Rembesan Muncul di Tanggul Lumpur Lapindo, Warga Cemas

Rembesan Muncul di Tanggul Lumpur Lapindo, Warga Cemas

Suparno - detikJatim
Rabu, 10 Jun 2026 14:00 WIB
Rembesan dari tanggul penahan Lumpur Lapindo Sidoarjo
Rembesan dari tanggul penahan Lumpur Lapindo Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Warga yang tinggal di sekitar tanggul penahan lumpur Lapindo, tepatnya di titik 68, perbatasan Desa Glagaharum, Kecamatan Porong dan Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, diliputi rasa cemas. Kekhawatiran muncul setelah ditemukan rembesan air di bawah tanggul penahan lumpur dalam sepekan terakhir.

Pantauan warga, hingga kini air dan lumpur dari kolam penampungan masih belum dialirkan ke Sungai Porong. Kondisi itu menyebabkan volume air dan lumpur di kolam penampungan terus bertambah.

Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan mengatakan, rembesan mulai terlihat sekitar satu minggu lalu di bagian bawah tanggul penahan lumpur titik 68. Panjang area yang mengalami rembesan diperkirakan mencapai sekitar 100 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rembesan ini baru sekitar seminggu terakhir. Panjangnya kurang lebih 100 meter. Memang sudah dibuatkan saluran oleh PPLS untuk mengalirkan rembesan ke sungai kecil, tetapi itu belum membuat warga tenang," kata Sudarmawan kepada detikJatim, Rabu (10/6/2026).

ADVERTISEMENT
Rembesan dari tanggul penahan Lumpur Lapindo SidoarjoRembesan dari tanggul penahan Lumpur Lapindo Sidoarjo Foto: Suparno/detikJatim

Menurutnya, upaya yang dilakukan pihak Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) dengan melokalisir rembesan dan mengarahkannya ke sungai kecil belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran warga.

Pasalnya, sungai kecil yang menjadi lokasi pembuangan rembesan tersebut, saat ini dalam kondisi rawan meluap. Bahkan, sebagian aliran air disebut sudah merembes hingga ke jalan desa.

"Sungainya sendiri sudah rawan meluber. Bahkan ada aliran kecil yang sudah sampai ke jalan desa. Warga tentu khawatir kalau kondisi ini terus berlanjut," ujarnya.

Kekhawatiran warga semakin bertambah karena ketinggian air di kolam penampungan disebut hanya kurang sekitar satu meter dari bibir tanggul. Kondisi itu terlihat dari alat ukur ketinggian air yang berada di area penampungan.

Sudarmawan mengungkapkan, warga yang tinggal di bawah tanggul hingga kini masih dihantui trauma peristiwa amblasnya tanggul beberapa tahun lalu. Karena itu, warga secara mandiri melakukan pemantauan lingkungan setiap malam.

"Kami tidak bisa tidur nyenyak. Hampir setiap malam warga bergantian kontrol lingkungan karena takut terjadi sesuatu saat malam hari," ungkapnya.

Ia menambahkan, apabila terjadi kegagalan tanggul atau jebol, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat yang tinggal di bawah tanggul. Sedikitnya terdapat enam RT dengan jumlah penduduk sekitar 1.000 hingga 1.500 jiwa yang berada di kawasan rawan terdampak.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada tanggul ini, yang terdampak langsung adalah warga di bawah tanggul. Ada sekitar enam RT dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.000 sampai 1.500 jiwa," jelasnya.

Karena itu, Sudarmawan berharap PPLS segera melakukan langkah penanganan yang lebih optimal, termasuk mengurangi volume air dan lumpur di kolam penampungan serta memastikan kondisi tanggul tetap aman.

"Kami berharap ada penanganan yang benar-benar maksimal. Yang paling penting warga bisa merasa aman dan tidak terus-menerus dihantui rasa waswas," pungkasnya




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads