- Bulan Safar 2026 Mulai Kapan? 1. Versi Pemerintah 2. Versi Nahdlatul Ulama 3. Versi Muhammadiyah
- Sejarah dan Asal-usul Nama Bulan Safar
- Mitos Bulan Safar pada Masa Jahiliyah
- Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan?
- Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Safar 1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA 2. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib 3. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah 4. Perang Al-Abwa (Waddan) 5. Penaklukan Khaibar 6. Pengutusan Usamah bin Zaid
- Apakah Ada Amalan Khusus di Bulan Safar? 1. Meningkatkan Amal Kebaikan dan Kepedulian Sosial 2. Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh 3. Memperbanyak Doa dan Zikir
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Menjelang pergantian bulan Hijriah, banyak umat Islam mulai mencari tahu kapan Safar 1448 Hijriah dimulai, sekaligus memahami sejarah dan berbagai mitos yang selama ini melekat pada bulan tersebut.
Di balik penamaannya, Safar memiliki sejarah panjang sejak masa Arab pra-Islam. Namun, Islam meluruskan berbagai anggapan keliru, termasuk mitos bahwa Safar merupakan bulan yang membawa kesialan.
Bulan Safar 2026 Mulai Kapan?
Pada tahun 2026, kalender Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU) menunjukkan 1 Safar 1448 Hijriah jatuh pada tanggal yang sama, berbeda satu hari dengan Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan tersebut terjadi karena Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sedangkan pemerintah dan NU menggunakan metode penetapan yang berbeda. Berikut jadwal awal bulan Safar 1448 Hijriah versi pemerintah, NU, dan Muhammadiyah.
1. Versi Pemerintah
- 1 Safar 1448 Hijriah: Kamis 16 Juli 2026
- 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis 13 Agustus 2026
2. Versi Nahdlatul Ulama
- 1 Safar 1448 Hijriah: Kamis 16 Juli 2026
- 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis 13 Agustus 2026
3. Versi Muhammadiyah
- 1 Safar 1448 Hijriah: Rabu 15 Juli 2026
- 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis 13 Agustus 2026
Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Setelah berakhirnya Safar, umat Islam akan memasuki bulan Rabiulawal yang dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sejarah dan Asal-usul Nama Bulan Safar
Mengutip penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Safar memiliki dua makna. Dalam Lisanul 'Arab karya Ibnu Mandzur, Safar dapat berarti kosong (shafar) atau warna kuning (shufrah).
Penamaan Safar dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa dahulu yang meninggalkan rumah mereka untuk berperang maupun bepergian jauh sehingga perkampungan menjadi kosong.
Pendapat tersebut juga disebutkan dalam kitab Al-Mufasshal fi Tarikhil 'Arab Qablal Islam. Saat itu masyarakat yang ditinggalkan berkata: "Shafira an-Nasu minna shafaran (orang-orang mengosongkan kota (meninggalkan) kita sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta)," (Juz 6, hal 120).
Mitos Bulan Safar pada Masa Jahiliyah
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki berbagai keyakinan tentang bulan Safar. Salah satu yang paling terkenal adalah anggapan bahwa Safar merupakan bulan yang membawa kesialan.
Sebagian masyarakat meyakini Safar sebagai penyakit yang bersarang di dalam perut. Ada pula yang menganggap Safar sebagai angin panas yang dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit.
Akibat kepercayaan tersebut, tidak sedikit orang yang menghindari bepergian, menikah, hingga memulai pekerjaan penting pada bulan Safar karena dianggap akan mendatangkan keburukan.
Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan?
Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan dibantah oleh Rasulullah SAW melalui sejumlah hadis. Salah satunya diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ
Artinya: Dari Jabir Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya. (HR Muslim, no 4120)
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW kembali menjelaskan bahwa keyakinan masyarakat Jahiliah mengenai 'adwa, Safar, dan hammah tidaklah benar. Hadis tersebut berbunyi sebagai berikut.
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ
Artinya: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan)". Lalu, seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang, kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka, Nabi SAW bersabda, "Siapakah yang menulari yang pertama". (HR Bukhari, no 5278)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena adanya kesialan pada bulan tertentu. Karena itu, Islam tidak mengenal konsep bulan sial. Semua bulan memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah SWT.
Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Safar
Bulan Safar bukan hanya dikenal karena sejarah penamaannya dan mitos yang berkembang di masyarakat Arab sebelum Islam. Dalam sejarah Islam, bulan ini juga menjadi waktu terjadinya sejumlah peristiwa penting yang melibatkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Berikut beberapa di antaranya.
1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA
Menurut NU Online, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah terjadi pada bulan Safar, sebelum ia diangkat menjadi nabi. Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidup Rasulullah karena Khadijah kelak menjadi orang pertama yang membenarkan dakwah Islam.
2. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib
Rasulullah SAW juga menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Safar. Pernikahan ini menjadi salah satu peristiwa bersejarah dalam keluarga Rasulullah.
3. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah
Beberapa ulama menjelaskan bahwa Rasulullah memulai perjalanan hijrah dari Makkah pada akhir bulan Safar sebelum akhirnya tiba di Madinah pada bulan Rabiulawal. Hijrah menjadi titik awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah sekaligus menjadi dasar penanggalan Hijriah.
4. Perang Al-Abwa (Waddan)
Perang Al-Abwa atau Ghazwah Waddan dikenal sebagai ekspedisi militer pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Meskipun tidak terjadi pertempuran, ekspedisi ini menghasilkan perjanjian damai dengan Bani Dhamrah dan menjadi awal strategi pertahanan kaum muslimin.
5. Penaklukan Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 pasukan menuju Khaibar dan berhasil menaklukkan benteng-benteng Yahudi di wilayah tersebut. Sejumlah riwayat menyebut peristiwa ini berlangsung pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah.
6. Pengutusan Usamah bin Zaid
Beberapa hari menjelang wafatnya Rasulullah SAW pada tahun ke-11 Hijriah, ia mengutus Usamah bin Zaid memimpin pasukan menuju wilayah Romawi. Perintah ini menunjukkan pentingnya melanjutkan dakwah dan menjaga keamanan kaum muslimin.
Apakah Ada Amalan Khusus di Bulan Safar?
Dalam Islam, tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan hanya karena memasuki bulan Safar. Anggapan bahwa Safar merupakan bulan sial juga telah dibantah Rasulullah SAW melalui sejumlah hadis.
Meski demikian, bulan Safar tetap merupakan bagian dari kalender Hijriah yang dapat diisi dengan berbagai amal saleh sebagaimana bulan-bulan lainnya. Dikutip dari NU Online Lampung, ada beberapa amalan yang dapat dilakukan umat Islam selama bulan Safar untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
1. Meningkatkan Amal Kebaikan dan Kepedulian Sosial
Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk memperbanyak amal kebajikan, seperti bersedekah, membantu sesama, serta mempererat hubungan sosial. Dalam Islam, amal saleh dan sedekah merupakan amalan yang dianjurkan kapan pun, termasuk pada bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى مِنْبَرِهِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا إِلَيْهِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ وَبِكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ، وَالْعَلَانِيَّةِ، تُؤْجَرُوا، وَتُنْصَرُوا، وَتُرْزَقُوا
Artinya: Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda saat ia berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rizki.
2. Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh
Salah satu amalan sunah yang dapat dilakukan pada bulan Safar adalah puasa Ayyamul Bidh, yakni puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Karena termasuk amalan sunah bulanan, puasa ini dapat dikerjakan pada bulan apapun, termasuk Safar. Rasulullah SAW bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Artinya: Hai Abu Dzar, "Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
Artinya: Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan sholat duha, dan mengerjakan sholat witir sebelum tidur.
3. Memperbanyak Doa dan Zikir
Selain memperbanyak amal saleh, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak doa dan zikir kepada Allah SWT. Hal ini merupakan amalan yang baik dilakukan setiap waktu, termasuk pada bulan Safar.
Di kalangan sebagian umat Islam dikenal doa yang biasa dibaca pada bulan Safar sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya: Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan. Ya Tuhan Yang Maha Mulia dan karena kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu. Ya Tuhan Yang Maha Baik. Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan. Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau. Kasihanilah aku dengan Rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, serta kakeknya dan ayahnya, ibunya dan keturunannya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya. Wahai Zat Yang Maha Mencukupi harapan dan Menolak bala', cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya. Cukuplah Allah tempat kami bersandar, tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw. beserta keluarganya dan para sahabatnya.
