Para peternak ayam petelur di Kota Batu kini tengah dirundung kecemasan. Sebab, mereka harus menghadapi hantaman ganda akibat anjloknya harga jual telur yang tidak sebanding dengan meroketnya biaya pakan.
Salah satu peternak ayam petelur di Kota Batu, Ludi Tanarto membenarkan, saat ini harga telur di tingkat peternak merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 21 ribu per kilogram. Di sisi lain, harga pakan justru merangkak naik imbas fluktuasi nilai tukar dolar AS.
"Mulai gejolak (kurs dolar naik) itu sampai hari ini sudah Rp 850 per kilogram kenaikan harga untuk konsentrat saja, belum jagungnya. Kalau jagung itu naiknya sekitar Rp 1.000-an," kata Ludi saat ditemui detikJatim pada Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ludi, kenaikan harga konsentrat ini terjadi secara bertahap hingga empat kali. Kenaikan terakhir terjadi per 8 Juni 2026 sebesar Rp 250 per kilogram. Hal ini dikarenakan hampir 80-90% komponen bahan baku konsentrat merupakan komoditas impor.
Kondisi ini membuat para peternak kelimpungan. Sebab, biaya operasional atau Harga Pokok Produksi (HPP) untuk menghasilkan satu kilogram telur saat ini sudah berada di kisaran Rp 22.500-Rp 23.000.
Dengan harga jual hanya Rp 21.000, peternak terpaksa menelan kerugian yang tidak sedikit setiap harinya. Ludi mencontohkan, dengan populasi ayam petelur di kandangnya yang mencapai 9.000 ekor, ia mampu memproduksi sekitar 500 kilogram telur per hari.
"Kalau biaya produksi kita anggap Rp 22.500 dan hari ini harga jual Rp 21.000, berarti per kilonya rugi Rp 1.500. Kalau produksi kita 500 kilo, berarti sehari kan rugi Rp 750.000," ungkap Ludi
Ludi menilai, biang kerok dari hancurnya harga telur ini adalah menurunnya daya beli masyarakat secara umum. Ketika daya beli melemah namun biaya produksi melambung, peternak berada di posisi terjepit.
"Ini ada dua faktor yang mempengaruhi situasi saat ini (harga telur turun dan pakan naik). Dua faktor itu karena daya beli masyarakat turun dan pakan naik karena dollar terus melambung. Nah ini akhirnya membuat peternak rugi," terangnya.
Lebih lanjut, Ludi mengaku telah mendapatkan informasi adanya himbauan dari Kementerian Pertanian agar para peternak melakukan afkir dini ayam petelur yang berusia 90 minggu ke atas. Langkah ini diharapkan bisa menekan populasi nasional dan dapat menggenjot kembali harga telur.
Namun, langkah itu belum bisa Ludi terapkan lantaran mayoritas ayam di kandangnya masih berusia produktif berkisar 50 hingga 60 minggu. Di sisi lain, ia juga menegaskan tidak bisa mengambil opsi pengurangan karyawan demi menghemat biaya operasional.
"Kalau mengurangi pegawai tidak bisa, karena nanti ayamnya jadi enggak ada yang merawat. Setting-an jumlahnya itu sudah pas," tegasnya.
Dalam kondisi ini, Ludi berharap agar pemerintah bisa mencarikan solusi untuk menjaga stabilitas harga telur dan pakan di tingkat peternak. Sehingga sektor perunggasan bisa tetap bertahan.
"Harapannya pemerintah bisa segera menstabilkan daya beli masyarakat yang melemah agar harga telur bisa kembali naik dan mengatasi persoalan dollar yang makin tinggi untuk menurunkan harga pakan," pesannya.
(auh/hil)
