Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Sudaryono memastikan Indonesia siap menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Kesiapan itu didukung cadangan beras nasional yang dinilai cukup serta berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat menghadiri rangkaian kegiatan pertanian di Kabupaten Lamongan, Sabtu (30/5/2026). Menurut Sudaryono, total cadangan beras nasional yang tersimpan di Perum Bulog, masih berada di lahan pertanian (standing crop), maupun yang beredar di masyarakat saat ini mencapai sekitar 28 juta ton.
"Cadangan beras kita sekitar 28 juta ton. Kalau El Nino berlangsung hingga enam bulan sekalipun, stok pangan kita masih aman. Bahkan dengan skenario terburuk, cadangan beras kita masih mampu bertahan selama 11 bulan," kata Sudaryono.
Ia menjelaskan, berdasarkan prediksi yang ada, puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Sementara periode paling berat diprediksi berlangsung selama tiga bulan, yakni Juli hingga September.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian, pemerintah telah menjalankan sejumlah program mitigasi. Salah satunya melalui penyaluran hampir 100 ribu unit pompa air ke berbagai daerah sejak 2024.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pendukung pertanian melalui perbaikan dan revitalisasi jaringan irigasi, normalisasi saluran air, hingga pengeboran sumber air di sejumlah wilayah.
"Kami memberikan pompa air, memperbaiki irigasi, merevitalisasi saluran-saluran irigasi, termasuk pengeboran air di berbagai wilayah. Program irigasi perpompaan ini terus diperkuat untuk memastikan petani tetap bisa berproduksi," ujarnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Sudaryono optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga meski menghadapi ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino.
"Insyaallah kita siap menghadapi El Nino, baik dari sisi produksi maupun cadangan pangannya. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipasi sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyatakan pemerintah daerah juga terus menyiapkan berbagai strategi adaptasi perubahan iklim untuk menjaga produktivitas pertanian.
Menurut Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu, optimalisasi jaringan irigasi menjadi salah satu fokus utama yang terus diperkuat. Selain itu, pemanfaatan bantuan pompa air melalui program irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan juga terus dimaksimalkan untuk menghadapi musim kemarau.
"Ke depan kita akan terus menyiapkan strategi-strategi menghadapi perubahan iklim. Saluran irigasi yang ada akan terus kita optimalkan, termasuk bantuan pompa melalui irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan. Normalisasi serta perbaikan jaringan irigasi juga terus kita lakukan," kata Pak Yes.
Ia mengungkapkan, dukungan pemerintah pusat melalui program Inpres Irigasi senilai Rp 79 miliar yang diterima Lamongan pada tahun lalu telah memberikan dampak positif bagi sektor pertanian daerah.
"Kami bersyukur tahun lalu mendapatkan Inpres Irigasi sebesar Rp 79 miliar dan tahun ini sudah dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung produktivitas pertanian," ujarnya.
Selain penguatan infrastruktur, Pemkab Lamongan juga mendorong penggunaan benih unggul, penerapan pola tanam adaptif, serta percepatan modernisasi pertanian melalui mekanisasi. Menurut Pak Yes, transformasi teknologi pertanian di Lamongan terus berkembang. Mulai dari proses persemaian, penanaman, pemupukan, penyemprotan hama hingga panen kini semakin banyak memanfaatkan teknologi dan alat modern.
"Pertanian kita terus bertransformasi menggunakan teknologi modern. Mulai dari penanaman benih, pemupukan, penyemprotan hama hingga pemanenan sudah semakin memanfaatkan mekanisasi pertanian," tuturnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah pusat dan daerah optimistis Lamongan mampu mempertahankan statusnya sebagai daerah swasembada pangan sekaligus menjadi salah satu lumbung pangan utama di Indonesia.
Simak Video "Video: Antisipasi El Nino, Pramono Prioritaskan Ketahanan Pangan-Pencegahan ISPA"
(auh/hil)