BPBD Kota Batu mulai memasang posisi siaga. Menghadapi musim kemarau panjang tahun 2026 yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juli hingga September. Oleh karena itu, BPBD telah memetakan sederet wilayah yang masuk dalam zona merah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Kawasan perbukitan hingga area pertanian menjadi titik-titik krusial yang kini dalam pengawasan ketat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, membeberkan bahwa wilayah rawan karhutla kini meluas. Tidak hanya terpaku pada satu titik berkaca dari sejarah kebakaran tahun-tahun sebelumnya.
"Pemetaan wilayah rawan Karhutla tidak hanya difokuskan pada kawasan Bumiaji (Gunung Arjuno), melainkan diperluas ke wilayah sekitar Oro-Oro Ombo(Panderman). Pemetaan ini mengacu dari histori kejadian Karhutla beberapa tahun lalu," ujar Gatot kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).
Selain ancaman api yang mengintai kawasan pegunungan, Kota Batu juga dibayangi oleh ancaman kekeringan. BPBD mencatat wilayah bagian bawah, khususnya Kecamatan Junrejo, menjadi titik yang paling rentan terdampak seretnya pasokan air.
"Wilayah bawah atau Junrejo rawan terjadi kekeringan untuk pertanian," ungkap Gatot.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD Kota Batu tengah menggodok beberapa langkah strategis. Mulai dari rencana Kontinjensi, dokumen khusus untuk mengantisipasi kebakaran di kawasan Gunung Arjuno Welirang.
Kemudian, perluasan Pemetaan Jangkauan lewat pengetatan pengawasan di titik-titik baru rawan karhutla. Lalu, menyusun status siaga darurat bencana kemarau dan kekeringan 2026 sebagai payung hukum penanganan di lapangan.
Gatot menegaskan, berdasarkan data yang dihimpun, faktor alam seperti petir sebenarnya memiliki andil yang sangat kecil dalam memicu kebakaran. Mayoritas petaka karhutla justru lahir dari kecerobohan manusia itu sendiri.
"Faktor manusia mendominasi penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama ini. Beberapa di antaranya meliputi aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkontrol," jelasnya.
"Pembuangan putung rokok sembarangan di area vegetasi yang kering yang banyak selasah dan daun kering juga jadi pemicu. Begitu juga pembakaran sampah yang tidak diawasi," tambah Gatot.
Mengingat puncak kemarau sudah di depan mata, BPBD Kota Batu menghimbau kepada masyarakat, wisatawan, maupun pemangku kepentingan (stakeholders) terkait untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dan kebencanaan dari sumber tepercaya seperti BMKG dan BPBD.
Masyarakat dilarang keras melakukan pembakaran terbuka yang tidak terkontrol karena berpotensi besar memicu kebakaran meluas. Pembukaan lahan baru disarankan menggunakan metode non-pembakaran.
"Kami juga minta masyarakat di daerah rawan diimbau menyiapkan perlengkapan darurat pemadam kebakaran sederhana, seperti cangkul, sekop, ataupun karung goni basah," pesannya.
Jika melihat adanya kepulan asap atau titik api di area hutan maupun lahan, masyarakat diminta segera melapor agar koordinasi penanganan dapat dilakukan secara cepat dan responsif.
Masyarakat yang menemukan indikasi karhutla atau membutuhkan bantuan terkait dampak kemarau dapat langsung menghubungi call center atau WhatsApp resmi BPBD Kota Batu di nomor 0812-1710-4099.
Simak Video "Video: Kisah Heroik Pria Asal Indramayu Dapat Penghargaan dari Presiden Korsel"
(abq/dpe)