Tradisi Soyo Pindahan Rumah yang Masih Terawat di Nganjuk

Tradisi Soyo Pindahan Rumah yang Masih Terawat di Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Minggu, 31 Mei 2026 11:20 WIB
Tradisi gotong royong pindahan rumah di Nganjuk
Tradisi gotong royong pindahan rumah di Nganjuk/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Tradisi mengangkat dan memindahkan rumah secara gotong royong, ternyata masih terawat dengan baik di Desa Ngangkatan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Puluhan warga bersama perangkat desa kompak mengangkat pondasi rumah warga untuk dipindahkan ke lokasi baru. Tradisi ini dikenal masyarakat setempat dengan istilah "soyo" atau "sambatan".

Kepala Desa (Kades) Ngangkatan, Lasto Utomo mengatakan, tradisi ini adalah wujud budaya saling membantu antar tetangga, yang dilakukan secara sukarela tanpa imbalan. Mereka beramai-ramai mengangkat rumah berbahan kayu jati dan bambu untuk dipindahkan ke tempat baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bentuk budaya gotong royong masyarakat desa. Mereka membantu tanpa dibayar. Biasanya tuan rumah hanya menyiapkan hidangan makan bersama lalu dilanjutkan kenduren atau tasyakuran," ujar Lasto, Minggu (31/5/2026).

ADVERTISEMENT

Yang terbaru, pada Bulan April, tradisi ini kembali dilakukan warganya saat memindahkan rumah milik Darsono, (50), warga Dusun Jentir, Desa Ngangkatan.

Rumah Darsono dipindahkan sejauh beberapa puluh meter dari lokasi awal. Lasto mengatakan, puluhan warga ramai-ramai menggotong pondasi rumah Darsono yang berukuran sekitar 10 meterx6 meter, dengan kondisi masih utuh lengkap dengan rangka atapnya.

"Perangkat desa, Babinsa dan Bhabinkamtibmas ikut membantu proses pemindahan rumahnya," imbuh Lasto.

Dengan aba-aba salah satu warga, mereka serempak mengangkat rumah lalu berjalan bersama menuju lokasi baru.

"Dulu rumahnya menghadap barat, sekarang dipindahkan menghadap utara. Jadi ceritanya, rumah awalnya itu berdiri di tanah milik kakaknya. Nah sekarang setelah punya tanah sendiri, rumah dipindahkan ke lokasi baru," terang Lasto.

Menurut Lasto, tradisi memindahkan rumah dengan cara diangkat bersama-sama kini mulai jarang ditemui. Sebab, mayoritas rumah warga saat ini sudah dibangun menggunakan batu bata dan cor semen sehingga tidak memungkinkan dipindahkan secara utuh.

Meskipun sudah langka, budaya itu menurut Lasto masih bisa dijumpai di sejumlah wilayah pinggiran Nganjuk utara, seperti di Kecamatan Rejoso, Gondang, Lengkong, dan Jatikalen.

"Di wilayah itu sebagian rumah warganya sampai sekarang memang masih berbahan kayu jati," pungkas Lasto.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads