Sentra Tas Tanggulangin Meredup Kena Dampak Lumpur Lapindo

20 Tahun Lumpur Lapindo

Sentra Tas Tanggulangin Meredup Kena Dampak Lumpur Lapindo

Suparno - detikJatim
Senin, 01 Jun 2026 16:20 WIB
Mantan warga Desa  Jatirejo Kecamatan Porong, melihat semburan lumpur Lapindo dari titik 25
Aliran lumpur lapindo di titik 25 (Foto: Suparno/ detikjatim)
Sidoarjo -

Dua dekade setelah semburan lumpur Lapindo terjadi pada 29 Mei 2006, dampaknya masih dirasakan para pelaku usaha di Sentra Industri Tas dan Koper di Tanggulangin, Sidoarjo. Bencana yang sempat memutus akses utama menuju kawasan tersebut membuat industri kerajinan tas dan sepatu yang dulu menjadi ikon ekonomi Sidoarjo mengalami kemunduran drastis, bahkan susah untuk bangkit.

Salah satu perajin tas dan sepatu Tanggulangin, Sungkono mengatakan, kondisi usaha kerajinan saat ini masih jauh dari masa kejayaannya sebelum bencana lumpur Lapindo terjadi.

"Dulu ini pusat perajin yang hidup dan ramai. Sekarang tinggal sekitar 5 persen saja yang masih bertahan dan terlihat ada aktivitasnya. Lebih dari 80 persen usaha sudah tutup total," kata Sungkono kepada detikJatim, Senin (1/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sebelum insiden lumpur Lapindo, kawasan Tanggulangin menjadi tujuan wisata belanja yang ramai didatangi pembeli dari berbagai daerah. Namun setelah akses Jalan Raya Porong terganggu akibat bencana, jumlah pengunjung terus menurun hingga berdampak langsung pada omzet para perajin.

"Yang masih bertahan sekarang omzetnya paling tinggi hanya sekitar 30 persen dibanding sebelum bencana. Tidak ada yang sampai 40 persen. Ekonomi di tempat usaha yang dulu ramai sekarang hampir tidak berjalan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Sungkono menuturkan, dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh perajin tas dan sepatu. Berbagai usaha pendukung seperti warung makan, toko bahan baku hingga sektor jasa juga ikut terdampak.

"Dulu kendaraan parkir penuh, warung-warung laris. Sekarang sangat sepi. Kadang hanya ada satu atau dua kendaraan yang datang. Aktivitas usaha tinggal sisa-sisanya saja," ungkapnya.

Kondisi tersebut memaksa banyak perajin beralih profesi atau mencari pekerjaan di luar daerah demi memenuhi kebutuhan hidup. Padahal sebelumnya industri kerajinan Tanggulangin mampu menyerap banyak tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

"Dulu satu usaha bisa melibatkan seluruh anggota keluarga dan mempekerjakan warga sekitar. Sekarang banyak yang terpaksa kerja apa saja demi bertahan hidup," katanya.

Meski begitu, sebagian perajin yang masih bertahan mencoba beradaptasi dengan memanfaatkan pemasaran digital dan penjualan secara online. Langkah itu dilakukan untuk memperluas pasar setelah kunjungan pembeli ke sentra kerajinan terus menurun.

Namun, Sungkono menilai upaya tersebut belum cukup untuk mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum bencana. Ia menyebut hingga kini belum ada program khusus yang benar-benar mampu mendorong kebangkitan sektor usaha kecil di kawasan terdampak semburan lumpur.

"Seharusnya ada program pembiayaan atau kredit usaha khusus untuk membantu pemulihan. Tanpa dukungan seperti itu, sangat sulit bagi pengusaha kecil untuk bangkit sendiri," ujarnya.

Selain persoalan ekonomi, Sungkono juga menyoroti belum tuntasnya penyelesaian berbagai persoalan yang masih dihadapi korban dampak lumpur Lapindo, termasuk para pengusaha yang mengalami kerugian ekonomi meski wilayah usahanya tidak terendam lumpur secara langsung.

"Hingga sekarang kami merasa belum ada perhatian yang serius. Sudah 20 tahun berlalu, tapi masalah ini belum benar-benar selesai. Pemerintah tidak boleh menganggap persoalan Lapindo sudah beres," tegasnya.

Ia berharap pemerintah pusat maupun daerah hadir dengan program pemulihan yang nyata agar sentra kerajinan Tanggulangin kembali bergeliat dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan seperti masa sebelum bencana.

"Kami hanya ingin keadilan dan kepastian. Negara harus hadir membantu pemulihan ekonomi masyarakat yang selama puluhan tahun terdampak akibat bencana ini," pungkasnya.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads