Kisah Layangan Sukhoi Asal Malang yang Mendunia

Kisah Layangan Sukhoi Asal Malang yang Mendunia

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 17 Jun 2026 12:15 WIB
Layangan buatan Lucky yang menembus pasar dunia
Layangan buatan Lucky yang menembus pasar dunia/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Di era ketika layar ponsel perlahan menggantikan riuhnya tawa anak-anak di lapangan, sepotong bambu dan kertas tipis dari sudut Kota Malang justru berhasil mengepakkan sayapnya hingga ke belahan dunia lain.

Layangan Sukhoi, kerajinan khas asli Malang, membuktikan bahwa permainan tradisional tak pernah benar-benar mati.

Sebaliknya, ia kini tengah terbang tinggi menembus pasar internasional, menjangkau para pencinta layangan di Malaysia hingga Prancis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lucky Maulana, pemilik lini usaha Ahoed DC Malang, yang menjadi salah satu saksi sekaligus aktor di balik moncernya reputasi layangan lokal ini.

ADVERTISEMENT

Di tangan para perajin Malang, layangan bukan sekadar mainan angin, melainkan sebuah karya seni dengan akurasi dan ketangkasan tinggi yang dinilai legendaris oleh para penikmatnya.

"Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia," ujar Lucky dengan nada bangga, Rabu (17/6/2026).

Skala ekspor layangan buatan Lucky pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Sekali pasokan terbang menuju Prancis, jumlah pesanan bisa mencapai 3 ribu hingga 5 ribu unit layangan.

Menariknya, produk yang diminati pasar Eropa ini justru merupakan layangan standar yang sangat ramah kantong, dengan harga berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per unit.

Kualitas rautan bambu yang seimbang dan presisi khas Malang disinyalir menjadi alasan mengapa produk lokal ini begitu digdaya di luar negeri, mengungguli sentra kerajinan dari daerah lain.

Ketangguhan bisnis ini bukanlah hasil instan. Usaha yang dijalani Lucky merupakan warisan turun-temurun keluarganya yang telah dirintis sejak tahun 1960.

Mampu bertahan lebih dari enam dekade adalah bukti adaptasi yang luar biasa. Kini, lewat bantuan digitalisasi dan pasar daring, layangan Sukhoi Malang tidak hanya merajai langit lokal, tetapi juga berputar kencang di segmen turnamen profesional luar pulau dengan nilai transaksi yang fantastis.

"Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp 30 juta sampai Rp 50 juta," ungkap Lucky.

Meski demikian, Lucky mengakui bahwa bisnis ini mengandalkan romansa cuaca. Saat ini kondisi pasar memang cenderung melandai dibanding tahun lalu.

Namun, optimisme menjelang pertengahan tahun tetap membubung tinggi. Juni menjadi gerbang pembuka musim layangan, di mana embusan angin mulai stabil dan libur sekolah tiba.

Pada momen-momen seperti inilah, turnamen layangan akan menjamur hampir setiap pekan, menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif yang masif di Malang. Eksistensi hobi ini di Malang pun sejatinya disokong oleh akar rumput yang sangat solid.

Mulai dari wilayah urban seperti Sawojajar dan Gadang, hingga kawasan hijau di Malang Selatan, ribuan pencinta layangan siap memadati langit setiap kali kompetisi digelar.

Sayangnya, kegembiraan ini perlahan dibayangi oleh kecemasan akan masa depan. Masifnya pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan membuat ruang bagi layangan untuk mengudara semakin terjepit.

Menutup perbincangan, Lucky menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan besar para pegiat budaya ini agar tradisi yang telah mengharumkan nama Malang di panggung dunia tidak lantas punah di tanah kelahirannya sendiri akibat ego pembangunan.

"Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan," pungkasnya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads