Ancaman Mikroplastik pada Warga Gresik Makin Mengkhawatirkan

Ancaman Mikroplastik pada Warga Gresik Makin Mengkhawatirkan

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Senin, 15 Jun 2026 14:45 WIB
Mahasiswa di Gresik meneliti soal mikroplastik
Mahasiswa di Gresik meneliti soal mikroplastik/Foto: Istimewa
Gresik -

Ancaman mikroplastik di Kabupaten Gresik semakin mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan yang dilakukan Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik (USG) menunjukkan, seluruh partisipan warga yang diperiksa ditemukan terpapar partikel mikroplastik pada permukaan kulit mereka.

Temuan tersebut dipaparkan dalam peluncuran gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) yang digelar di Lobby Gedung Kampus B Universitas Sunan Gresik. Dalam kegiatan itu, mahasiswa melakukan pemeriksaan terhadap 100 sampel kulit wajah dan tangan yang berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, serta masyarakat umum.

Hasilnya, 100 persen sampel menunjukkan adanya partikel mikroplastik dengan karakteristik yang beragam. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa polusi mikroplastik tidak lagi terbatas di kawasan industri atau tempat pembuangan sampah, tetapi telah hadir dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jofanny Ahmad Arianto, anggota kelompok studi dari prodi K3 Universitas Sunan Gresik menjelaskan, temuan tersebut menjadi alarm serius bagi masyarakat maupun pemerintah. Menurutnya, mikroplastik kini telah menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan yang nyata.

ADVERTISEMENT

"Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai landasan regulasi dalam melawan ancaman ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat krusial," jelas Jofany, Senin (15/6/2026).

Jofany mengungkapkan, kekhawatiran terhadap mikroplastik sebelumnya juga diperkuat melalui sejumlah kajian yang dilakukan bersama pegiat lingkungan. Salah satunya penelitian mengenai hujan mikroplastik yang dilakukan di beberapa wilayah Kabupaten Gresik.

"Ini cukup bahaya mengingat kami pernah melakukan penelitian terkait respon hujan mikroplastik di Jakarta dari pernyataan BRIN," tambahnya.

Jofany menambahkan, penelitian tersebut dilakukan di empat titik, yakni Manyar, Bunder, Gresik Kota Baru (GKB), dan Wringinanom. Hasilnya menunjukkan konsentrasi tertinggi ditemukan di Kecamatan Manyar dengan 25 partikel mikroplastik per liter air hujan, disusul wilayah Bunder dengan 21 partikel per liter.

"Jenis partikel yang kami temukan terdiri dari fiber, fragmen, dan filamen. Sebagian besar berasal dari degradasi sampah plastik dan abrasi ban kendaraan yang kemudian tersebar di lingkungan," kata Dafa.

Dalam pemeriksaan kulit yang dilakukan saat pameran, mayoritas partikel yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Partikel tersebut diduga berasal dari bahan tekstil sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang banyak digunakan dalam pakaian sehari-hari.

"Kepadatan partikel bahkan cenderung lebih tinggi pada individu yang mengenakan pakaian berbahan sintetis. Temuan itu menunjukkan bahwa sumber paparan mikroplastik dapat berasal dari aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat," tambhanya.

Salah seorang peserta pemeriksaan, Deny Maulana Roziqin mengaku tidak menyangka mikroplastik dapat ditemukan langsung pada tubuh manusia. Ia menilai informasi tersebut membuka wawasan baru mengenai dampak sampah plastik yang selama ini hanya dikaitkan dengan pencemaran lingkungan.

"Sejauh ini saya belum mengetahui apa bahaya plastik, yang saya tahu hanya menjadi penyebab banjir. Tapi setelah mengetahui paparannya menempel pada kulit manusia, masuk ke dalam tubuh, bahkan sampai pada air ketuban, saya merasa memang Indonesia harus cepat-cepat membuat baku mutu mikroplastik," tuturnya.

Temuan mahasiswa K3 USG juga menarik perhatian kalangan akademisi dari disiplin ilmu lain. Salah satunya datang dari mahasiswa Program Studi Psikologi yang melihat peluang penelitian lebih lanjut terkait dampak mikroplastik terhadap aspek perilaku dan psikologis manusia.

"Pemaparan ini benar-benar memicu ketertarikan akademis saya. Sebagai bentuk respons nyata, saya merasa sangat terpanggil membawa isu ini ke dalam penelitian lebih lanjut di prodi saya, guna menggali sejauh mana polutan tak kasat mata ini mendistorsi kapasitas psikologis manusia modern," kata mahasiswi Psikologi USG, Yuli Ariyanti Wulandari

Sementara itu, Kepala Program Studi K3 Universitas Sunan Gresik, Achmad Sakhowi Al Awwarij, menegaskan pentingnya pendampingan akademik terhadap gerakan literasi lingkungan yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, isu mikroplastik membutuhkan pendekatan ilmiah yang kuat agar dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan publik.

Ia menilai kegiatan seperti ini tidak cukup hanya berhenti pada penyebaran informasi kepada masyarakat. Mahasiswa juga perlu didorong untuk membangun argumentasi ilmiah yang didukung data dan hasil penelitian.

"Kegiatan seperti ini harus didukung dan didampingi secara penuh oleh jajaran dosen pengampu," ujarnya.

Sakhowi menambahkan, penguatan kapasitas riset mahasiswa menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Dengan demikian, hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pemerintah.

"Dalam kegiatan seperti ini, mahasiswa jangan hanya sebagai penyebar informasi, tetapi juga mampu membangun argumentasi yang ditopang metode dan analisis," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads