Kelangkaan solar di jalur arteri Mojokerto membuat para sopir truk menjerit. Selain harus mengantre berjam-jam di SPBU tanpa kepastian, mereka juga harus rela kehilangan sebagian penghasilan hingga terlambat bongkar muatan.
Antrean truk salah satunya terjadi di SPBU Jampirogo, Jalan Bypass Mojokerto. Para sopir mengantre di pom bensin ini tanpa kepastian. Betapa tidak, setelah mengantre berjam-jam, mereka harus gigit jari karena biosolar habis. Para sopir truk pun bubar untuk berburu biosolar di SPBU yang lain.
Seperti yang dirasakan Eka Prasetyo, sopir truk es batu asal Trowulan, Mojokerto. Setelah mengantre sekitar 2 jam, ternyata biosolar di SPBU Jampirogo habis. Padahal, ia berpacu dengan waktu mengirim es batu ke Sidoarjo agar tak mencair di jalan. Sedangkan kemarin, ia mendapatkan biosolar di pom bensin yang sama setelah antre sekitar 3 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hampir 2 jam antre solar, engga dapat karena habis. Cari sudah 3 SPBU ini, tidak dapat. Tidak tahu mau bagaimana," kata Eka kepada detikJatim di lokasi, Kamis (25/6/2026).
Bowo (30) juga merasakan nasib yang sama sebab harus menemani sopirnya mengantre biosolar di SPBU Jampirogo sejak pukul 08.30 WIB. Setelah menunggu hingga pukul 10.30 WIB, kernet truk besi ini gagal mendapatkan solar. Sebab pom bensin di Jalan Bypass Mojokerto ini juga kehabisan stok.
"Terpaksa antre di sini karena solar di SPBU lainnya habis. Ini belum tahu mau beli di mana," ujarnya.
Sulitnya mencari biosolar membuat jam kerja Bowo tak menentu. Ia terpaksa pulang malam tanpa upah lembur karena waktunya banyak terbuang untuk mengantre di SPBU. Padahal, biasanya ia pulang kerja sore setelah kirim besi dari Mojokerto ke para konsumen.
"Solar sulit sejak Senin, saat itu saya terpaksa isi Petamina Dex di SPBU Jampirogo. Kalau kemari dapat biosolar di SPBU ini setelah antre jam 09.30 sampai 11.30. Harapannya stoknya terjamin, kalau seperti ini sama bingungnya," terangnya.
Antrean panjang truk dan mobil pribadi juga terjadi di SPBU Jatipasar jalur arteri Mojokerto ke Jombang. Rata-rata para sopir harus mengantre sekitar 2 jam untuk membeli biosolar di pompa bensin ini. Salah satu sopir truk, Adi mengaku sulit mendapatkan biosolar sejak 2 hari lalu.
"Harapannya (biosolar) ini kan untuk perputaran ekonomi, jadi jangan sampai telat (pengiriman dari Pertamina ke SPBU)," cetus sopir truk sembako asal Desa Jampirogo, Sooko, Mojokerto ini.
Para sopir truk juga mengantre di SPBU Balongmojo, Jalan Bypass Mojokerto. Mereka menyerbu 8.000 liter biosolar yang baru datang dari Pertamina sekitar pukul 09.00 WIB. Stok tersebut ludes tak sampai 24 jam.
"Biosolar di sini setiap hari ada, tapi habis dalam hitungan jam. Antrean panjang karena di SPBU lainnya habis," ungkap pegawai SPBU Balongmojo, Saniman.
Bahkan, ada juga sopir truk yang terpaksa bermalam di SPBU karena menunggu ketersediaan biosolar. Itulah yang dirasakan Eko, sopir truk muat karton dari PT Tjiwi Kimia. Ia bermalam di SPBU Meri, Jalan Bypass Mojokerto sejak Rabu (24/6) sekitar pukul 21.00 WIB.
Karena stok solar di truknya sudah menipis. Sedangkan ia harus mengirim karton ke Pandaan, Pasuruan. Kelangkaan solar bersubsidi membuat ia terlambat bongkar muatan. Tidak hanya itu, penghasilannya juga ikut menguap selama menunggu ketersediaan biosolar.
"Bayaran habis untuk makan, kopi dan rokok. Solar langka sudah 2 hari ini. Harapannya BBM kembali lancar," jelasnya.
Bahkan, Trans Jatim trayek Surabaya-Mojokerto juga terdampak kelangkaan biosolar. Sebab jam kedatangan dan keberangkatan bus harus mundur karena sopir harus mengantre isi solar di SPBU.
"Dampaknya penumpang lari karena kelamaan menunggu di halte. Karena waktunya mundur. Kami kan gaji UMK, terserah saja," tandasnya.
Pantauan detikJatim, stok biosolar di 3 SPBU jalur arteri Mojokerto benar-benar kosong. Yaitu SPBU Gemekan, SPBU Jambuwok dan SPBU Jatipasar jalur Jombang-Mojokerto.
(auh/abq)
