BMKG Siaga Hadapi El Nino 2026, Kemarau Diprediksi Lebih Panjang-Kering

BMKG Siaga Hadapi El Nino 2026, Kemarau Diprediksi Lebih Panjang-Kering

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Senin, 25 Mei 2026 15:00 WIB
Ilustrasi El Nino dan Musim Kemarau
Ilustrasi El Nino dan Musim Kemarau/Foto: jcomp/Freepik
Surabaya -

BMKG mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi El Nino 2026 yang diperkirakan aktif mulai pertengahan tahun. Fenomena iklim ini diprediksi membuat musim kemarau datang lebih cepat, berlangsung lebih panjang, dan meningkatkan risiko kekeringan hingga kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia.

Untuk mengantisipasi dampaknya, BMKG bersama sejumlah kementerian mulai menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC), penguatan sensor meteorologi, hingga pemantauan wilayah rawan karhutla.

Lalu, bagaimana prediksi El Nino 2026 dan apa saja langkah yang sudah disiapkan pemerintah?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu El Nino dan Kenapa Dampaknya Perlu Diwaspadai?

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini dikenal sebagai El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang turut memengaruhi pola atmosfer global, termasuk curah hujan di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Menurut World Health Organization (WHO), setiap kejadian El Nino dapat memberikan dampak berbeda tergantung intensitas, durasi, hingga interaksinya dengan kondisi iklim lain. Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, El Nino biasanya menyebabkan curah hujan menurun sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dan lebih kering.

Kondisi tersebut dapat memicu berbagai dampak lanjutan, mulai dari krisis air bersih, gagal panen, penurunan kualitas udara, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG Deteksi Potensi Transisi Menuju El Nino 2026

BMKG menyebut, kondisi iklim global pada awal 2026 masih berada dalam fase ENSO netral. Namun, hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan peluang terjadinya El Nino berada pada kisaran 50 hingga 80 persen. Kondisi itu diperkirakan akan memengaruhi pola musim kemarau di Indonesia.

"Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal," ujar Guswanto, dikutip dari laman resmi BMKG.

Prediksi tersebut membuat pemerintah mulai memperkuat langkah antisipasi sebelum puncak kemarau terjadi.

BMKG Fokus Cegah Karhutla Sebelum Musim Kemarau Memuncak

Salah satu dampak yang paling diwaspadai selama El Nino adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah gambut yang mudah mengering saat musim kemarau panjang.

Karena itu, BMKG mulai memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Polri, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, hingga relawan di lapangan.

Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau 2026.

"Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan," ujarnya.

Pendekatan yang dilakukan saat ini lebih difokuskan pada langkah preventif atau pencegahan sejak dini dibanding pemadaman setelah kebakaran terjadi.

Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Strategi Utama Hadapi El Nino 2026

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BMKG mulai menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Strategi ini dilakukan guna menjaga ketersediaan air selama musim kemarau berlangsung.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan OMC dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang masih tersedia sebelum kondisi benar-benar kering.

"Sekarang di musim kemarau kita melakukan operasi lagi ketika masih ada awan, kita melakukan intervensi agar daerah-daerah itu dapat terisi catchment area-nya hingga tampungan airnya di embung-embung, di waduk-waduk, hingga sampai di Danau Toba sekalipun agar kita jadi lebih siap," kata Teuku Faisal, dikutip dari detikNews.

Operasi tersebut difokuskan untuk mengisi tampungan air seperti embung, waduk, bendungan, dan daerah tangkapan air agar cadangan air tetap tersedia saat kemarau mencapai puncaknya.

BMKG juga menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan apabila masih terdapat awan yang memungkinkan untuk disemai.

"Kalau tidak ada awan kita tidak bisa semai," imbuhnya.

BMKG nantinya akan memasang ground-based generator atau alat penyemai awan di sejumlah gedung tinggi di Ibu Kota. Teknologi tersebut disiapkan untuk memicu hujan ketika Jakarta mengalami periode panjang tanpa hujan yang dapat memperburuk polusi udara.

"Ketika Jakarta dua minggu, tiga minggu tidak ada hujan sama sekali itu kan kualitas udaranya akan menurun," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dikutip dari detikNews.

Menurut Faisal, alat tersebut nantinya digunakan untuk melepaskan bahan semai seperti uap air atau flare khusus ketika terdapat awan yang memungkinkan untuk dihujankan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi antisipasi BMKG menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.

BMKG dan Kemenhut Pantau Lahan Gambut untuk Cegah Kebakaran

Selain operasi modifikasi cuaca, BMKG bersama Kementerian Kehutanan juga memperkuat pengawasan terhadap kondisi lahan gambut yang rawan terbakar saat musim kemarau.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemantauan tinggi muka air tanah menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah karhutla.

"Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah," ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Kehutanan.

BMKG dan Kemenhut juga mulai memasang berbagai alat operasional utama serta sensor meteorologi di kawasan hutan untuk meningkatkan akurasi pemantauan iklim nasional.

Enam Provinsi Jadi Fokus Pengawasan Karhutla

BMKG kini memfokuskan pengawasan di sejumlah wilayah yang dinilai rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau panjang.

Enam provinsi yang menjadi prioritas pengawasan meliputi:

  1. Riau
  2. Jambi
  3. Sumatera Selatan
  4. Kalimantan Barat
  5. Kalimantan Tengah
  6. Kalimantan Selatan

Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama karena banyak area lahan gambut yang mudah terbakar ketika curah hujan menurun drastis.

Kapan Puncak Kemarau dan El Nino 2026 Terjadi?

BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau 2026 mulai berlangsung secara bertahap sejak April hingga Juni. Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus hingga September 2026.

El Nino sendiri diperkirakan mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibanding rata-rata iklim dalam 30 tahun terakhir.

Karena itu, pemerintah mulai memperkuat berbagai langkah antisipasi sejak sebelum kemarau memasuki fase puncak.

Apa Dampak El Nino 2026 bagi Masyarakat?

Apabila El Nino berkembang sesuai prediksi, masyarakat berpotensi menghadapi sejumlah dampak selama musim kemarau 2026. Mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, suhu udara yang terasa lebih panas, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat asap kebakaran hutan.

Di sektor pertanian, kemarau panjang juga dapat memengaruhi hasil panen dan ketersediaan pangan. Sementara di perkotaan, minimnya hujan berpotensi memperburuk kualitas udara, terutama di wilayah padat seperti Jakarta.

Karena itu, masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG selama musim kemarau berlangsung.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads