- Mengapa Kisah Nabi Musa Selalu Dikaitkan dengan 10 Muharram?
- Kisah Nabi Musa Selamat dari Kejaran Fir'aun Dakwah Nabi Musa Membuat Fir'aun Murka Nabi Musa dan Bani Israil Terjebak di Tepi Laut Mukjizat Laut Terbelah dan Tenggelamnya Fir'aun
- Bagaimana Peristiwa Ini Menjadi Asal-usul Puasa Asyura?
- Hikmah Kisah Nabi Musa pada Hari Asyura
Hari Asyura atau 10 Muharram merupakan hari istimewa dalam Islam. Pada hari ini, muslim dianjurkan menjalankan puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar. Namun, tidak sedikit yang belum mengetahui anjuran puasa tersebut berkaitan erat dengan kisah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.
Peristiwa yang diabadikan dalam Al-Qur'an ini menjadi simbol kemenangan iman atas kezaliman. Bahkan, Rasulullah SAW menjelaskan puasa Asyura berakar dari rasa syukur Nabi Musa atas pertolongan Allah. Lalu, bagaimana kisah tersebut dan mengapa menjadi asal-usul puasa Asyura?
Mengapa Kisah Nabi Musa Selalu Dikaitkan dengan 10 Muharram?
Dilansir NU Online, dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA disebutkan ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, ia mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Mereka menjelaskan hari tersebut adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir'aun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa dalam ketaatan kepada Allah. Karena itu, ia ikut berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya.
هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya: Allah telah melepaskan Musa dan umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah. Nabi bersabda: "Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka". Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga. (HR Bukhari; No: 1865 & Muslim, No: 1910).
Kisah Nabi Musa Selamat dari Kejaran Fir'aun
Kisah ini bermula ketika para ahli nujum menyampaikan kabar bahwa kekuasaan Fir'aun kelak akan runtuh oleh seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil. Karena takut kehilangan tahta dan kekuasaannya, Fir'aun memerintahkan agar setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil dibunuh.
Kebijakan kejam tersebut menjadi salah satu bentuk penindasan terbesar yang dialami kaum Bani Israil pada masa itu. Di tengah situasi tersebut, Nabi Musa AS lahir.
Atas pertolongan Allah, Musa kecil berhasil selamat dari pembantaian yang diperintahkan Fir'aun. Bahkan, ia kemudian dibesarkan di lingkungan istana dan diasuh Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun yang dikenal beriman kepada Allah.
Dakwah Nabi Musa Membuat Fir'aun Murka
Setelah diangkat menjadi nabi, Musa AS diperintahkan Allah untuk mengajak Fir'aun dan kaumnya menyembah Allah serta meninggalkan kesyirikan. Namun, Fir'aun menolak dakwah tersebut.
Ia bahkan menganggap dirinya sebagai penguasa tertinggi dan terus menindas Bani Israil. Seiring waktu, ajaran Nabi Musa semakin banyak mendapat simpati sehingga membuat Fir'aun merasa kekuasaannya terancam.
Kemarahan Fir'aun memuncak ketika Nabi Musa memimpin Bani Israil keluar dari Mesir. Fir'aun kemudian mengerahkan pasukan besar untuk mengejar mereka.
Nabi Musa dan Bani Israil Terjebak di Tepi Laut
Dalam perjalanan hijrah tersebut, Nabi Musa dan kaumnya sampai di tepi laut. Di hadapan mereka terbentang lautan luas, sementara pasukan Fir'aun terus mendekat dari belakang.
Situasi itu membuat sebagian pengikut Nabi Musa merasa takut dan putus asa. Mereka mengira tidak ada jalan keluar dari kepungan tersebut.
Allah mengabadikan keyakinan Nabi Musa dalam firman-Nya: "Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS Asy-Syu'ara: 62)
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang keteguhan iman di tengah kondisi yang tampak mustahil untuk diselesaikan.
Mukjizat Laut Terbelah dan Tenggelamnya Fir'aun
Ketika Nabi Musa berada dalam keadaan terdesak, Allah mewahyukan kepadanya agar memukulkan tongkat ke laut. Allah berfirman:
وَلَقَدۡ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى مُوۡسٰٓى اَنۡ اَسۡرِ بِعِبَادِىۡ فَاضۡرِبۡ لَهُمۡ طَرِيۡقًا فِى الۡبَحۡرِ يَبَسًا ۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخۡشٰى
Artinya: Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, "Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yang kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam). (QS Taha : 77)
Dalam ayat lain Allah menjelaskan: "Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar". (QS Asy-Syu'ara: 63)
Atas izin Allah, laut pun terbelah dan menjadi jalan kering yang dapat dilalui Nabi Musa beserta Bani Israil. Setelah mereka berhasil menyeberang, Fir'aun dan pasukannya tetap memaksa masuk ke jalur tersebut.
Ketika seluruh pasukan berada di tengah laut, Allah mengembalikan air laut seperti semula, sehingga Fir'aun dan tentaranya tenggelam. Peristiwa inilah yang dipahami sebagai kemenangan besar Nabi Musa dan kaumnya atas kezaliman Fir'aun.
Bagaimana Peristiwa Ini Menjadi Asal-usul Puasa Asyura?
Menurut hadis riwayat Ibnu Abbas RA, keselamatan Nabi Musa dan tenggelamnya Fir'aun terjadi pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas pertolongan tersebut, Nabi Musa berpuasa pada hari itu.
Tradisi puasa syukur ini kemudian dikenal kaum Yahudi dan terus dilakukan turun-temurun. Ketika Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut, ia menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran para nabi terdahulu yang bertauhid.
Karena itu, Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkannya kepada para sahabat. Dari sinilah puasa Asyura dikenal sebagai salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam hingga sekarang.
Hikmah Kisah Nabi Musa pada Hari Asyura
Kisah penyelamatan Nabi Musa AS tidak hanya menjadi bagian dari sejarah para nabi, tetapi juga mengandung pelajaran yang relevan sepanjang masa. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan mampu mengalahkan kehendak Allah.
Selain itu, hari Asyura mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat dan pertolongan Allah. Karena itulah, puasa Asyura tidak sekadar menjadi ibadah sunah, tetapi juga menjadi pengingat tentang kemenangan iman, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah di tengah berbagai ujian kehidupan.
Kisah Nabi Musa AS dan tenggelamnya Fir'aun menjadi salah satu peristiwa paling monumental yang dikaitkan dengan hari Asyura 10 Muharram. Dari peristiwa inilah lahir tradisi puasa syukur yang kemudian dilanjutkan dan dianjurkan Rasulullah SAW kepada umat Islam.
(irb/dpe)
