Gaji Tinggal Separuh Ditunggak 3 Bulan Picu Resign Berjemaah RSI Unisma

Gaji Tinggal Separuh Ditunggak 3 Bulan Picu Resign Berjemaah RSI Unisma

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 17 Jul 2026 12:45 WIB
Karyawan RSI Unisma resign berjemaah
Karyawan Farmasi Rawat Inap lantai 4 RSI Unisma yang resign berjemaah. (Foto: Tangkapan layar)
Malang -

Aksi resign berjemaah semua tim farmasi rawat inap di Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Kota Malang menjadi sorotan publik. Para pegawai mengambil keputusan itu tidak hanya karena beban kerja tetapi akumulasi kekecewaan mendalam terhadap rentetan kebijakan manajemen tentang gaji. Mulai dari 3 bulan ditunggah hingga potongan 50%.

Melalui curahan hati yang viral di media sosial, salah satu perwakilan mantan karyawan mengungkapkan bahwa ruang farmasi rawat inap terpaksa ditutup total karena mereka memilih angkat kaki secara bersama-sama pada Juli 2026.

Gaji Tinggal Separuh Ditunggak 3 Bulan

Faktor utama yang memicu gelombang pengunduran diri ini adalah masalah hak finansial yang terpangkas drastis. Para pegawai mengaku sistem pengupahan di rumah sakit swasta itu terus memburuk dari waktu ke waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya gaji mereka dibayar secara dicicil, selanjutnya mereka sempat tidak dibayar sama sekali selama 3 bulan. Puncaknya adalah kebijakan pemangkasan nominal gaji mencapai 50% alias separuh.

"Bukan karena tekanan pekerjaan karena semua relatif dan masih sebanding dengan gajinya (pada saat itu)," tulis akun @iniaku9395 dilihat detikJatim.

ADVERTISEMENT

".... Dari gaji yang awalnya di cicil, tidak dibayar selama 3 bulan, dan di pangkas hampir 50% dari total gaji keseluruhan. Padahal gaji NAKES pun ga seberapa," tuturnya.

Sistem Kerja 3 Shift

Di tengah ketidakpastian hak upah yang terus dipotong, beban kerja yang harus ditanggung tim farmasi dinilai tetap tinggi. Sebagai unit pelayanan vital, mereka dituntut siaga memutar roda operasional dengan skema 3 shift penuh tetapi tanpa kompensasi kesejahteraan sepadan.Kondisi ini yang dinilai mantan pegawai tidak sehat.

"Tapi makin bertahan kebijakan yang di bikin mereka semua makin gamasuk akal, kita banyak di dzolimi dan makin tidak manusiawi. Kita kerja di pelayanan dengan 3 shift dan kita juga yang lebih banyak di dzolimi sama mereka semua," tutur akun yang sama.

"Dan di bulan Juli 2026, kita tim farmasi rawat inap memilih untuk mencari jalan kita masing-masing yang penting keluar dulu dari lingkaran setan yang mereka buat sendiri," pungkas pengunggah video.

Rasa berat hati sebenarnya menyelimuti keputusan ini. Tim farmasi itu rata-rata sudah bekerja royal dalam hitungan tahunan-bahkan ada yang mencapai 8 tahun karena hubungan emosional antarkaryawan yang sudah erat layaknya keluarga sendiri.

Namun, loyalitas tersebut akhirnya patah setelah kebijakan manajemen dirasa tidak lagi berpihak pada kesejahteraan manusia di dalamnya.

"Bertahan selama itu karena aku punya teman yang menurut ku mereka adalah rumah kedua bagiku. Hiks sad banget kehilangan mereka," akunya dalam takarir foto kebersamaan yang diunggah.

"Hallo bapak ibu semua semoga kedepannya kalian bisa memperbaiki management yang sekarang lagi sakit ya karena kita sudah royal banget menjadi karyawan, kita bertahan juga bukan hanya hitungan hari atau bulan melainkan tahunan," cetusnya.

Tanggapan Singkat Manajemen Rumah Sakit

Di sisi lain, pihak manajemen RSI Unisma menyatakan belum mengantongi data pasti mengenai berapa total pegawai farmasi yang mengundurkan diri secara massal tersebut. Pihak manajemen berdalih saat ini masih berfokus penuh menjaga kestabilan pelayanan medis bagi pasien di rumah sakit pasca-kisruh internal ini mencuat.

"Untuk teman-teman yang resign, kami dari manajemen menghormati pilihan teman-teman. Berkarier dimanapun kami sangat menghormati pilihannya. Semoga mendapatkan kebaikan dimanapun berada," ujar Human Resources Development (HRD) RSI Unisma, Nofa Diana, saat dikonfirmasi.

"Ada beberapa yang resign, saya lupa totalnya. Karena beberapa hari ini kami fokus pada pelayanan rumah sakit, dan permasalahan yang sebelumnya terjadi," tutup Nofa yang juga membenarkan bahwa kasus pemotongan gaji ini sudah masuk tahap pemanggilan oleh Disnaker-PMPTSP Kota Malang.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads