Mbah Sojo (66), seorang lansia warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, Nganjuk harus bertahan hidup seorang diri di rumah reyot tak layak huni. Rumah itu tidak memiliki dapur dan temboknya sudah pernah ambruk sehingga rawan bila terkena angin kencang.
Pantauan detikJatim saat berkunjung ke rumah Mbah Sojo, atap rumah yang berada di dalam gang sempit itu berlubang-lubang. Beberapa bagian atapnya bahkan sudah ambrol. Dindingnya pun rapuh dan rawan roboh sewaktu-waktu.
"Kalau hujan itu bocor semua," ujar Mbah Sojo, Jumat (10/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah tak layak huni itu sudah ditempati Mbah Sojo selama lebih dari 20 tahun. Rasa cemas juga selalu menghantui ketika angin kencang datang karena sebagian tembok rumahnya, yang sebelumnya difungsikan sebagai kandang, pernah ambruk diterjang angin.
"Sudah pernah roboh temboknya," kenangnya.
Di usia yang tak lagi muda, Mbah Sojo menjalani hidup seorang diri. Kedua anaknya telah berkeluarga dan tinggal bersama suami masing-masing. Sementara dirinya juga sudah lama berpisah dengan sang istri.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mbah Sojo bekerja serabutan. Ia mencari rumput untuk pakan ternak milik orang lain. Sojo mengaku juga bekerja serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang ditawarkan warga.
"Nggak punya dapur karena sudah roboh. Kalau makan di warung atau kadang-kadang dapat kiriman makanan dari saudara," imbuhnya.
Rumah yang ditempati Mbah Sojo hingga kini juga belum memiliki sambungan listrik sendiri. Saat malam tiba, penerangan hanya berasal dari satu lampu yang dialiri listrik dari rumah sepupunya di depan.
"Tidak punya listrik. Ini ada lampu dialiri kabel dari tetangga rumah di depan, rumah milik sepupu. Dari dulu memang tidak pernah pasang listrik," ungkapnya.
Saat beristirahat, Mbah Sojo pun tidak memiliki kasur. Ia hanya membentangkan tikar sebagai alas tidur di lantai rumah yang mulai lapuk dimakan usia.
Selama ini Mbah Sojo mengaku belum pernah menikmati perbaikan ataupun renovasi. Padahal, ia telah mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah, tapi hingga kini belum juga terealisasi.
Bantuan yang pernah diterimanya hanya berupa sembako dan bantuan uang tunai sebesar Rp900 ribu yang baru diterima satu kali.
"Belum pernah direnovasi. Sebenarnya sudah pernah mengajukan, tapi belum dapat. Beberapa tahun lalu pernah dapat bantuan beras sama uang Rp900 ribu," pungkasnya.
(irb/dpe)
