Polemik di Rumah Sakit Islam (RSI) Universitas Islam Malang (Unisma) memasuki babak baru. Setelah ramai kabar pengunduran diri berjemaah sejumlah pegawai farmasi, layanan farmasi rawat inap di rumah sakit tersebut kini tidak lagi beroperasi di lantai 4 dan dipusatkan ke Instalasi Farmasi lantai 1.
Sebelumnya, aksi resign berjemaah itu viral di media sosial setelah diunggah salah satu mantan pegawai melalui akun TikTok. Unggahan tersebut memicu perhatian publik lantaran disertai pengakuan mengenai keterlambatan pembayaran gaji hingga dugaan pemotongan penghasilan yang menjadi pemicu para pegawai memilih mengundurkan diri.
Human Resources Development (HRD) RSI Unisma Nofa Diana membenarkan bahwa layanan farmasi rawat inap di lantai 4 telah ditutup. Namun, ia menegaskan penutupan tersebut bukan berarti pelayanan farmasi dihentikan, melainkan dipindahkan ke satu lokasi agar pelayanan tetap berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang benar pelayanan farmasi rawat inap lantai 4 kami tutup untuk dipindahkan pelayanannya menjadi satu pintu di Instalasi Farmasi," kata Nofa saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).
Menurut Nofa, seluruh kebutuhan obat pasien rawat inap kini dilayani melalui Instalasi Farmasi yang berada di lantai 1 gedung baru.
"Lokasinya di lantai 1, yang nantinya berada di bagian depan gedung baru," ungkapnya.
Saat ditanya mengenai kabar pengunduran diri pegawai, Nofa mengakui memang ada sejumlah karyawan yang memilih mengakhiri masa kerjanya di RSI Unisma. Namun, ia mengaku tidak mengingat jumlah pasti pegawai yang telah mengundurkan diri.
Pihak manajemen, lanjut dia, menghormati keputusan setiap pegawai untuk melanjutkan karier di tempat lain.
"Untuk teman-teman yang resign, kami dari manajemen menghormati pilihan teman-teman. Berkarier di mana pun kami sangat menghormati pilihannya," pungkasnya.
Kabar resign berjemaah pertama kali mencuat setelah akun TikTok @iniaku9395 mengunggah video kondisi ruang farmasi rawat inap yang tampak kosong serta foto kebersamaan tim farmasi.
Dalam unggahannya, pemilik akun menulis:
"Life after resign kerja di RS swasta selama 8 tahun."
Unggahan tersebut kemudian dibanjiri komentar warganet. Saat ditanya apakah benar terjadi resign berjemaah, pengunggah membenarkannya.
"Bener banget kak, kita semua resign berjamaah, alhasil tempat unit farmasi ranap (rawat inap) juga harus tutup," tulisnya.
Pada unggahan lainnya, ia mengaku bertahan bekerja selama bertahun-tahun karena menganggap rekan-rekan kerjanya sebagai keluarga.
"Bertahan selama itu karena aku punya teman yang menurut ku mereka adalah rumah kedua bagiku. Hiks sad banget kehilangan mereka," ungkapnya.
Menurutnya, alasan utama mengundurkan diri bukan karena beban pekerjaan.
"Bukan karena tekanan pekerjaan karena semua relatif dan masih sebanding dengan gajinya (Pada saat itu)," katanya.
Namun, ia menilai kebijakan manajemen berubah dan semakin memberatkan pegawai.
"Tapi makin bertahan kebijakan yang di bikin mereka semua makin gamasuk akal, kita banyak di dzolimi dan makin tidak manusiawi," ucapnya.
Ia juga mengungkap dugaan keterlambatan pembayaran gaji hingga pemotongan penghasilan yang dialami pegawai.
"Kita kerja di pelayanan dengan 3 shift dan kita juga yang lebih banyak di dzolimi sama mereka semua. Dari gaji yang awalnya di cicil, tidak dibayar selama 3 bulan, dan di pangkas hampir 50% dari total gaji keseluruhan. Padahal gaji NAKES pun ga seberapa," tuturnya.
Menurut pengakuannya, seluruh tim farmasi rawat inap akhirnya memilih mengundurkan diri pada Juli 2026.
"Dan di bulan Juli 2026, kita tim farmasi rawat inap memilih untuk mencari jalan kita masing-masing yang penting keluar dulu dari lingkaran setan yang mereka buat sendiri," tegasnya.
Ia juga berharap seluruh mantan pegawai segera memperoleh pekerjaan baru sekaligus mendapatkan hak-hak mereka.
"Hallo bapak ibu semua semoga kedepannya kalian bisa memperbaiki management yang sekarang lagi sakit ya karena kita sudah royal banget menjadi karyawan, kita bertahan juga bukan hanya hitungan hari atau bulan melainkan tahunan," pungkasnya.
Perselisihan hubungan industrial antara pegawai dan manajemen RSI Unisma sebelumnya juga telah mendapat perhatian Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang.
Disnaker memanggil manajemen RSI Unisma setelah menerima pengaduan dari para pegawai terkait dugaan keterlambatan pembayaran gaji dan pemotongan penghasilan.
Nofa membenarkan pihak rumah sakit telah memenuhi panggilan tersebut. Namun hingga kini proses penyelesaian perselisihan masih berjalan dan belum ada perkembangan lanjutan.
"Kami sudah memenuhi panggilan (Disnaker) tahap konfirmasi laporan. Belum ada panggilan lagi," ujar Nofa.
Meski layanan farmasi rawat inap di lantai 4 ditutup, manajemen memastikan pelayanan farmasi bagi pasien tetap berjalan melalui Instalasi Farmasi lantai 1 sambil proses penataan layanan dan penyelesaian persoalan ketenagakerjaan terus berlangsung.
