Bediding di Jawa Timur Sampai Kapan? Ini Tips Menghadapinya

Bediding di Jawa Timur Sampai Kapan? Ini Tips Menghadapinya

Irma Budiarti - detikJatim
Rabu, 01 Jul 2026 15:30 WIB
Ilustrasi bediding di Jawa Timur.
Ilustrasi bediding di Jawa Timur. Foto: Gemini AI.
Surabaya -

Musim kemarau identik dengan cuaca panas pada siang hari. Namun, di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa, masyarakat justru merasakan udara yang jauh lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding.

Bediding merupakan fenomena alam yang terjadi hampir setiap tahun ketika musim kemarau berlangsung. Meski suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya, BMKG menegaskan kondisi ini bukanlah cuaca ekstrem, melainkan bagian dari siklus musim kemarau yang normal.

Apa Itu Bediding?

Berdasarkan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding adalah kondisi ketika suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan kondisi normal yang terjadi pada musim kemarau di wilayah Indonesia bagian selatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang berarti udara terasa dingin atau menusuk. Dalam kajian klimatologi, istilah ini digunakan masyarakat untuk menggambarkan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga menjelang pagi saat musim kemarau.

Suhu terdingin di Jawa Timur dalam 30 tahun terakhir mencapai 11,4 derajat Celsius, yang terjadi pada Agustus 1994. Data tersebut menunjukkan penurunan suhu saat kemarau memang merupakan fenomena yang telah lama terjadi dan berulang setiap tahun di wilayah tertentu.

ADVERTISEMENT

Mengapa Bediding Terjadi?

BMKG menegaskan bediding bukan fenomena cuaca ekstrem, melainkan fenomena alam yang normal terjadi setiap musim kemarau. Bediding terjadi karena kombinasi beberapa kondisi atmosfer yang khas saat musim kemarau. Pada musim kemarau, langit cenderung cerah dan jumlah awan sangat sedikit.

Berkurangnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari melalui proses radiasi (radiative cooling). Akibatnya, suhu udara turun lebih rendah dibandingkan hari-hari biasa.

Selain itu, fenomena ini diperkuat angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju Indonesia. Karena kandungan uap air di atmosfer lebih sedikit, udara menjadi lebih mudah kehilangan panas sehingga malam dan dini hari terasa semakin dingin.

Kapan Bediding Terjadi, Sampai Kapan?

Fenomena bediding umumnya dirasakan di wilayah Indonesia bagian selatan yang memasuki musim kemarau, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Di daerah pegunungan atau dataran tinggi, suhu dapat turun lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah. Bahkan dalam kondisi tertentu dapat muncul embun es (frost), seperti yang beberapa kali terjadi di kawasan Bromo maupun Dieng.

Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding umumnya berlangsung selama musim kemarau, yaitu Juni hingga September. Dengan demikian, masyarakat di Jawa Timur masih berpotensi merasakan udara dingin pada malam dan pagi hari selama periode tersebut.

Meski demikian, puncak bediding biasanya terjadi pada Agustus, ketika suhu udara mencapai titik terendah. Di beberapa wilayah, terutama dataran tinggi, kondisi udara dingin bahkan dapat bertahan hingga September, tergantung pada perkembangan musim kemarau.

Ciri-ciri Bediding

Fenomena bediding memiliki sejumlah karakteristik yang mudah dikenali, terutama saat musim kemarau sedang berlangsung. Selain ditandai dengan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari, kondisi ini juga disertai perubahan cuaca khas akibat minimnya tutupan awan dan rendahnya kelembapan udara.

  • Suhu udara pada pagi dan malam hari terasa lebih dingin dari biasanya.
  • Kelembapan udara relatif rendah.
  • Langit cerah atau hanya sedikit berawan pada siang hari, sedangkan malam hari cenderung cerah.
  • Curah hujan sangat rendah atau bahkan hampir tidak terjadi hujan.

Kondisi tersebut membuat perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi cukup besar. Siang hari dapat terasa sangat panas, sementara malam hingga dini hari menjadi cukup dingin.

Dampak Bediding

Bediding merupakan fenomena alam yang lazim terjadi setiap musim kemarau. Meski bukan termasuk cuaca ekstrem, penurunan suhu udara yang cukup signifikan tetap dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama ketika berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.

BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebutkan bahwa dampak bediding tidak hanya dirasakan masyarakat dari sisi kesehatan, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan peternakan. Berikut sejumlah dampak bediding yang perlu diwaspadai.

1. Kesehatan

Udara yang lebih dingin dapat mempengaruhi kenyamanan tubuh, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan. Suhu dingin juga dapat memperparah keluhan asma atau infeksi saluran pernapasan pada sebagian orang.

2. Pertanian

Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, suhu yang sangat rendah di dataran tinggi berpotensi memunculkan embun es atau frost yang dapat merusak tanaman sensitif, seperti sayuran, bunga, dan berbagai komoditas hortikultura.

3. Peternakan

Suhu dingin juga dapat menyebabkan stres pada ternak. Jika berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit hingga kematian pada hewan ternak.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Bediding?

BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengimbau masyarakat melakukan sejumlah langkah antisipasi agar tetap nyaman beraktivitas selama fenomena bediding berlangsung. Berikut tips yang dapat dilakukan.

  • Mengenakan pakaian yang lebih hangat, terutama pada malam dan pagi hari.
  • Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan beristirahat cukup.
  • Melindungi tanaman rentan menggunakan naungan atau plastik mulsa apabila berada di daerah yang berpotensi mengalami embun es.
  • Memastikan kandang ternak tertutup dengan baik sehingga suhu tetap hangat.
  • Rutin memantau informasi cuaca dari BMKG agar mengetahui perkembangan kondisi atmosfer selama musim kemarau.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads