Jangan Lewatkan Muharram, Ini Hadis tentang Keutamaan dan Larangannya

Jangan Lewatkan Muharram, Ini Hadis tentang Keutamaan dan Larangannya

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Jumat, 05 Jun 2026 20:00 WIB
Ilustrasi puasa di bulan Muharram.
Ilustrasi bulan Muharram. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Muharram bukan sekadar penanda datangnya Tahun Baru Islam. Dalam ajaran Islam, bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena adalah bulan pertama dalam penanggalan kalender Hijriah, dan menjadi salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Karena kemuliaannya tersebut, terdapat sejumlah hadis yang menjelaskan keutamaan bulan Muharram, mulai dari anjuran berpuasa hingga keistimewaan Asyura. Di sisi lain, umat Islam juga dianjurkan lebih berhati-hati dalam menjaga perilaku dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Lalu, apa saja hadis tentang Muharram?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Bulan Muharram Istimewa dalam Islam?

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan Allah SWT bersama Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Kemuliaan tersebut dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

ADVERTISEMENT

Artinya: Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban. (HR Bukhari Muslim)

Karena termasuk bulan haram, Muharram memiliki kedudukan khusus yang membuat umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan lebih menjaga diri dari perbuatan dosa.

Hadis tentang Keutamaan Bulan Muharram

1. Bulan Terbaik Berpuasa Setelah Ramadan

Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan suci yang mana umat muslim diwajibkan untuk berpuasa. Selain bulan Ramadan, bulan terbaik untuk berpuasa adalah bulan Muharram.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: 'Rasulullah saw bersabda: 'Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR Muslim) (2)

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang yang berpuasa di bulan Muharram dapat diterima taubatnya oleh Allah SWT. Hadits ini dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib yang mengutip sabda Rasulullah SAW:

"Jika engkau ingin berpuasa setelah Ramadan, maka berpuasalah pada bulan Muharram. Sesungguhnya bulan tersebut adalah bulan Allah dan pada bulan itu terdapat satu hari di mana ketika suatu kaum bertaubat, Allah juga menerima taubat kaum yang lain," (HR Tirmidzi).

2. Amal Kebaikan di Bulan Muharram Dilipatgandakan

Para ulama menjelaskan bahwa bulan-bulan haram merupakan waktu yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan tersebut memiliki nilai yang lebih besar dibanding waktu biasa.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menukil hadis yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan haram sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال: من صام ثلاثة أيام من شهر الحرام الخميس والجمعة والسبت، كتب الله تعالى له عبادة سبع مئة سنة

Artinya: Barang siapa yang mau berpuasa di tiga hari pada bulan mulia: hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah SWT (memerintahkan pada malaikat untuk) menuliskan baginya pahala beribadah selama tujuh ratus tahun.

Semangat yang ditekankan bukan hanya memperbanyak puasa, tetapi juga meningkatkan kualitas ibadah secara keseluruhan, seperti memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berzikir.

3. Terdapat Hari Asyura

Terdapat salah satu hari di bulan Muharram yang sangat dimuliakan oleh umat beragama, yaitu hari Asyura. Islam melakukan penghormatan berupa puasa sunnah pada hari itu atas kemenangan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS.

Hal ini tersebut dijelaskan dalam hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata:

"Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, 'Hari apa ini?' Mereka menjawab, 'Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya, Nabi Muhammad SAW. bersabda, 'Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.' Kemudian, Nabi Muhammad SAW berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa." (HR Muslim)

Pada hari Asyura umat muslim dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 11. Hal ini sebagai pembeda dari puasa yang dikerjakan oleh kaum Yahudi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu (Rasulullâh bersabda): 'Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya'. (HR Ahmad)

Apa Saja Larangan di Bulan Muharram?

Kemuliaan Muharram tidak hanya berkaitan dengan anjuran memperbanyak ibadah. Umat Islam juga diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga perilaku selama bulan ini.

1. Tidak Menganiaya atau Menzalimi Diri Sendiri

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS At Taubah: 36)

2. Menjauhi Perbuatan Maksiat

Karena Muharram termasuk bulan yang dimuliakan, para ulama menganjurkan umat Islam untuk lebih menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Anggota Komisi Dakwah MUI KH Nurul Irfan menjelaskan bahwa perbuatan maksiat seperti meninggalkan salat, mengonsumsi harta haram, berzina, mabuk, maupun perbuatan dosa lainnya tetap dilarang kapan saja, namun pada bulan mulia seperti Muharram seorang Muslim dianjurkan lebih bersungguh-sungguh menjauhinya.

Sebagaimana pahala kebaikan dilipatgandakan, sebagian ulama juga menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan pada waktu-waktu mulia memiliki konsekuensi moral yang lebih berat.

3. Menghindari Permusuhan dan Kekerasan

Dalam tradisi Islam, bulan-bulan haram dikenal sebagai waktu yang dihormati dan dijaga kesuciannya.
Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT pada Surah Al-Baqarah ayat 217 yang menjelaskan bahwa peperangan pada bulan haram merupakan perkara besar.

يَسْئَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرامِ قِتالٍ فيهِ قُلْ قِتالٌ فيهِ كَبير...

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar...". (Q S Al-Baqarah/ 2: 217)

Meski konteksnya berkaitan dengan kondisi peperangan pada masa awal Islam, nilai yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga perdamaian, menghindari permusuhan, dan memperkuat sikap saling menghormati selama bulan yang dimuliakan ini.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads