Curhat Pedagang Thrift Gembong Surabaya: Dulu Digusur, Kini Sepi Pembeli

Curhat Pedagang Thrift Gembong Surabaya: Dulu Digusur, Kini Sepi Pembeli

Chilyah Auliya - detikJatim
Rabu, 27 Mei 2026 22:30 WIB
Pedagang Thrift di Gembong Surabaya
Pedagang Thrift di Gembong Surabaya (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim)
Surabaya -

Kawasan Gembong, Surabaya, bukan sekadar pusat thrifting atau jual beli pakaian bekas impor. Tempat ini juga menjadi saksi perjuangan para pedagang kecil bertahan hidup di tengah perubahan zaman dan kebijakan pemerintah.

Salah satunya dialami Anwar (55). Pedagang thrift itu mengaku pernah menghadapi penggusuran besar-besaran pada 2004 silam. Kini, setelah dua dekade berlalu, ia kembali menghadapi kenyataan pahit karena dagangannya makin sepi pembeli.

Apabila dulu ia harus berlari menghindari Satpol PP dan alat berat demi menyelamatkan barang dagangan, kini Anwar menghadapi tantangan baru berupa regulasi impor pakaian bekas yang makin ketat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah melabeli pakaian bekas impor sebagai barang ilegal karena dinilai mengancam industri tekstil dalam negeri. Dampaknya, stok barang thrift yang dulu mudah didapat kini semakin sulit dicari.

ADVERTISEMENT

Anwar mengaku sekarang harus mencari stok melalui media sosial seperti TikTok. Namun harga barang yang diperoleh jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.

Kondisi ekonomi masyarakat yang lesu juga membuat omzet penjualannya turun drastis. Anwar menyebut keuntungannya kini menyusut hingga 75 persen.

Jika dulu bisa mengantongi untung Rp 100 ribu per hari, kini mendapat Rp 25 ribu saja sudah cukup disyukuri.

"Aku sekarang kontrak di sini. Gak punya tempat aku, tempat yang dulu sudah habis kena gusur," tuturnya kepada detikJatim, Rabu (27/5/2026).

Anwar masih mengingat jelas suasana Gembong pada awal 2000-an. Saat itu, lapak-lapak pedagang memenuhi kawasan hingga memakan badan jalan dan menyebabkan kemacetan.

"Dulu sampai pertengahan jalan, Mbak. Memang saya akui, jalannya sampai sempit. Tapi ya begitu cara kami bertahan dulu," kenang pria ini sembari menatap aspal Kapasari yang kini lebih lengang.

Di balik stigma pakaian bekas impor, Anwar mengaku hasil berdagang thrift justru menjadi jalan untuk membiayai pendidikan anaknya. Ia merasa barang yang dijualnya masih layak pakai dan dibutuhkan masyarakat kecil.

Kebanggaan itu terlihat saat ia menceritakan anaknya yang kini berhasil menjadi sarjana, sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan.

"Biar ga kayak saya yang dulu sekolahnya ga jelas, enggak pakai tas, Mbak. Nasi bungkus taruh sini. Enggak pakai sepatu, kadang sandal. Di desa sekali," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads