Dahulu Surabaya Terdiri dari Kota Atas dan Bawah, Begini Ceritanya

Dahulu Surabaya Terdiri dari Kota Atas dan Bawah, Begini Ceritanya

Anastasia Trifena - detikJatim
Minggu, 07 Jun 2026 19:15 WIB
Wisata Surabaya Kora Lama
Kawasan Kota Lama Surabaya. (Foto: Deny Prastyo/detikjatim)
Surabaya -

Tak banyak yang tahu jika Surabaya pada masa kolonial Belanda pernah terbagi menjadi dua kawasan besar yakni Kota Bawah (benedenstad) dan Kota Atas (bovenstad). Pembagian ini muncul seiring perkembangan kota setelah VOC menguasai Surabaya pada abad ke-18.

Awalnya, pusat pemerintahan dan perdagangan Belanda berada di kawasan utara dekat Sungai Kalimas dan Jembatan Merah. Namun seiring pertumbuhan penduduk dan perluasan kota, pembangunan kemudian bergeser ke wilayah selatan yang lebih luas dan tertata.

Jejak pembagian Kota Atas dan Kota Bawah itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Kawasan utara Surabaya identik dengan bangunan kolonial, perdagangan, dan kota lama, sedangkan wilayah selatan berkembang menjadi kawasan permukiman elite sejak era Hindia Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Mula Kota Bawah Surabaya

Melansir dari unggahan @Surabaya, pada 1743, Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan VOC yang menyerahkan wilayah Surabaya kepada Belanda. Setelah menguasai Surabaya, kolonial Belanda mulai membangun kanal, benteng, hingga tembok kota di kawasan dekat muara Sungai Kalimas.

Wilayah inilah yang kemudian berkembang menjadi Kota Bawah atau benedenstad. Kawasan tersebut menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi kolonial Belanda. Perkembangannya semakin pesat setelah Surabaya menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan penting di Jawa Timur pada akhir abad ke-19.

ADVERTISEMENT

Pusat kawasan Kota Bawah berada di sekitar Jembatan Merah dan Heerenstraat atau Jalan Rajawali saat ini. Nama Heerenstraat sendiri berarti "Jalan Para Tuan" karena menjadi kawasan elit tempat berdirinya kantor dagang dan gedung pemerintahan Belanda.

Beberapa sumber mencatat kawasan Kota Bawah memang berpusat di sekitar utara Kalimas dan Jembatan Merah. Wilayahnya mencakup:

  • Jembatan Merah
  • Rajawali
  • Krembangan
  • Kembang Jepun
  • Ampel
  • kawasan sekitar Sungai Kalimas
  • Willemsplein atau kawasan Taman Jayengrono

Bangunan-bangunan di kawasan ini berdiri rapat dan cenderung compact. Mayoritas difungsikan sebagai kantor dagang, gudang, pertokoan, bank, hingga permukiman penduduk. Kawasan ini juga menjadi pusat aktivitas pelabuhan dan perdagangan internasional Surabaya pada masa kolonial.

Pembagian Kawasan Berdasarkan Etnis

Pemerintah kolonial menerapkan aturan Wijkenstelsel pada tahun 1843 untuk membagi kawasan permukiman berdasarkan etnis. Pembagian ini membuat wilayah sekitar Jembatan Merah terbagi menjadi beberapa area khusus.

Bagian barat Jembatan Merah diperuntukkan bagi orang Eropa. Di kawasan ini berdiri rumah pejabat, kantor pemerintahan, hingga pusat bisnis kolonial Belanda.

Jembatan Merah SurabayaJembatan Merah Surabaya (Foto: Firtian Ramadhani/detikJatim)

Sementara sisi timur kawasan ditempati masyarakat Asia seperti Tionghoa, Arab, dan pribumi Melayu. Dari sinilah kemudian berkembang kawasan Pecinan Kembang Jepun hingga Kampung Arab Ampel.

Pola pemisahan kawasan tersebut membentuk karakter Surabaya lama yang masih terlihat sampai sekarang. Kawasan utara Surabaya identik dengan bangunan perdagangan, permukiman etnis, dan deretan gedung kolonial tua.

Selain menjadi pusat ekonomi, Kota Bawah juga menjadi kawasan paling sibuk di Surabaya karena dekat dengan pelabuhan dan jalur distribusi perdagangan. Sementara masyarakat pribumi kebanyakan tinggal di kampung padat di luar pusat kota dengan fasilitas yang jauh lebih terbatas dibanding kawasan Eropa.

Munculnya Kota Atas atau Bovenstad

Pada 1871, Belanda mulai meruntuhkan tembok kota karena perkembangan Surabaya semakin pesat. Jumlah penduduk bertambah dan kawasan Kota Bawah sudah tidak mampu menampung aktivitas kota.

Saat Surabaya ditetapkan sebagai gemeente atau kotamadya pada 1906, pusat pemerintahan baru kemudian dibangun di kawasan Ketabang. Gedung stadhuis yang kini menjadi Balai Kota Surabaya menjadi salah satu penanda perkembangan kota ke arah selatan.

Disbudporapar Gusur dan Perintahkan Bongkar Ruang Seni Balai PemudaBalai Pemuda Surabaya (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim)

Wilayah seperti Darmo, Gubeng, Ketabang, Simpang, Kayoon, Ambengan, hingga Kupang kemudian berkembang menjadi kawasan baru yang disebut Kota Atas atau bovenstad. Dalam perkembangan berikutnya, kawasan seperti Keputran, Diponegoro, Arjuno, Tegalsari, Dinoyo, Karah, dan Ketintang juga masuk area pengembangan permukiman Eropa.

Kota Atas meliputi beberapa kawasan di Surabaya bagian selatan dan tengah, seperti:

  • Darmo
  • Gubeng
  • Ketabang
  • Simpang
  • Ambengan
  • Keputran
  • Diponegoro
  • Kayoon
  • Arjuno
  • Kupang
  • Tegalsari

Berbeda dengan Kota Bawah yang padat, kawasan Kota Atas dirancang lebih tertata dan lapang. Rumah dan bangunan dibuat bergaya villa dengan halaman luas di bagian depan. Kawasan ini juga dibangun dengan konsep garden city lengkap dengan jalan lebar, taman, drainase, hingga jalur trem dan kereta yang menghubungkan kawasan elite dengan pusat kota.

Kawasan Darmo menjadi salah satu permukiman elite favorit warga Eropa pada masa itu. Hingga sekarang, jejak kawasan kolonial tersebut masih terlihat dari tata jalan yang lebar dan deretan rumah lama bergaya kolonial di Surabaya selatan.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads