Seorang pedagang sepatu di Pasar Loak Gembong, Surabaya, Sai (62), menjadi saksi hidup perjalanan panjang pasar legendaris tersebut. Lebih dari tiga dekade, tepatnya sejak 1990, ia menggantungkan hidup dari aktivitas jual beli barang bekas di kawasan itu.
Sai mengalami langsung perubahan besar Pasar Gembong, mulai dari masa kejayaan di depan Bioskop Istana hingga relokasi ke kios permanen pada era Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
"Saya sudah lama di sini. Dulu jualannya di pinggir embong, tepat di depan Bioskop Istana yang sekarang sudah jadi kafe itu," kenang Sai saat ditemui detikJatim di lapaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Relokasi ke kios permanen sekitar delapan tahun lalu membawa perubahan dalam pola penjualan. Meski lebih tertata, Sai mengakui jumlah pembeli tidak seramai saat masih berjualan di pinggir jalan.
"Bedanya kalau di dalam, orang datang itu memang sudah niat mau cari sepatu. Tapi kalau di luar, orang yang cuma lewat bisa tiba-tiba berhenti karena melihat barang yang cocok. Ya memang lebih ramai di luar dulu," ungkapnya.
Soal pendapatan, Sai mengaku tidak pernah menargetkan angka tertentu. Ia memilih menjalani usaha dengan prinsip sederhana dan menyerahkan rezeki kepada Tuhan.
"Rezeki itu relatif, tiap orang beda cara berpikirnya. Saya jalani saja kondisi seperti ini. Yang di atas sudah mengatur semua, jadi nggak bisa dipatok hari ini harus ramai atau tidak," terangnya.
Di tengah kebijakan larangan pakaian bekas impor, Sai memastikan barang dagangannya berasal dari sumber lokal. Ia menyebut banyak barang yang dijual merupakan hasil pemakaian pribadi yang kemudian dijual kembali.
"Loh, kalau ini lokal. Ada orang beli di Sogo atau TP (Tunjungan Plaza), lalu bosan dan dijual ke sini. Itu yang kami beli. Selama layak pakai dan bisa untung, ya saya ambil," jelas Sai.
Selain barang bekas, Sai juga menyediakan produk anyar atau baru non-original untuk pembeli dengan anggaran terbatas. Beragam alas kaki dijual dengan harga terjangkau, mulai dari puluhan ribu rupiah dengan kondisi yang masih layak pakai.
Meski dikenal sebagai penjual sepatu, Sai tidak membatasi jenis dagangannya. Ia menjual berbagai barang yang dinilai masih memiliki nilai jual.
