3 Kota di Jawa Timur yang Merayakan Hari Jadi di Bulan Juni

3 Kota di Jawa Timur yang Merayakan Hari Jadi di Bulan Juni

Mira Rachmalia - detikJatim
Selasa, 02 Jun 2026 11:45 WIB
Peta Jawa Timur
Peta Jawa Timur. Foto: Gavriel Rama/detikJatim
Surabaya -

Bulan Juni menjadi momen spesial bagi sejumlah daerah di Jawa Timur. Menariknya, ada dua kota yang sama-sama merayakan hari jadinya pada 20 Juni, sementara satu kota lainnya memperingati hari lahir sehari setelahnya, tepatnya pada 21 Juni.

Di balik perayaan tersebut tersimpan perjalanan sejarah yang panjang. Ada kota yang lahir dari kebijakan pemerintahan Hindia Belanda lebih dari satu abad lalu, ada pula yang baru memperoleh status daerah otonom pada era reformasi.

Perbedaan latar belakang inilah yang membuat peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi perjalanan sejarah, identitas, dan perkembangan daerah. Berikut sejarah lengkap kota-kota di Jawa Timur yang merayakan hari jadinya pada bulan Juni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wilayah Jatim yang Merayakan Hari Jadi Bulan Juni

Juni menjadi bulan yang cukup istimewa bagi sejumlah daerah di Jatim. Setidaknya terdapat tiga kota yang memperingati hari jadinya pada bulan ini, yakni Kota Mojokerto, Kota Madiun, dan Kota Batu.

Meski sama-sama berada di Jatim, ketiga kota tersebut memiliki kisah lahir yang berbeda. Ada yang berakar dari sistem pemerintahan kolonial, ada pula yang terbentuk melalui perjuangan panjang menjadi daerah otonom. Perjalanan sejarah itu membentuk karakter dan identitas masing-masing kota hingga sekarang.

ADVERTISEMENT

1. Kota Mojokerto, 20 Juni 1918

Kota Mojokerto memperingati hari jadinya setiap tanggal 20 Juni. Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Mojokerto, tanggal tersebut merujuk pada Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 324 Tahun 1918, yang menetapkan Mojokerto sebagai Staadsgemeente atau kota yang memiliki pemerintahan sendiri.

Hari Jadi Kota Jatim (Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Batu).Hari Jadi Kota Mojokerto. Foto: Davira Aurelly/detikJatim

Sejarah Kota Mojokerto tidak berhenti pada masa kolonial. Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, status kota ini berubah menjadi Sidan dan dipimpin oleh seorang Si Ku Cho. Masa pemerintahan tersebut berlangsung hingga Jepang menyerah pada Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintahan Kota Mojokerto kembali mengalami perubahan. Pada periode 1945 hingga 1950, wilayah ini sempat menjadi bagian dari Kabupaten Mojokerto, dan dipimpin oleh Wakil Wali Kota bersama Komite Nasional Daerah.

Perubahan status administratif terus berlangsung seiring perkembangan sistem pemerintahan nasional. Melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950, Kota Mojokerto ditetapkan sebagai Daerah Otonom Kota Kecil.

Status tersebut kemudian berubah menjadi Kota Praja berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Selanjutnya, melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965, wilayah ini menjadi Kotamadya Mojokerto.

Status itu kembali disesuaikan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II. Nama dan bentuk pemerintahan Kota Mojokerto seperti yang dikenal saat ini baru digunakan setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Lebih dari satu abad setelah ditetapkan sebagai kota mandiri, hari jadi Kota Mojokerto terus diperingati sebagai pengingat perjalanan panjang kota yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Majapahit tersebut.

2. Kota Madiun, 20 Juni 1918

Sama seperti Kota Mojokerto, Kota Madiun juga memperingati hari jadinya setiap tanggal 20 Juni. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kota Madiun, tanggal tersebut mengacu pada pembentukan Staads Gemeente Madiun oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui Staatsblad Nomor 326 Tahun 1918.

Hari Jadi Kota Jatim (Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Batu).Hari Jadi Kota Madiun. Foto: Davira Aurelly/detikJatim

Namun, sejarah Madiun sesungguhnya jauh lebih tua dibandingkan tanggal pembentukan administrasinya. Jejak wilayah ini dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Majapahit. Pada periode tersebut, kawasan selatan Madiun dikenal sebagai wilayah Gagelang yang dipimpin Adipati Gugur, putra Raja Brawijaya.

Ketika Kerajaan Mataram berkuasa, wilayah Taman dan Kuncen di Madiun memperoleh status tanah pardikan, yakni wilayah yang memiliki hak istimewa dan bebas dari kewajiban pajak tertentu. Status tersebut menunjukkan kawasan Madiun sejak lama memiliki posisi penting dalam struktur pemerintahan Jawa.

Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan bergeser ke arah utara dan berkembang menjadi kawasan inti Kota Madiun saat ini. Dari wilayah ini lahir sejumlah tokoh penting, salah satunya Sentot Prawirodirdjo, panglima perang yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro.

Pasca-Perang Jawa pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mulai membangun sistem administrasi modern di Madiun. Puncaknya terjadi pada 20 Juni 1918 ketika Madiun resmi ditetapkan sebagai kota dengan pemerintahan sendiri. Tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Madiun hingga sekarang.

3. Kota Batu, 21 Juni 2001

Berbeda dengan Mojokerto dan Madiun yang lahir pada masa kolonial, Kota Batu merupakan daerah otonom yang relatif muda. Hari jadi Kota Batu diperingati setiap tanggal 21 Juni berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu di Provinsi Jawa Timur.

Hari Jadi Kota Jatim (Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Batu).Hari Jadi Kota Batu. Foto: Davira Aurelly/detikJatim

Sebelum menjadi kota otonom, Batu berstatus sebagai kota administratif yang dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1993. Saat itu wilayahnya mencakup tiga kecamatan, yaitu Batu, Bumiaji, dan Junrejo, dengan luas sekitar 15.137 hektare.

Perkembangan wilayah Batu pada dekade 1990-an berlangsung cukup pesat. Pertumbuhan sektor pertanian, perdagangan, industri kecil, hingga pariwisata membuat aktivitas ekonomi masyarakat semakin meningkat. Jumlah penduduk juga terus bertambah dari sekitar 147 ribu jiwa menjadi lebih dari 156 ribu jiwa pada 2000.

Pertumbuhan tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Karena itulah muncul aspirasi yang semakin kuat agar Batu memiliki pemerintahan daerah sendiri yang lebih mandiri dan mampu mengelola potensi wilayah secara optimal.

Selain faktor administrasi, posisi geografis Batu yang berada di kawasan pegunungan juga menjadi nilai strategis tersendiri. Kota ini berkembang sebagai pusat wisata alam, pertanian hortikultura, pendidikan lingkungan, hingga destinasi rekreasi yang dikenal secara nasional.

Aspirasi masyarakat akhirnya terwujud melalui lahirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001. Melalui regulasi tersebut, Batu resmi menjadi daerah otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang. Tanggal 21 Juni 2001, yaitu tanggal pengundangan undang-undang tersebut, kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batu.

Itulah daftar kota di Jawa Timur yang merayakan hari jadinya pada bulan Juni beserta sejarah singkat pembentukannya. Menarik untuk melihat bagaimana setiap daerah memiliki perjalanan yang berbeda dalam mencapai status kota seperti sekarang.

Jika tertarik dengan sejarah daerah lain di Jawa Timur, jangan lewatkan kisah lahir kabupaten dan kota lainnya yang juga menyimpan jejak panjang perkembangan pemerintahan, budaya, dan peradaban di Nusantara.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads