Benarkah Marathon Bisa Picu Kerusakan Ginjal? Ini Penjelasannya

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 25 Jun 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Marathon. Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Surabaya -

Banyak pelari marathon biasanya lebih khawatir mengalami cedera otot seperti hamstring tertarik dibanding masalah pada organ dalam. Namun, sebuah penelitian yang dipimpin tim dari Yale School of Medicine menemukan fakta bahwa lari marathon sejauh 26,2 mil atau sekitar 42 kilometer ternyata dapat menyebabkan gangguan ginjal sementara pada sebagian pelari.

Meski terdengar mengkhawatirkan, penelitian ini bukan bertujuan mengatakan bahwa olahraga lari berbahaya bagi kesehatan. Justru, studi tersebut ingin memahami bagaimana tekanan fisik ekstrem selama marathon dapat memengaruhi fungsi ginjal, terutama terkait risiko acute kidney injury (AKI) atau cedera ginjal akut.

Risiko Setelah Marathon

Penelitian mengenai hubungan antara marathon dan gangguan ginjal dilakukan oleh tim peneliti dari Yale School of Medicine dan diterbitkan dalam Clinical Journal of the American Society of Nephrology (CJASN).

Studi ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan pada ajang Eversource Hartford Marathon 2015. Saat itu, peneliti mulai melihat adanya perubahan fungsi ginjal pada pelari setelah menyelesaikan perlombaan.

Menurut Sherry Mansour, DO, MS, instruktur nefrologi di Yale School of Medicine sekaligus penulis utama penelitian, menyebut ujuan riset tersebut bukan untuk menunjukkan berlari tidak sehat. Namun, untuk memahami bagaimana tekanan fisik akibat marathon dapat memberikan dampak terhadap ginjal.

Bagaimana Marathon Bisa Menyebabkan Gangguan Ginjal?

Saat seseorang berlari marathon, tubuh mengalami tekanan fisik yang sangat besar. Aktivitas panjang selama berjam-jam membuat suhu tubuh meningkat dan menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan serta elektrolit melalui keringat.

Kondisi dehidrasi dan kehilangan garam tubuh inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu munculnya cedera ginjal akut.

Pada penelitian pertama, para peneliti mengambil sampel darah dan urine dari 22 pelari sebelum lomba, 30 menit setelah lomba selesai, serta 24 jam setelah perlombaan.

Sampel tersebut digunakan untuk mengukur kadar zat tertentu, termasuk natrium dan protein yang dapat menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 82 persen pelari mengalami acute kidney injury (AKI).

AKI merupakan kondisi ketika ginjal mengalami penurunan kemampuan menyaring limbah dari darah seperti biasanya. Akibatnya, tubuh dapat mengalami gangguan dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit seperti natrium, kalsium, serta kalium.

Pelari dengan AKI Lebih Beresiko

Dalam penelitian tersebut, peneliti menemukan bahwa pelari yang mengalami AKI kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan pelari yang tidak mengalami gangguan ginjal.

Pelari dengan AKI kehilangan sekitar 4 liter cairan melalui keringat, sedangkan pelari tanpa AKI kehilangan sekitar 2 liter. Mansour menggambarkan jumlah tersebut seperti dua botol minuman berukuran 2 liter yang penuh dengan keringat tubuh sendiri.

Selain kehilangan cairan, pelari dengan AKI juga kehilangan lebih banyak natrium melalui keringat. Kehilangan natrium dalam jumlah besar dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh karena natrium berperan penting dalam mengatur jumlah air di dalam tubuh.

Setelah penelitian pertama, tim Yale kembali melakukan penelitian kedua pada Eversource Hartford Marathon 2017 dengan melibatkan 23 pelari.

Kali ini, peneliti tidak hanya mengambil sampel darah dan urine, tetapi juga menggunakan alat khusus seperti tambalan pengumpul keringat dan bio-harness untuk memantau suhu tubuh secara terus-menerus.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 55 persen pelari mengalami AKI setelah marathon. Selain itu, sekitar 74 persen pelari menunjukkan tanda-tanda cedera pada tubulus ginjal, yaitu bagian ginjal yang berfungsi mengatur keseimbangan air dan elektrolit dalam tubuh.

Menurut penelitian tersebut, tingkat perubahan pada sampel urine pelari bahkan memiliki kemiripan dengan kondisi pasien yang mengalami gangguan serius dan dirawat di ruang perawatan intensif.

Apakah Marathon Benar-Benar Merusak Ginjal Secara Permanen?

Meskipun penelitian menemukan adanya tanda cedera ginjal, kabar baiknya adalah kondisi tersebut bersifat sementara. Kerusakan ginjal yang dialami para pelari dalam penelitian tersebut pulih dalam waktu sekitar 48 jam setelah perlombaan.

Sherry Mansour menjelaskan bahwa pada awalnya peningkatan kadar kreatinin dalam darah tidak terlalu mengejutkan karena kondisi tersebut bisa terjadi akibat dehidrasi.

Kreatinin sendiri merupakan salah satu indikator yang digunakan dokter untuk melihat kemungkinan adanya gangguan ginjal.

Namun, ia mengatakan bahwa tim peneliti terkejut ketika menemukan adanya perubahan pada urine berupa muddy brown cast, yaitu tanda yang menunjukkan adanya kerusakan struktural pada ginjal.

Urine para pelari juga ditemukan memiliki kadar protein tinggi yang mengindikasikan adanya cedera nyata pada organ tersebut.

Mengapa Sebagian Pelari Mengalami AKI dan Sebagian Tidak?

Peneliti kemudian mencoba mencari tahu mengapa hanya sebagian pelari mengalami gangguan ginjal setelah marathon. Hipotesis awal mereka adalah perbedaan jumlah keringat dan kehilangan cairan.

Saat berlari dalam waktu lama, suhu inti tubuh meningkat sehingga tubuh mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri. Bersamaan dengan keluarnya keringat, tubuh kehilangan air dan garam.

Kondisi tersebut diduga memicu respons hormonal serta peradangan yang dapat memberikan tekanan tambahan pada ginjal. Menariknya, penelitian tidak menemukan perbedaan besar pada suhu tubuh antara pelari yang mengalami AKI dan yang tidak.

Menurut Mansour, kemungkinan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi perlombaan yang berlangsung pada musim gugur di Connecticut, ketika suhu lingkungan tidak terlalu tinggi.

Apakah Pelari Marathon Harus Khawatir?

Meski hasil penelitian terdengar mengkhawatirkan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti olahraga marathon harus dihindari. Justru, penelitian ini menjadi pengingat agar pelari lebih memperhatikan kebutuhan cairan dan elektrolit selama melakukan aktivitas berat.

Mansour menjelaskan bahwa penelitian berikutnya akan berfokus pada bagaimana strategi konsumsi cairan dan natrium yang tepat dapat membantu menjaga aliran darah ke ginjal serta mengurangi risiko AKI.

Ia berharap ke depannya pelari dapat memiliki pola minum yang lebih personal berdasarkan jumlah keringat yang keluar dari tubuh masing-masing.

"Saya berharap di masa depan kita dapat membantu pelari menemukan protokol minum yang sesuai agar tetap terhidrasi dan menghindari cedera ginjal berdasarkan bagaimana tubuh mereka berkeringat," ujar Mansour.

Cara Mengurangi Risiko Kerusakan Ginjal Saat Marathon

Bagi pelari atau orang yang melakukan olahraga berat, beberapa langkah dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan ginjal, seperti:

  • Memastikan tubuh cukup terhidrasi sebelum, selama, dan setelah olahraga.
  • Mengganti cairan serta elektrolit yang hilang melalui keringat.
  • Tidak memaksakan tubuh berolahraga saat mengalami dehidrasi.
  • Mengenali tanda kelelahan ekstrem seperti pusing, lemas berlebihan, atau urine berwarna gelap.
  • Berkonsultasi dengan dokter jika memiliki riwayat gangguan ginjal atau kondisi kesehatan tertentu.

Jadi, benarkah marathon bisa memicu kerusakan ginjal? Jawabannya adalah bisa, tetapi umumnya bersifat sementara dan berkaitan dengan tekanan ekstrem pada tubuh, terutama kehilangan cairan serta elektrolit.

Penelitian Yale menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan perhatian ekstra ketika menjalani aktivitas fisik berat seperti marathon. Dengan persiapan yang baik, hidrasi cukup, dan memahami batas kemampuan tubuh, olahraga tetap dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan.



Simak Video "Video: Berlari Menembus Batas Diri"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork