Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mendorong para mubaligah dan bu nyai untuk bertransformasi dalam menyampaikan syiar Islam. Khofifah mengajak Muslimat NU mulai beralih dari dakwah konvensional ke ranah digital demi menjaga relevansi di era modern.
Gubernur Jawa Timur ini menilai, format digital membuat dakwah lebih fleksibel dan tak terbatas oleh ruang dan waktu. Menurutnya, inovasi ini menjadi kebutuhan mutlak agar pesan keagamaan bisa diakses kapan saja.
"Para bu nyai itu sebetulnya memiliki keinginan melakukan transformasi dari dakwah secara konvensional ke dakwah secara digital. Saya selalu mendiskusikan ini karena (dakwah digital) sudah pasti bisa diakses 24 jam, di mana dan kapan saja," kata Khofifah usai menghadiri Silaturahim Hidmat & IHM Muslimat NU Jawa Timur di Kota Batu, Sabtu (11/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Khofifah, sistem dakwah digital sebenarnya bukan hal baru bagi Muslimat NU. Embiro digitalisasi ini sudah mulai diasah sejak badai pandemi COVID-19 melanda, di mana banyak anggota yang mengikuti pelatihan secara mandiri.
Namun, proses ini dinilai masih perlu pendalaman dan pendampingan yang berkelanjutan. Dengan peningkatan kapasitas teknologi, Khofifah optimistis para pendakwah Muslimat NU bisa melahirkan banyak inovasi segar.
Salah satunya adalah menyasar segmen anak-anak lewat visual yang menarik.
"Misalnya membuat konten berformat kartun dalam menyampaikan pesan keagamaan maupun keilmuan kepada anak-anak," jelas Khofifah.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan pentingnya kemampuan pendakwah dalam memetakan target jemaah, terutama dalam mendekati Generasi Z. Menurutnya, memahami tren, keresahan, serta gaya bahasa anak muda zaman sekarang adalah kunci agar pesan dakwah bisa diterima dengan baik.
"Teman-teman harus menyentuh kebutuhan Gen Z, misal penggunaan bahasanya sehingga ada harapan baru. Terus apabila ada yang susah mendapatkan pekerjaan, disentuh dengan motivasi," tuturnya.
Di sisi lain, Khofifah juga menyoroti melejitnya teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI). Ia memandang kehadiran AI sebagai sebuah keniscayaan yang harus dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan membangun pemikiran yang objektif.
Kendati menawarkan segudang kemudahan, Khofifah memberikan catatan tebal dan wanti-wanti agar penggunaan AI tetap diawasi secara bijak agar tidak memicu konflik di tengah masyarakat.
"Kalau dipakai untuk kebenaran jelas tidak ada persoalan. Jadi jangan dimanfaatkan menyebarkan hoaks maupun mencederai harkat dan martabat manusia, siapa pun itu orangnya," tandasnya.
