MUI Jatim Minta Dai Tak Giring Opini Pesantren Cabul seperti Ning Sisca

MUI Jatim Minta Dai Tak Giring Opini Pesantren Cabul seperti Ning Sisca

Faiq Azmi - detikJatim
Kamis, 04 Jun 2026 16:30 WIB
Imbauan MUI Jatim soal salam pembuka
Ilustrasi MUI Jatim. (Foto: dok. Amir Baihaqi/detikJatim)
Surabaya -

Jagat digital diramaikan oleh rekaman video ustadzah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona yang secara gamblang menyebut adanya gurita kasus kekerasan seksual berselimut lembaga pendidikan agama di wilayah Malang. MUI Jatim bereaksi dengan meminta para pendakwah termasuk mubalighoh menyampaikan pesan yang sejuk ke umat.

"Terkait dengan ceramah-ceramah dai, mubalighoh, penceramah-penceramah, pendakwah tolong jangan memperkeruh suasana. Jangan kemudian menggiring opini yang menyesatkan masyarakat," kata Sekretaris MUI Jatim KH Hasan Ubaidillah saat merespons ceramah viral Ning Sisca, Kamis (4/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ubaidillah minta para pendakwah fokus pada ceramah yang memberi kesejukan kepada umat. Jikalau membicarakan soal suatu kejadian, maka perlu kroscek lebih mendalam agar tidak menjadi fitnah ke depannya.

"Dalam konteks ini MUI Jatim memohon dan mengimbau kepada para penceramah untuk proporsional dan jernih di dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

"Jangan justru memprovokasi dan membikin narasi-narasi yang negatif, memberi narasi-narasi yang tendensius terkait dengan pemberitaan-pemberitaan yang saat ini muncul dan menjadi konsumsi publik. Tolong itu benar-benar difilter," tambahnya.

Menurut Ubaidillah, para penceramah seharusnya memberikan informasi yang sejuk dan valid kepada umat islam agar tidak terjadi kegaduhan.

"Justru para mubalighoh, dai-dai, juru dakwah itu harusnya menjelaskan ke masyarakat secara proporsional dan secara gamblang agar masyarakat ini benar-benar paham bahwa kejadian seperti itu bukan institusinya tapi oknum orang per-orangnya begitu," tandas Ubaidillah.

Sebelumnya, sebagaimana video di akun TikTok @siscafarisadhona, Ning Sisca awalnya memuji sepak terjang kelompok Yakuza Maneges pimpinan Gus Thuba yang dinilai berani menguliti kasus pelecehan di area steril pesantren. Ia kemudian mengklaim bahwa Malang bakal menjadi episentrum pembongkaran skandal serupa berikutnya.

"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramah di TikTok yang dilihat detikJatim, Senin (1/6). Pertanyaan itu pun langsung disambut riuh oleh jemaah yang hadir dengan jawaban, "banyak!"

Dirinya menegaskan, penyimpangan moral yang berlindung di balik kesucian agama sama sekali tidak boleh ditoleransi atau disembunyikan demi dalih menjaga marwah instansi maupun relasi keluarga.

"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video itu.

Hingga saat ini, Ning Sisca belum memberikan klarifikasi resmi lanjutan terkait materi dakwah yang diunggahnya. Namun, pernyataan tajamnya itu telah menuai reaksi keras dari Ketua MUI Bidang Pesantren sekaligus Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur).

Tokoh agama yang juga mengasuh Ponpes An-Nur 1 Bululawang Malang ini sangat menyayangkan narasi tersebut karena dinilai tidak bersandar pada fakta riil dan bisa menyudutkan institusi pesantren secara menyeluruh.

"Saya menyayangkan adanya pernyataan penceramah sdri Sisca yang menyebut seolah-olah banyak pesantren cabul di Malang tanpa disertai data dan fakta yang jelas," kata Gus Fahrur kepada detikJatim, Senin siang.

Gus Fahrur mengimbau seluruh figur publik agar tidak asal bicara tanpa bukti autentik, sebab generalisasi tersebut merugikan puluhan ribu santri dan kiai di Malang yang murni tengah meniti akhlakul karimah.

"Kalau memang ada kasus pidana atau kekerasan seksual di lingkungan tertentu, silakan disebutkan secara jelas dan diproses sesuai hukum," tegas Gus Fahrur. "Kita semua mendukung penindakan tegas terhadap pelaku. Namun jangan karena beberapa oknum lalu seluruh pesantren di Malang digeneralisasi dan diberi cap buruk."



(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads