Jangan Asal Bungkus! Ini Cara Aman Distribusi Daging Kurban

Jangan Asal Bungkus! Ini Cara Aman Distribusi Daging Kurban

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 25 Mei 2026 13:30 WIB
Ilustrasi menyimpan daging kambing kurban di kulkas.
Ilustrasi menyimpan daging kambing kurban di kulkas/Foto: ChatGPT
Surabaya -

Proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban tak hanya soal kelancaran ibadah, tetapi juga keamanan pangan. Karena itu, masyarakat dan panitia kurban diingatkan untuk menerapkan standar kebersihan guna mencegah pencemaran pada daging yang akan dikonsumsi.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof drh Mustofa Helmi Effendi mengatakan, terdapat risiko kontaminasi daging kurban saat proses penyembelihan maupun peletakan daging setelah disembelih.

Menurutnya, pemisahan antara daging bersih dan jeroan memerlukan perhatian khusus agar tidak ada pencemaran silang. Termasuk memastikan daging kurban tidak diletakkan di tanah dan alas yang memungkinkan kontaminasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus menyadari bahwa di Indonesia perundang-undangan yang berlaku masih memungkinkan penyembelihan dilakukan di luar rumah potong hewan. Sehingga banyak orang yang tidak mengerti teknik pemotongan, teknik pencacahan, dan teknik pengulitan ikut ambil bagian," kata Prof Mustofa, Senin (25/5/2026).

ADVERTISEMENT

Prof Mustofa menilai, praktik distribusi di masyarakat masih sering belum memenuhi standar distribusi aman. Seperti penggunaan wadah plastik daur ulang serta proses pembagian yang kurang higienis berpotensi dalam meningkatkan kontaminasi.

"Sebaiknya menggunakan wadah yang tidak mengkontaminasi. Jangan menggunakan plastik hasil daur ulang dan plastik berwarna hitam. Pakailah plastik yang food grade, yang kontaminannya sangat sedikit," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penyimpanan daging kurban yang tepat. Daging harus dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau freezer untuk meminimalisir penurunan kualitas.

Kemudian, Prof Mustofa menekankan standar keamanan pangan di Indonesia harus mengacu pada prinsip ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Konsep kehalalan menjadi prioritas utama khususnya dalam proses penyembelihan hewan kurban.

"Jadi kalau kita bicara soal keamanan pangan, kita harus paham betul bahwa di Indonesia keamanan pangan itu dikaitkan dengan daging dengan istilah aman, sehat, utuh, halal. Di sini, yang utama itu adalah kehalalan dulu. Jangan bicara keamanan pangan dulu, karena kita berkaitan dengan hewan-hewan," jelasnya.

Selain itu, perlu pendampingan dokter hewan pada proses antemortem maupun postmortem untuk memastikan daging aman dikonsumsi. Masyarakat juga memerlukan edukasi terkait pemahaman prinsip ASUH agar daging kurban tidak hanya memenuhi aspek ibadah dan sosial, tetapi juga menghasilkan produk halal, aman dan berkualitas.

"Jika konsep ini sudah menjadi bagian dari proses penyelenggaraan ibadah hewan kurban, maka insya Allah daging yang dihasilkan adalah daging yang aman, sehat, utuh, dan halal," pungkasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads