Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Dr Fauzan mengingatkan perguruan tinggi agar tidak hanya fokus pada urusan internal. Menurutnya, kampus harus mengambil peran lebih besar dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat.
Fauzan mengatakan masih banyak persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, perguruan tinggi didorong lebih agresif menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
"Kami sampaikan kepada beberapa perguruan tinggi, termasuk juga PENS, supaya mengambil langkah-langkah yang lebih agresif. Ternyata secara empiris ini ada problem. APK, kemiskinan, pengangguran itu masih ada (di masyarakat)," kata Fauzan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, perguruan tinggi pun harus hadir sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat.
"Perguruan tinggi tidak boleh hanya sekadar mengurus dirinya, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi itu bisa turut serta menjadi problem solver, menjadi pemecah masalah terhadap masalah-masalah sosial," tegasnya.
Menanggapi hal itu, Direktur PENS Arif Irwansyah mengatakan pihaknya telah mengarahkan berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat agar memberi dampak langsung bagi masyarakat.
"Kami tidak hanya mengejar publikasi, kami tidak hanya mengejar luaran-luaran yang sifatnya di kertas, tapi bisa memberi dampak," ujar Arif.
Ia mencontohkan, PENS dalam beberapa tahun terakhir terlibat memetakan potensi ekonomi daerah di Jawa Timur untuk kemudian mengembangkan riset dan teknologi tepat guna. Salah satu hasilnya diterapkan di wilayah Ponorogo yang memiliki populasi sapi cukup besar untuk mendorong kesejahteraan ekonomi warganya.
"Kami upayakan dari situ teknologi tepat guna ya, sehingga bisa membantu masyarakat. Dan penelitian-penelitian kami arahkan ke sana yang melibatkan mahasiswa, dosen, agar seperti arahan Pak Wamen tadi, kampus tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga memberi dampak langsung ke masyarakat," tuturnya.
Selain itu, PENS tahun ini membuka Program Studi baru yakni Bisnis Digital untuk mendukung hilirisasi berbagai produk teknologi yang dikembangkan kampus.
"Kami beranggapan untuk hilirisasi produk engineer itu perlu skill orang-orang sosial yang lebih paham bagaimana memasarkan produk dan bagaimana produk bisa diterima oleh masyarakat," ujarnya.
Arif memastikan pembukaan program studi baru tersebut bukan untuk mengubah fokus PENS sebagai kampus teknologi, melainkan memperkuat aspek pendukung agar inovasi yang dihasilkan lebih mudah diterapkan dan dimanfaatkan masyarakat.
"Untuk Prodi Bisnis Digital sudah buka mulai tahun ini. Sudah menerima pendaftaran dan bahkan itu langsung naik (peminatnya), dari 25 prodi itu sudah masuk di peringkat tiga atau empat paling banyak peminatnya," pungkasnya.
(auh/dpe)
