Safar Bukan Bulan Sial, Ini 10 Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam

Safar Bukan Bulan Sial, Ini 10 Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam

Irma Budiarti - detikJatim
Selasa, 14 Jul 2026 13:00 WIB
Ilustrasi peristiwa-peristiwa penting di bulan Safar.
Ilustrasi peristiwa-peristiwa penting di bulan Safar. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Meski memiliki banyak catatan penting dalam sejarah Islam, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang menganggap Safar sebagai bulan sial atau bulan yang membawa kesialan.

Anggapan tersebut bahkan membuat sebagian orang menghindari menikah, bepergian, hingga memulai usaha pada bulan Safar. Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Justru berbagai kitab sirah hingga ulama menunjukkan bahwa bulan Safar menjadi saksi sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Mulai dari hijrah Rasulullah SAW, peperangan, hingga peristiwa pernikahannya dan keluarganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benarkah Safar Bulan Sial?

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki beragam kepercayaan yang dikaitkan dengan bulan-bulan tertentu, termasuk Safar. Sebagian meyakini Safar sebagai bulan yang membawa kesialan, musibah, dan berbagai keburukan.

ADVERTISEMENT

Dalam sejumlah riwayat, kata Safar bahkan dipahami sebagai penyakit yang bersarang di dalam perut atau angin panas yang dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit.

Kepercayaan tersebut kemudian berkembang menjadi anggapan bahwa Safar merupakan waktu yang tidak baik untuk menikah, bepergian, berdagang, maupun memulai pekerjaan penting.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan anggapan negatif mengenai bulan Safar telah berkembang sejak masa Arab pra-Islam dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat pada masa Rasulullah SAW.

Namun, Rasulullah SAW membantah keyakinan tersebut melalui sabda dan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, beberapa peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah SAW terjadi pada bulan Safar.

Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan dibantah langsung oleh Rasulullah SAW melalui sejumlah hadis sahih. Salah satunya dalam hadis riwayat Imam Muslim yang disebutkan sebagai berikut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: Dari Jabir Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya. (HR Muslim, no 4120)

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW kembali menjelaskan bahwa keyakinan masyarakat Jahiliah mengenai 'adwa, Safar, dan hammah tidaklah benar. Hadis tersebut berbunyi sebagai berikut.

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ

Artinya: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan)". Lalu, seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang, kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka, Nabi SAW bersabda, "Siapakah yang menulari yang pertama". (HR Bukhari, no 5278)

Melalui hadis-hadis tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada bulan yang secara zat membawa kesialan. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Karena itu, Islam tidak mengenal konsep bulan sial.

Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Safar

Catatan sejarah Islam menunjukkan bahwa bulan Safar menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya berkaitan dengan hijrah dan perjuangan menegakkan Islam.

Bahkan, menyangkut beberapa momen penting dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat. Berikut rangkumannya berdasarkan penjelasan MUI dan NU Online yang merujuk pada sejumlah kitab sirah.

1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah

Menurut Ibnu Ishaq, salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Safar adalah pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid sebelum diangkat menjadi nabi. Pernikahan tersebut menjadi awal terbentuknya keluarga yang kelak menjadi tempat pertama turunnya dukungan terhadap dakwah Islam.

SayyidahKhadijah juga tercatat sebagai orang pertama yang membenarkan kenabian Rasulullah SAW ketika wahyu pertama turun. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang dihindari untuk melaksanakan pernikahan.

2. Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah

Hijrah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam. Dalam Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, Rasulullah SAW memulai perjalanan hijrah dari Makkah pada akhir bulan Safar, kemudian tiba di Quba dan Madinah pada bulan Rabiulawal.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi titik awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah. Dari peristiwa inilah kemudian kalender Hijriah mengambil peristiwa hijrah sebagai awal penanggalannya.

3. Perang Al-Abwa, Ghazwah Pertama yang Dipimpin Rasulullah

Pada tahun pertama Hijriah, Rasulullah SAW memimpin Ghazwah Al-Abwa atau Waddan. Dalam sejarah Islam, ghazwah adalah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, berbeda dengan sariyah yang dipimpin para sahabat.

Meski tidak terjadi pertempuran besar, ekspedisi ini menjadi tonggak penting karena menunjukkan mulai terbentuknya kekuatan kaum muslimin setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.

