah diketahui, petugas otoritas setempat belum bisa melakukan penangkapan lantaran terbentur aturan hukum terkait tempat ibadah. Hal itu seperti disampaikan CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani.

Pria yang akrab disapa Dhani itu mengungkapkan bahwa informasi keberadaan Femas di Masjid Ansan didapatkan dari laporan para WNI yang bermukim di Negeri Ginseng. Pihak agensi travel pun langsung meneruskan temuan ini ke pihak berwenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, berdasarkan keterangan dari WNI yang berada di Korea Selatan kepada Dhani, imigrasi setempat tidak bisa serta-merta membekuk Femas karena posisi sang buron yang berlindung di dalam area suci keagamaan.

"Info dari WNI di sana, mereka sempat komunikasi dengan Embassy. Katanya 'info dari Immigration Office, kita nggak bisa gerebek yang bersangkutan di dalam tempat ibadah di masjid tersebut. Intinya dia baru bisa ditangkap pada saat keluar dari masjid itu'," kata Dhani saat dikonfirmasi detikJatim, Senin (20/7/2026).

ADVERTISEMENT

Kabar terbaru menyebutkan bahwa Femas sudah bergeser meninggalkan area dalam masjid. Walau demikian, berdasarkan pemetaan yang dilakukan Dhani dari WNI di sana, pemuda itu diyakini masih berkeliaran di sekitar kawasan Ansan.

Proses pencarian Femas, warga Madiun yang kabur dari rombongan saat tur di Korea Selatan terus dilakukan pihak agensi travel Berani Backpacker. Pihak travel bahkan sampai menggelar sayembara berhadiah paket liburan gratis ke Singapura dan Malaysia bagi WNI di Negeri Ginseng yang berhasil memulangkan Femas.

Langkah ekstrem ini diambil lantaran keputusan Femas dinilai sangat egois dan menimbulkan efek domino yang merugikan banyak orang, mulai dari rombongan tur, masyarakat Indonesia secara umum, hingga sang ibu di kampung halaman.

Dampak Keputusan Egois Femas

Pihak travel mengingatkan bahwa visa bukan sekadar stiker, melainkan sebuah bentuk kepercayaan diplomatik yang dijaga oleh ribuan WNI yang patuh. Aksi pelarian Femas ini berpotensi merusak reputasi paspor Indonesia dan mempersulit warga negara lain yang ingin bepergian ke luar negeri secara sah.

Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky menegaskan bahwa dampak instan langsung dirasakan oleh seluruh peserta dan pemandu yang berada dalam satu rombongan yang sama dengan Femas.

"Karena ini merugikannya enggak hanya ke kita, tapi merugikan banyak orang. Visa orang-orang lain satu grup itu pasti terkendala. Jadi tour leader dan seluruh peserta yang ada di grup kita ketika mengajukan visa lagi untuk ke Korea bisa jadi tidak di-approve karena ada di rombongan yang sama dengan Femas yang kabur," pungkas Wiky, Minggu (19/7/2026).

Bukan cuma itu, dampak paling memilukan dari ulah nekat Femas justru harus dipikul oleh ibunya yang tinggal di Madiun, MT (56). Ibu tunggal yang suaminya telah tiada sejak 2018 ini mendadak didatangi pihak agen travel yang menuntut pertanggungjawaban berupa uang ganti rugi dalam nominal yang fantastis bagi keluarganya.

"Pihak travel Berani Backpacker atau apa namanya itu datang ke sini minta agar saya tanggung jawab. Saya juga heran salah saya apa," papar MT terpukul.

Beban tagihan yang dituntut ke rumahnya di Kecamatan Wungu itu menyentuh angka Rp 50 juta. MT mengaku sangat syok karena ia sehari-hari hanya mengandalkan pendapatan dari kerja serabutan.

"Saya uang dari mana dimintai uang banyak. Bisa buat makan sehari-hari saja alhamdulillah. Saya kerja serabutan di pabrik porang musiman saat ini juga sudah selesai tidak beroperasi pabriknya. Kerja bersih-bersih rumah orang sehari Rp 60 ribu. Dulu masih ada suami buka toko kios pupuk sekarang sepi dan tutup," keluh MT.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads