Tudingan Pesantren Cabul Malang Ning Sisca Berujung Reaksi Keras MUI

Round-Up

Tudingan Pesantren Cabul Malang Ning Sisca Berujung Reaksi Keras MUI

Denza Perdana - detikJatim
Selasa, 02 Jun 2026 07:03 WIB
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang.
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang. (Foto: Istimewa/TikTok Ning Sisca Farisa Dhona)
Malang -

Jagat digital diramaikan oleh rekaman video ustadzah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, yang secara gamblang menyebut adanya gurita kasus kekerasan seksual berselimut lembaga pendidikan agama di wilayah Malang. Sontak, khotbah kontroversial tersebut langsung memicu respons menukik dari jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dalam penggalan video yang diunggah via akun TikTok pribadinya, @siscafarisadhona, Ning Sisca awalnya memuji sepak terjang kelompok Yakuza Maneges pimpinan Gus Thuba yang dinilai berani menguliti kasus pelecehan di area steril pesantren. Ia kemudian mengklaim bahwa Malang bakal menjadi episentrum pembongkaran skandal serupa berikutnya.

"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramah di TikTok yang dilihat detikJatim, Senin (1/6/2026). Pertanyaan itu pun langsung disambut riuh oleh jemaah yang hadir dengan jawaban, "banyak!"

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirinya menegaskan, penyimpangan moral yang berlindung di balik kesucian agama sama sekali tidak boleh ditoleransi atau disembunyikan demi dalih menjaga marwah instansi maupun relasi keluarga.

"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video itu.

ADVERTISEMENT

Hingga saat ini, Ning Sisca dilaporkan belum memberikan klarifikasi resmi lanjutan terkait materi dakwah yang diunggahnya tersebut.

Reaksi Keras Ketua MUI Bidang Pesantren Gus Fahrur

Pernyataan tajam Ning Sisca tersebut menyulut reaksi keras dari Ketua MUI Bidang Pesantren sekaligus Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur). Tokoh agama yang juga mengasuh Ponpes An-Nur 1 Bululawang Malang ini sangat menyayangkan narasi tersebut karena dinilai tidak bersandar pada fakta riil dan bisa menyudutkan institusi pesantren secara menyeluruh.

"Saya menyayangkan adanya pernyataan penceramah sdri Sisca yang menyebut seolah-olah banyak pesantren cabul di Malang tanpa disertai data dan fakta yang jelas," kata Gus Fahrur kepada detikJatim, Senin siang.

Gus Fahrur mengimbau seluruh figur publik agar tidak asal bicara tanpa bukti autentik, sebab generalisasi tersebut merugikan puluhan ribu santri dan kiai di Malang yang murni tengah meniti akhlakul karimah.

"Kalau memang ada kasus pidana atau kekerasan seksual di lingkungan tertentu, silakan disebutkan secara jelas dan diproses sesuai hukum," tegas Gus Fahrur. "Kita semua mendukung penindakan tegas terhadap pelaku. Namun jangan karena beberapa oknum lalu seluruh pesantren di Malang digeneralisasi dan diberi cap buruk."

Ia mendesak keterbukaan data dari Ning Sisca agar ruang dakwah tidak sekadar menjadi ajang eksploitasi rumor yang berujung pada pembunuhan karakter institusi Islam.

"Pertanyaannya, berapa jumlah pesantren yang dimaksud? Di mana datanya? Jangan sampai pernyataan yang tidak didukung fakta justru berubah menjadi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap lembaga pendidikan Islam," tegas Gus Fahrur.

Menurutnya, persentase pesantren yang memegang teguh integritas jauh lebih mendominasi ketimbang riak oknum yang menabrak aturan hukum.

"Dalam tradisi keilmuan dan etika publik, setiap pernyataan harus didasarkan pada data yang valid, bukan asumsi atau sensasi. Kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan keresahan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini," pungkasnya.

Catatan Pencabulan di Pesantren

Sindiran Ning Sisca mengenai fenomena kejahatan berkedok agama tersebut sejatinya merujuk pada keberhasilan Yakuza Maneges dalam mengurai kasus asusila masif di daerah lain. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah terbongkarnya aksi bejat seorang kiai pengasuh ponpes di Kecamatan Jambon, Ponorogo, yang tega mencabuli 11 santri laki-lakinya sejak sembilan tahun silam.

Muhammad Ihsan Nurul Huda selaku kuasa hukum para korban menjelaskan, tabir kejahatan seksual menahun ini terkuak menyusul adanya pengaduan dari salah satu mantan santri yang sempat menetap di kompleks pesantren tersebut.

"Saat kami temui, dia melaporkan ke tim Yakuza Maneges kemudian kita lakukan tindakan, kita dalami semua petunjuk," tutur Ihsan kepada wartawan.

Ihsan menguraikan, mayoritas santriwan terpaksa bungkam dalam jerat trauma karena akses keluar pondok yang tertutup serta faktor iming-iming sekolah gratis. Eksekusi pencabulan biasanya dilancarkan secara bergiliran di kamar pelaku dengan dalih meminta pijat.

"Terlapor merupakan seorang Kiai atau pimpinan pondok tersebut. Dan korbannya merupakan santri yang tinggal di dalam pondok," tambah Ihsan. "Santri perempuan tidak pernah mendapat kekerasan seksual, tapi mendapat kekerasan fisik."

Tidak hanya di Ponorogo, Yakuza Maneges sebagai organisasi yang dipelopori Gus Thuba di Kediri telah membongkar sejumlah kasus pelecehan di pesantren. Selain di Ponorogo, kasus di Pekalongan, Ngawi, juga di Jember disebut-sebut juga karena peran Yakuza Maneges.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads