Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengajak keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor menjadikan usia satu abad sebagai pijakan untuk melahirkan pembaruan. Menurutnya, momentum 100 tahun bukan sekadar dirayakan sebagai capaian sejarah, tetapi harus menjadi awal menghadirkan gagasan baru yang menjawab tantangan zaman.
Pesan itu disampaikan UAH saat mengisi tabligh akbar dalam rangka peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dan Milad ke-63 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor di Kampus UNIDA, Kecamatan Siman, Ponorogo, Kamis (9/7/2026) malam.
Di hadapan ribuan santri, mahasiswa, guru, alumni, hingga masyarakat yang memadati lapangan kampus, UAH mengutip hadis Nabi Muhammad saw tentang hadirnya seorang mujaddid atau pembaru agama pada setiap pergantian satu abad.
"Seratus tahun Gontor bukan sekadar pencapaian yang harus disyukuri, bukan sekadar hadiah yang harus dinikmati. Tetapi 100 tahun itu menjadi pijakan dari hadis Nabi untuk menyusun kebaruan-kebaruan yang dibutuhkan masyarakat pada era sekarang," kata UAH.
Menurutnya, memasuki abad kedua, Gontor memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan Islam yang melahirkan gagasan, inovasi, dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
UAH juga membagikan pengalamannya saat mengikuti forum ulama internasional di Malaysia bersama mantan Mufti Mesir, Syekh Ali Jum'ah. Dari forum tersebut, ia belajar bahwa sebuah daerah dapat dikenal dunia bukan semata karena wilayahnya, melainkan karena ilmu dan tokoh yang lahir dari tempat tersebut.
"Hari ini orang mengenal Gontor, Ponorogo. Itu menunjukkan sebuah tempat bisa dikenal karena amal dan ilmu yang lahir darinya," ujarnya.
Ia berharap Pondok Modern Darussalam Gontor terus melahirkan ulama, cendekiawan, serta pemimpin umat yang mampu menjadi rujukan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Baca juga: Refleksi 1 Abad Ponpes Gontor Ponorogo |
Sementara itu, Rektor UNIDA Gontor KH Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, tabligh akbar tersebut merupakan salah satu rangkaian syiar menyambut puncak peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.
Hamid menyebut menghadirkan tokoh nasional dalam momentum besar telah menjadi tradisi Gontor. Sebelum UAH, sejumlah dai nasional juga pernah mengisi tabligh akbar di kampus tersebut.
"Malam ini adalah syiar. Kalau sebelumnya ada hidangan untuk kebutuhan jasmani, malam ini adalah hidangan untuk hati dan jiwa kita. Mudah-mudahan pertemuan ini membawa keberkahan bagi semuanya," ujar Hamid.
Hamid juga mengapresiasi kesediaan UAH memenuhi undangan Gontor meski baru kembali dari Jepang. Menurutnya, kehadiran UAH menjadi penutup rangkaian syiar menuju puncak peringatan 100 tahun Gontor.
"Semoga momentum ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi semakin menguatkan tradisi keilmuan, adab, dan pengabdian yang selama ini menjadi ruh Pondok Modern Darussalam Gontor," pungkasnya.
Simak Video "Video: Kemeriahan Larungan Telaga Ngebel, Ikan Nila 3 Kuintal Jadi Rebutan"
(hil/abq)