Menengok Rumah Adat Suku Tengger yang Tetap Bertahan 200 Tahun

Menengok Rumah Adat Suku Tengger yang Tetap Bertahan 200 Tahun

M Rofiq - detikJatim
Sabtu, 30 Mei 2026 21:20 WIB
Rumah adat Tengger di Probolinggo
Rumah adat Tengger di Probolinggo/Foto: M Rofiq/detikJatim
Probolinggo -

Suku Tengger yang bermukim di kawasan lereng Gunung Bromo dikenal sebagai masyarakat yang masih kuat menjaga tradisi dan adat istiadat warisan leluhur.

Tidak hanya budaya dan ritual adat yang tetap lestari, masyarakat Suku Tengger juga masih mempertahankan rumah-rumah adat yang menjadi bagian penting dari identitas mereka.

Salah satu wilayah yang masih banyak menyimpan rumah adat Tengger berada di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Di sepanjang jalur menuju kawasan wisata Bromo, rumah-rumah tradisional khas Tengger masih dapat ditemui berdiri kokoh di tengah perkembangan zaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski sebagian bangunan telah mengalami pemugaran untuk menjaga kelayakan dan keamanan, pemilik rumah umumnya tetap mempertahankan bentuk dan ciri khas asli warisan nenek moyang mereka.

ADVERTISEMENT

Salah satu rumah adat yang masih terawat dengan baik adalah milik Suhartina (89), warga Desa Ngadisari. Rumah yang berada di sebuah gang kecil tersebut dipercaya telah berusia lebih dari 200 tahun dan sekitar 80 persen material bangunannya masih menggunakan kayu asli.

Rumah kuno tersebut pernah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada tahun 2010, bagian atap diperbaiki setelah mengalami kerusakan akibat dampak erupsi Gunung Bromo.

Selain itu, lantai kayu yang sebelumnya digunakan diganti dengan lantai keramik untuk menyesuaikan kebutuhan penghuni.

Rumah adat Tengger di ProbolinggoRumah adat Tengger di Probolinggo Foto: M Rofiq/detikJatim

Menurut Suhartina, rumah tersebut merupakan peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ia mengaku terus berupaya menjaga keaslian bangunan, terutama pada bagian dinding dan konstruksi kayu yang masih dipertahankan hingga saat ini.

"Ini peninggalan dari leluhur. Saya hanya meneruskan amanah untuk merawatnya. Bagian kayu dan dinding masih asli. Yang diganti hanya sebagian atap yang rusak akibat erupsi Gunung Bromo. Selebihnya masih dipertahankan karena kondisinya masih kuat," ujar Suhartina. Sabtu (30/5/2026).

Rumah adat Suku Tengger memiliki tiga ruangan utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Ruangan pertama disebut Padhayon, yang berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan kedua adalah Peturon, yaitu kamar tidur.

Sementara ruangan terakhir disebut Pawon atau Pedharingan, yang digunakan sebagai dapur sekaligus tempat perapian.

Keberadaan pawon memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Tengger. Mengingat kawasan Bromo berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara yang cukup dingin, ruangan ini juga kerap dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul keluarga maupun menerima tamu sambil menghangatkan badan di dekat tungku.

Rumah adat Tengger menjadi bukti bahwa masyarakat setempat masih menjaga nilai-nilai warisan leluhur di tengah modernisasi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo, bisa menyempatkan diri mengunjungi permukiman warga Tengger di Desa Ngadisari, agar dapat menjadi pengalaman menarik untuk mengenal lebih dekat budaya Suku Temgger Bromo dan kehidupan masyarakat adat yang masih lestari hingga kini.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads