Puasa Asyura merupakan salah satu amalan sunah yang paling dianjurkan pada bulan Muharram. Ibadah yang dilaksanakan setiap 10 Muharram ini memiliki keutamaan besar karena Rasulullah SAW menyebutnya sebagai puasa yang dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.
Namun, pada tahun 2026, terdapat perbedaan penetapan awal Muharram antara pemerintah dan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU). Akibatnya, jadwal puasa Asyura pun berbeda satu hari. Lantas, kapan puasa Asyura 2026 dilaksanakan? Apa dalil, tata cara, dan keutamaannya?
Apa Itu Puasa Asyura?
Puasa Asyura adalah puasa sunah yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Kata "Asyura" berasal dari bahasa Arab "'asyarah" yang berarti sepuluh, merujuk pada hari kesepuluh di bulan Muharram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Asyura termasuk hari yang istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak ibadah pada hari tersebut, salah satunya dengan berpuasa. Dari Aisyah RA disebutkan puasa Asyura sudah dilakukan sejak masa sebelum Islam dan tetap dikerjakan Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.»
Artinya: Dari 'Aisyah, ia berkata: "Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan oleh orang Quraisy pada zaman jahiliyyah dan Rasulullah SAW juga melakukan puasa pada hari itu. Ketika Nabi datang ke Madinah juga melakukan puasa dan menyuruh para sahabat menjalankan puasa Asyura. Namun ketika puasa Ramadhan mulai diwajibkan, Nabi SAW meninggalkan puasa Asyura. Maka barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan, dan siapa saja yang ingin meninggalkan, juga silahkan. (HR Bukhari).
Jadwal Puasa Asyura 2026
Pada tahun 2026, jadwal puasa Asyura berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah dengan NU. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan penetapan awal Muharram 1448 Hijriah. Berikut jadwal lengkapnya.
1. Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kemenag, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026. Ketetapan tersebut sejalan dengan Muhammadiyah yang menggunakan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal berikut.
- Puasa Tasu'a 9 Muharram: Rabu 24 Juni 2026
- Puasa Asyura 10 Muharram: Kamis 25 Juni 2026
2. Versi NU
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menetapkan awal Muharram 1448 Hijriah berbeda satu hari. Karena hilal tidak terlihat pada saat rukyatul hilal, NU mengistikmalkan bulan Zulhijah sehingga 1 Muharram jatuh pada Rabu 17 Juni 2026. Maka, puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal berikut.
Puasa Tasu'a 9 Muharram: Kamis 25 Juni 2026
Puasa Asyura 10 Muharram: Jumat 26 Juni 2026
Perbedaan jadwal puasa Asyura berakar dari perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Pemerintah melalui Kemenag menggunakan kombinasi metode hisab dan rukyat yang kemudian diputuskan melalui sidang isbat.
Muhammadiyah menggunakan sistem hisab melalui KHGT, sehingga awal bulan dapat dihitung secara astronomis jauh hari sebelumnya. Sementara itu, NU berpegang pada metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap hilal.
Jika hilal tidak terlihat, maka bulan sebelumnya disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal). Perbedaan metode ini merupakan bagian dari khazanah fikih Islam yang telah berlangsung lama dan menjadi dinamika yang wajar di Indonesia.
Mengapa Dianjurkan Berpuasa Sebelum atau Sesudah Asyura?
Rasulullah SAW tidak hanya menganjurkan puasa pada 10 Muharram, tetapi juga mendorong umat Islam untuk berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Ahmad berikut.
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)
Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu (Rasulullah bersabda), "Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya. (HR Ahmad)
Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar puasa Asyura dilengkapi dengan puasa Tasu'a pada 9 Muharram atau puasa pada 11 Muharram. Anjuran berpuasa pada 9 Muharram juga didasarkan pada hadis dari Ibnu Abbas RA:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»
Artinya: Dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda: Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa tanggal 9.
Namun, Rasulullah SAW wafat sebelum sempat melaksanakan puasa tersebut. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menjelaskan niat Rasulullah SAW untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram menunjukkan bahwa ia tidak ingin hanya berpuasa pada tanggal 10.
Ia menambahkan puasa tanggal 9 Muharram sebagai bentuk kehati-hatian dalam penentuan tanggal, sekaligus untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang juga berpuasa pada hari Asyura atau 10 Muharram.
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa Asyura merupakan ibadah sunah yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW menyebutkan orang yang berpuasa pada 10 Muharram akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama setahun sebelumnya. Keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Muslim berikut.
عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA, sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu Nabi SAW menjawab: "Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat". (HR Muslim)
Hadis ini menjadi salah satu alasan mengapa puasa Asyura termasuk amalan sunah yang sangat dianjurkan. Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.
Tata Cara Puasa Asyura
Tata cara puasa Asyura pada dasarnya sama seperti puasa sunah lainnya. Umat Islam dianjurkan berniat pada malam hari, kemudian menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Puasa ini lebih utama jika dilakukan bersama puasa Tasu'a pada 9 Muharram. Sebagian ulama juga menganjurkan menambah puasa sehari setelahnya, yakni 11 Muharram, agar semakin sempurna dan berbeda dari tradisi puasa kaum Yahudi.
Niat Puasa Asyura
Puasa Asyura merupakan puasa sunah yang dilaksanakan pada 10 Muharram. Seperti puasa sunah lainnya, niat dapat dilakukan pada malam hari hingga sebelum tergelincir matahari (zawal), selama seseorang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. Berikut bacaan niat puasa Asyura.
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.
Puasa Asyura merupakan salah satu amalan sunah utama di bulan Muharram yang memiliki keutamaan besar, yakni menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu. Rasulullah SAW juga menganjurkan agar puasa ini disertai puasa Tasu'a pada 9 Muharram sebagai bentuk penyempurna sekaligus pembeda.
(irb/hil)
