Varietas 'Analagi' Diharap Mampu Selamatkan Buah yang Jadi Ikon Kota Batu

Varietas 'Analagi' Diharap Mampu Selamatkan Buah yang Jadi Ikon Kota Batu

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Selasa, 26 Mei 2026 13:30 WIB
Apel varietas baru yang lahir dari persilangan Apel Anna dan Apel Manalagi.
Apel varietas baru yang lahir dari persilangan Apel Anna dan Apel Manalagi. (Foto: Istimewa)
Kota Batu -

Kondisi pertanian apel di Kota Batu makin terpuruk. Ini terbukti dengan menyusutnya luasan lahan pertanian apel yang masih konsisten panen setiap tahunnya. Munculnya varietas baru apel 'Golden Analagi' digadang-gadang mampu menyelamatkan kondisi yang makin mengenaskan bagi buah yang jadi ikon Kota Batu tersebut.

Berdasarkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu, luasan lahan apel di Kota Batu terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Bahkan, dua tahun terakhir, penyusutan lahan terlihat mengalami peningkatan cukup drastis.

Tercatat pada tahun 2022, luas lahan apel berada di angka 1.092 hektar. Namun, jumlah tersebut merosot menjadi 823,33 hektar pada tahun 2023, hingga akhirnya tersisa 740,07 hektar pada tahun 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurunya luasan lahan apel ini berbanding lurus dengan hasil apel yang dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu. Pada tahun 2023 tercatat hasil panen apel di angka 218,622 kuintal dan tahun 2024 sebanyak 140,285 kuintal per tahun.

Jumlah produksi apel di Kota Batu dalam dua tahun itu menurun sebanyak 159,678 kuintal jika dibandingkan tahun 2022. Di mana hasil panen tahun tersebut berada di angka 299,963 kuintal per tahun.

ADVERTISEMENT

Kepala Distan-KP Kota Batu Hendry Suseno mengaku tidak memungkiri bahwa apel yang menjadi ciri khas Kota Batu kian lama terus mengalami penurunan baik dari luasan lahan hingga hasil panen.

"Jadi zaman kejayaan apel pada tahun 1980 itu lahan apel tersebar di tiga Kecamatan yakni Junrejo, Batu dan Bumiaji. Nah, sekarang ini hanya di Kecamatan Bumiaji," kata Hendry, Senin (25/5/2026).

Ia menyebut, banyak faktor penyebab lahan apel di Kota Batu menyusut. Mulai dari faktor agroklimatologi, rusaknya tanah akibat pupuk kimia, penyakit hingga biaya operasional tinggi yang membuat petani sering mendapat untung tipis atau bahkan merugi.

Situasi tersebut membuat petani banyak memilih untuk bermigrasi ke komoditas lain yang lebih ramai dan menguntungkan. Ada juga petani memutuskan untuk menjual lahan yang kemudian berubah fungsi menjadi bisnis properti dan kafe.

"Tingginya operasional yang dikeluarkan, akhirnya para petani banyak beralih ke komoditi lain gitu loh. Sayur-sayur sama buah yang lain, misalnya sayur dan jeruk, bahkan alpukat," terang Hendry.

Dalam situasi yang terpuruk ini, seorang petani bernama Rudy Mardiyanto memberikan harapan baru lewat varietas apel baru yang diberi nama "Golden Analagi". Varietas baru ini lahir dari persilangan Apel Anna dan Apel Manalagi.

Varietas ini digadang-gadang menjadi harapan baru karena hasil penelitian rasa dan tekstur buah lebih unggul dibanding pendahulunya yakni Apel Anna dan Apel Manalagi. Belum lagi, pohon apel Golden Analagi disebut-sebut lebih adaptif terhadap fluktuasi cuaca ekstrem dan lebih tahan menghadapi penyakit.

Disinggung soal varietas baru yang dibuat secara mandiri oleh petani, Hendry mengaku penelitian yang menghasilkan Golden Analagi itu cukup bagus. Namun, hasil penelitian itu dinilai masih perlu diuji lebih jauh lagi salah satunya soal uji multilokasi.

"Karena pohon induknya itu baru satu. Jadi perlu diperbanyak dan dicoba di daerah dengan suhu dan ketinggian yang berbeda supaya bisa diketahui apakah varietas baru ini bisa ditanam dimana saja atau tidak," jelas Hendry.

"Setelah sudah banyak, nanti kita tinjau bareng dengan kementerian, baru ada pelepasan varietas baru. Kalau bicara soal rasa memang enak, renyah, lebih manis, terus ada asamnya juga," sambungnya.

Melihat kondisi pertanian apel yang krusial ini, Hendry menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Pihaknya berkomitmen untuk terus bergerak secara intensif demi menyelamatkan ikon daerah tersebut agar tidak sampai punah dari tanah kelahiran asalnya.

"Kita tetap intens. Intens artinya fokus di mana apel ini yang merupakan ciri spesifik Kota Batu jangan sampai punah," tegas Hendry.

Guna mewujudkan hal tersebut, Distan-KP Kota Batu terus membuka ruang komunikasi yang masif dengan para petani di lapangan. Segala bentuk pembaruan informasi teknologi, mitigasi serangan hama dan penyakit, hingga pemecahan masalah terkait rantai pasok komoditas apel terus dipantau secara berkala.

Kendati demikian, Hendry menyadari bahwa misi menyelamatkan apel Batu ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi multisektoral yang kuat untuk mengembalikan kejayaan buah legendaris ini, termasuk dalam menghadapi gempuran pasar buah impor.

"Kita aktif berkomunikasi dan berdiskusi dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), terus dengan universitas juga kita berkomunikasi. Karena ini tugas bersama; tugas Dinas Pertanian, tugas Kota Batu, dan juga para peneliti. Bagaimana agar apel ini nantinya bisa bersaing dengan apel-apel dari luar," tandasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads