Perhutani Banyuwangi Barat Deklarasikan 200 Kader Konservasi Hutan

Perhutani Banyuwangi Barat Deklarasikan 200 Kader Konservasi Hutan

Eka Rimawati - detikJatim
Sabtu, 23 Mei 2026 15:50 WIB
Ratusan kader konservasi hutan mengikuti deklarasi dan penanaman bibit pohon di wilayah KPH Perhutani Banyuwangi Barat.
Penanaman ribuan bibit pohon dilakukan dalam peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional di Banyuwangi Barat. (Foto: Eka Rimawati/ detikjatim)
Banyuwangi -

Sebanyak 200 kader konservasi hutan mendeklarasikan komitmen menjaga ekosistem hutan dan menyeimbangkan tiga aspek, yakni ekologis, ekonomi, dan sosial di wilayah hutan Banyuwangi Barat yang berada di bawah pengelolaan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Barat.

Salah satu kader konservasi, Hari Suharto, warga Dusun Jambewangi, Kecamatan Sempu, menegaskan deklarasi yang digelar di Lapangan Kali Andong, Jambewangi, merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat sekitar hutan.

Menurut Hari, masyarakat sebenarnya memiliki kepedulian terhadap lingkungan hutan, terlebih di tengah dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Namun, faktor ekonomi kerap membuat sebagian masyarakat mengabaikan aspek sosial dan ekologis. Karena itu, pelibatan masyarakat sebagai kader konservasi dinilai menjadi langkah tepat untuk memikul tanggung jawab bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Deklarasi ini sangat bagus, karena kita tahu sebenarnya masyarakat desa sekitar hutan juga sangat peduli lingkungan hutan tapi kebutuhan hidup juga perlu diakomodir sehingga ketika kebutuhan ekonominya dipenuhi maka kesejahteraan sosial terjamin dan masyarakat tidak akan lagi melakukan tindakan yang merusak ekologi," jelas Hari, Sabtu (23/5/2026).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Administratur (ADM) KPH Banyuwangi Barat Muklisin menyebut deklarasi kader konservasi hutan yang ditandai dengan penanaman 2.026 bibit pohon secara simbolis pada momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 merupakan bagian dari upaya mitigasi tantangan ekologi di masa depan.

Menurut Muklisin, pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan dan hunian, sehingga hutan berpotensi menjadi sasaran eksploitasi. Karena itu, edukasi kepada masyarakat melalui kader konservasi dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga kelestarian hutan.

"Total 42.700-an hektare luas lahan yang ada di KPH Banyuwangi Barat, makin tahun makin bertumbuh masyarakat, sehingga butuh hunian, sandang, pangan, maka tekanan sosial akan mengarah ke hutan. Bagaimana kita mengelola mitigasi terkait dengan sosial tersebut, bagaimana kita memberdayakan masyarakat tapi tidak mengabaikan aspek ekologi artinya masyarakat harus patuh dengan koridor-koridor yang ditentukan oleh BUMN kehutanan ini," tegas Muklisin.

Muklisin juga mengajak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk bersinergi mewujudkan rencana jangka panjang terkait kesiapan Banyuwangi dalam mendukung target perdagangan karbon nasional. Menurutnya, hutan harus tetap mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi ekologis.

"Kita ngajak bareng stakeholder yang ada di Banyuwangi untuk bersinergi mewujudkan bagaimana hutan yang ada di Banyuwangi Barat ini memberi manfaat juga untuk masyarakat. Kedepan dengan konsep wabilkhusus hutan lindung, hutan konservasi kita jaga dengan baik akan memberikan kontribusi serapan karbon yang luar biasa karena kondisi tutupan lahan kita insyaallah 90 persen lebih, itu kondisi yang sangat bagus," tambahnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi Alief R Kartiono menyebut deklarasi tersebut merupakan gerakan lokal yang memberikan dampak global. Ia berharap inisiatif yang digagas KPH Banyuwangi Barat dapat menginspirasi KPH lain di wilayah Banyuwangi.

"Pemerintah daerah berharap dengan kegiatan yang bersifat lokalitas nantinya memberi dampak yang luas sebagaimana yang diawali Banyuwangi Barat ini. Mudah-mudahan Banyuwangi Utara, Banyuwangi Selatan juga melakukan kegiatan yang sama. Ini menjadi agenda global maka kegiatan yang kecil-kecil ini harapannya tentu memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat," ungkap Alief.

Alief menambahkan, pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terus memberikan dukungan terhadap berbagai langkah strategis di sektor kehutanan. Meski aspek ekonomi dan sosial penting diperhatikan, ia menegaskan aspek ekologis tetap harus menjadi prioritas utama.

"Pemerintah melalui Perhutani sudah memberikan kesempatan dengan konsep pemberdayaan dan sebagainya. Namun, kita perlu berkoordinasi terus dengan masyarakat yang terpenting dari ujung itu semua adalah bagaimana menjamin ekologi ini terus terjaga. Tidak semata-mata memikirkan ekonomi dan sosial saja, ekologi menjadi bagian yang terpenting," pungkas Alief.

Ribuan pohon ditanam secara bertahap di wilayah KPH Banyuwangi Barat guna menjaga ekosistem hutan di sekitar permukiman warga. Jenis pohon yang ditanam di antaranya beringin putih, pule, alpukat, hingga sukun.



(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads