Saat ini masyarakat tengah dihebohkan dengan munculnya Hantavirus yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius. Di Indonesia sendiri, dalam tiga tahun terakhir tercatat terdapat 23 kasus penularan Hantavirus. Namun, varian yang terdeteksi adalah Seoul Virus, sedangkan di kapal pesiar adalah varian Andes Virus.
Akibatnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyebaran hantavirus. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.
Pelaksana tugas (Pt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menjelaskan bahwa hantavirus memiliki keterkaitan erat dengan hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Risiko penularan lebih tinggi pada individu yang sering beraktivitas di area yang berpotensi terdapat tikus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok yang perlu waspada antara lain petugas kebersihan, petani, pekerja kontruksi, pengendali hama, pekerja selokan, hingga petugas laboratorium.
"Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, kemudian petani, dan lain sebagainya, juga dengan daerah yang tergenang banjir, juga aktivitas di area berisiko, ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," jelas Andi dikutip dalam konferensi pers Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta yang dilakukan daring pada Senin (11/5).
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, seperti berkemah, yang berpotensi menjadi habitat tikus.
"Dan juga tentunya bahwa di daerah-daerah kita harus waspada bahwa ketika kita berada di luar ruangan, berkemah contohnya, dan itu biasanya juga ada tikus di daerah situ," terangnya.
Selain memantau kasus di dalam negeri, Kemenkes juga menindaklanjuti notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia. Kontak erat tersebut telah diperiksa di RSPI Sulianti Saroso, dengan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.
"Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut," ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta sistem surveilans pelaku perjalanan.
Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan infeksi emerging di seluruh Indonesia.
"Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat," tegasnya.
Baca juga: Kasus Hantavirus Ditemukan di Jatim |
Cara Mencegah Hantavirus
Dalam konferensi pers tersebut, Kemenkes juga megimbau untuk mencegah terpapar hantavirus dengan cara berikut:
1. Cuci Tangan Menggunakan Sabun
Dalam imbauan tersebut, masyarakat dianjurkan untuk mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, terutama setelah batuk, bersin, dan setelah beraktivitas di luar rumah.
2. Hindari Kontak Langsung dengan Tikus
Hindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk kotoran, urine, dan sereksinya. Jika perlu membersihkan area terkontaminasi, gunakan alat pelindung diri.
3.Jaga Kebersihan Tempat Tinggal dan Tempat Kerja
Kebersihan rumah dan lingkungan kerja perlu dijaga secara rutin. Apabila ditemukan jejak tikus atau celurut, pembersihan disarankan menggunakan metode wet cleaning agar debu tidak menyebar.
4. Simpan Makanan dan Minuman dengan Aman
Makanan dan minuman sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup, misalnya menggunakan tudung saji untuk mencegah kontaminasi tikus.
5. Tutup lubang di dalam dan luar rumah
Tutup celah atau lubang yang berpotensi menjadi akses masuk tikus agar tidak bersarang di dalam rumah atau area tempat tinggal.
6. Hindari Sumber Infeksi
Saat beraktivitas di alam terbuka seperti berkemah, mendaki, atau wisata luar ruang, masyarakat diminta menghindari area yang berpotensi terkontaminasi, termasuk lokasi dengan jejak tikus.
7. Segera Periksa ke Fasilitas Kesehatan
Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mengarah pada hantavirus, seperti demam, nyeri tubuh, lemas, batuk, atau sesak napas setelah berada di area berisiko.
8. Patuhi Imbauan Kesehatan
Masyarakat diimbau untuk mengikuti aturan dan imbauan kesehatan di negara tujuan, terutama jika wilayah tersebut melaporkan kasus hantavirus.
Selain itu, Andi mengingatkan pentingnya penanganan bangkai tikus yang benar, terutama di area pertanian atau wilayah dengan populasi tikus tinggi.
"Banyak tikus yang terbunuh, yang mati, itu sebaiknya dilakukan juga prosedur yang baik. Tidak dibuang di tengah jalan, atau di sungai, atau dibiarkan begitu, ada baiknya tikus tersebut juga dimasukkan ke kubur, kemudian ditutup dengan rapat, itu pasti akan sangat aman," pungkas Andi.
(auh/dpe)
