Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar menyiapkan sebanyak 160 petugas kesehatan hewan menjelang Idul Adha 2026. Ratusan petugas akan diterjunkan di setiap desa/kelurahan untuk memastikan hewan kurban aman dikonsumsi masyarakat.
"Untuk petugas kesehatan hewan kami siapkan dari medis atau dokter hewan, dan paramedis. Totalnya sekitar 160 orang, terdiri dari Disnakkan ada 55 orang, dari PDHI Jatim VIII ada 53 orang dan dari kesmavet sekitar 53 orang," kata Kabid Keswan dan Kesmavet Disnakkan Kabupaten Blitar, drh Lusia Adityaningtyas kepada detikJatim, Senin (25/5/2026).
Lusia menyebut, pihaknya juga akan menggandeng mahasiswa, serta perangkat desa/kelurahan untuk melakukan monitoring hewan kurban. Sementara pemantauan atau monitoring itu dilakukan sebelum dan setelah hewan kurban disembelih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu untuk memastikan hewan kurban aman dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.
"Kalau untuk temuan penyakit saat kurban itu biasanya cacing hati, ini berdasarkan data tahun lalu. Tapi karena kami sering pengawasan dan sosialisasi, jadi masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau ada temuan cacing hati pada hewan kurban tersebut," jelasnya.
Terpisah, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim VIII drh Riris Dian We Wahyu mengatakan, pihaknya juga memberikan pelayanan medis terhadap hewan ternak untuk Idul Adha. Menurutnya, tidak ditemukan hewan kurban dengan kondisi Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS).
Pengecekan kondisi hewan ternak dilakukan bersama Disnakkan Kabupaten Blitar, maupun di sejumlah kandang peternakan. Hasilnya, Tim PDHI Jatim VIII hanya menemukan beberapa hewan dengan kaskado maupun scabies.
"Untuk sementara pantau kami dan Disnakkan memang tidak menemukan kasus PHMS, hanya ada beberapa hewan mengalami sakit gatal/scabies. Ini bisa ditangani dan bukan penyakit zoonosis (yang menular ke manusia)," tandasnya.
(auh/hil)