4. Perang Dzu'Amr

Menurut riwayat Ibnu Ishaq, setelah kembali dari Perang Sawiq, Rasulullah SAW memimpin pasukan menuju wilayah Najd untuk menghadapi Kabilah Ghathafan. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Perang Dzu'Amr.

Rasulullah SAW bersama sekitar 450 sahabat menetap di wilayah tersebut selama bulan Safar. Ekspedisi ini menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan Madinah dari ancaman suku-suku yang berpotensi menyerang kaum muslimin.

5. Penaklukan Khaibar

Dalam Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi dijelaskan setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW memimpin pasukan menuju Khaibar. MUI menyebut perjalanan tersebut berlangsung hingga bulan Safar tahun ketujuh Hijriah.

Dengan sekitar 1.400 pasukan dan 200 penunggang kuda, kaum muslimin berhasil menaklukkan benteng-benteng penting di Khaibar. Kemenangan ini memperkuat posisi kaum muslimin di Jazirah Arab sekaligus mengurangi ancaman dari pihak-pihak yang memusuhi Madinah.

6. Islamnya Amr bin Ash

Amr bin Ash dikenal sebagai salah seorang tokoh Quraisy yang cerdas dan memiliki kemampuan strategi militer. Menurut riwayat Ibnu Ishaq, ia memeluk Islam pada bulan Safar tahun kedelapan Hijriah setelah mendapat pengaruh dari Raja Najasyi (Negus) di Habasyah.

Setelah memeluk Islam, Amr bin Ash menjadi salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berjasa besar dalam penyebaran Islam. Ia kemudian dikenal sebagai panglima yang berhasil memimpin penaklukan Mesir.

7. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib

Selain pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah, bulan Safar juga menjadi saksi pernikahan putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib. Ibnu Katsir menyebut pernikahan itu berlangsung pada tahun kedua Hijriah.

Pernikahan Fatimah dengan Ali menjadi awal terbentuknya keluarga yang kelak melahirkan Hasan dan Husain, dua cucu Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.

8. Kedatangan Utusan Bani Udzrah

Menurut Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, pada tahun kesembilan Hijriah, datang utusan dari Bani Udzrah yang berjumlah 12 orang menghadap Rasulullah SAW.

Kedatangan mereka merupakan bagian dari gelombang delegasi berbagai kabilah Arab yang menyatakan masuk Islam setelah penaklukan Makkah dan Perang Tabuk. Rasulullah SAW menyambut mereka dengan baik sekaligus mengajarkan agar meninggalkan praktik perdukunan dan kebiasaan-kebiasaan jahiliah.

9. Ekspedisi Qutbah bin Amir bin Hadidah

Pada bulan Safar tahun kesembilan Hijriah, Rasulullah SAW mengutus Qutbah bin Amir bin Hadidah memimpin sekitar 20 pasukan menuju wilayah yang dihuni Suku Khas'am. Ekspedisi ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas dan keamanan wilayah dakwah Islam yang terus berkembang pada masa itu.

10. Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid ke Romawi

Salah satu peristiwa penting menjelang wafat Rasulullah SAW adalah penunjukan Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan yang akan bergerak menuju wilayah Romawi pada tahun ke-11 Hijriah.

Menurut Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, keputusan Rasulullah SAW tersebut sempat dipertanyakan sebagian sahabat karena usia Usamah masih relatif muda.

Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa Usamah layak menjadi pemimpin sebagaimana ayahnya dahulu. Peristiwa ini mengajarkan kepemimpinan dalam Islam didasarkan pada kemampuan dan amanah, bukan semata-mata usia atau kedudukan.

Hikmah Peristiwa di Bulan Safar

Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang identik dengan kesialan. Sebaliknya, Safar menjadi saksi perjalanan penting dalam sejarah Islam, mulai dari pembentukan keluarga Rasulullah SAW, hijrah, perjuangan mempertahankan dakwah, hingga penyebaran Islam ke berbagai wilayah.

Banyak peristiwa besar justru terjadi pada bulan Safar. Hal ini menjadi pengingat bahwa umat Islam tidak sepatutnya mempercayai mitos bulan sial yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih.

Sebaliknya, bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperdalam pemahaman terhadap sejarah Islam, serta mengambil hikmah dari keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menghadapi berbagai ujian dengan penuh keimanan dan kesabaran.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads