Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang banyak diminati masyarakat karena dinilai praktis, nyaman, dan mampu menghindari kemacetan. Tak heran, warga Surabaya pun kerap memilih kereta untuk bepergian, baik untuk kebutuhan harian maupun perjalanan jarak menengah ke kota sekitar.
Tingginya minat tersebut membuat mobilitas penumpang kereta di Surabaya terus meningkat, baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Untuk menunjang kebutuhan tersebut, Surabaya memiliki sejumlah stasiun yang melayani berbagai rute perjalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daftar Stasiun di Surabaya yang Wajib Diketahui
Berikut daftar stasiun di Surabaya yang perlu diketahui :
1. Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut)
Stasiun Surabaya Kota atau Surat Semut merupakan stasiun pertama di Surabaya. Stasiun ini dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda saat pengembangan jaringan kereta api oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS) pada 1875.
Pembangunan awal difokuskan pada jalur Surabaya-Pasuruan-Malang yang dikenal sebagai lintas Oosterlijnen atau lintas timur. Stasiun ini kemudian dibuka untuk umum pada 16 Mei 1878, bersamaan dengan peresmian jalur Surabaya-Pasuruan sepanjang 63 kilometer.
Stasiun Surabaya Kota (Foto: Esti Widiyana/ detikjatim) |
Peresmian tersebut dilakukan oleh Gubernur Jenderal JW van Lansberge dalam sebuah upacara yang dihadiri Inspektur Jenderal SS, HG Derx, Residen Surabaya, serta sejumlah pejabat lainnya.
Dari sisi arsitektur, bangunan stasiun mengusung gaya Neo-Klasik ala Yunani Kuno dan sempat direnovasi pada 1881. Empat tahun setelahnya, SS kembali membangun jalur baru dari Stasiun Semut menuju kawasan Kalimas di area Pelabuhan Surabaya.
Jalur tersebut berperan penting dalam menopang Surabaya sebagai kota ekspor, terutama komoditas gula, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat industri dan perdagangan.
Nama 'Stasiun Semut' sendiri dikenal luas karena lokasinya berada di kawasan Kampung Semut. Letaknya juga strategis karena berada di antara Wonokromo dan Pelabuhan Tanjung Perak.
Seiring perkembangannya, Stasiun Surabaya Kota turut difungsikan sebagai stasiun pengangkutan barang. Kini, stasiun tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemkot Surabaya pada 1996 dan sebagai cagar budaya tingkat nasional sejak 2007.
2. Stasiun Wonokromo
Selanjutnya, ada stasiun wonokromo yang lokasinya berada di Jalan Stasiun Wonokromo No 1 Jagir, Surabaya. Stasiun ini merupakan bagian dari jaringan Staatsspoorwegen (SS) pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Selanjutnya, jaringan ini dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan berada dalam naungan Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya.
Stasiun Wonokromo (Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim) |
Keunikan stasiun ini terletak pada statusnya sebagai bangunan cagar budaya yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penetapan tersebut didasarkan pada nilai historis yang dimilikinya, mulai dari arsitektur klasik, struktur bangunan, hingga berbagai artefak yang menjadi jejak perkembangan perkeretaapian di Jawa Timur.
Sejumlah elemen lama masih dapat ditemui hingga kini, seperti bangunan asli, ornamen peron, serta sistem persinyalan yang sudah ada sejak masa kolonial. Meski telah mengalami berbagai renovasi untuk menyesuaikan kebutuhan modern, nuansa historis Stasiun Wonokromo tetap terjaga.
3. Stasiun Gubeng
Stasiun ketiga yang ada di Surabaya adalah Stasiun Gubeng. Stasiun ini memiliki dua sisi yaitu Stasiun Gubeng Lama dan Stasiun Gubeng Baru. Lokasinya berada di jantung Kota Surabaya yakni di kelurahan Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya.
Salah satu daya tarik stasiun ini adalah keterkaitannya dengan Soekarno. Presiden pertama Indonesia tersebut pernah bekerja di stasiun ini saat menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini lebih dikenal dengan ITB
Suasana di Stasiun Gubeng Lama Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim) |
Stasiun Gubeng sendiri mulai beroperasi sejak 16 Mei 1878, sementara pembangunannya telah dimulai sejak 1868 sebagai bagian dari proyek jalur kereta api Surabaya-Pasuruan yang dirancang oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Pada awalnya, bangunan stasiun mengusung gaya chalet khas Staatsspoorwegen dengan struktur yang kokoh dan jendela berukuran besar. Memasuki 1928, area lobi utama diperluas guna meningkatkan kenyamanan penumpang.
Perubahan signifikan terjadi pada 7 Juni 1996 dengan dibangunnya gedung baru di sisi timur rel. Pembangunan ini membuat area stasiun terbagi menjadi Gubeng Lama dan Gubeng Baru untuk mendukung layanan yang lebih efektif dan terorganisir.
4. Stasiun Pasar Turi
Terakhir, ada stasiun Pasar Turi yang berlokasi di Surabaya Utara tepatnya berada di perbatasan Kelurahan Gundih dengan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Mulanya stasiun ini bernama Soerabaja NIS Station. Selanjutnya dikenal dengan nama Pasar Turi karena lokasinya yang dekat dengan sebuah pasar di Kelurahan Gundih.
Nama "Surabaya Pasar Turi" sendiri baru digunakan pada 1950-an saat Djawatan Kereta Api mulai melakukan pengarsipan nama-nama stasiun di Indonesia.
Stasiun Pasar Turi (Foto: Ardian Dwi Kurnia) |
Diketahui stasiun ini dibangun untuk menghubungkan rute Gundih-Gambringan-Bojonegoro-Surabaya dengan perluasan ke Gresik hingga Babat-Merakurak. Seiring perkembangan teknologi, sistem sinyal mekanis di stasiun ini diganti dengan listrik pada 2014 oleh PT Len Industri
Menariknya, stasiun ini merupakan hasil pengembangan perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda, yakni NIS. Setelah memperoleh keuntungan besar, perusahaan tersebut mendapatkan izin pada 1 September 1879 untuk membangun jalur baru lintas Gundih-Gambringan-Bojonegoro-Surabaya sebagai bagian dari pengembangan jalur utara.
Demikian daftar 4 stasiun yang berada di Surabaya beserta sejarahnya. Semoga bermanfaat!
(ihc/abq)




