Misteri Gunung Kawi yang selama ini identik dengan pesugihan dan tumbal kembali menjadi sorotan. Bahkan sejumlah nama artis hingga pengusaha makan bergizi gratis (MBG) berkunjung ke Gunung Kawi. Mengenai hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur buka suara.
"Kita harus memahami konteks pesugihan di Gunung Kawi Malang, apa yang disampaikan pesulap merah dan dipersepsi masyarakat sama atau tidak. Praktik ritualnya seperti apa? Maka kalau praktik terus ada ritualnya itu tentu kemusyrikan. Tentu hukumnya haram secara mutlak," kata Sekretaris Umum MUI Jatim, Hasan Ubaidillah kepada detikJatim, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ulama yang akrab disapa Gus Ubed ini para tamu yang datang ke Gunung Kawi rata-rata membawa ritual khusus dan sesajen untuk meminta sesuatu.
"Kalau tawassul atau wasilah itu mendekatkan diri ke Allah, tanpa ritual apapun, tanpa sesajen, murni berdoa saja. Tapi realitanya di Gunung Kawi yang datang melakukan ritual khusus, dengan media-media tertentu seperti sesajen jelas itu haram," jelasnya.
"Kemusyrikan itu dalam artian bahwa ritual yang dilakukan di sana itu cenderung menyentuh pada aspek-aspek keyakinan. Misalnya meyakini ketika ritual di Gunung Kawi bisa mendatangkan uang yang banyak, pekerjaan yang lancar, dengan sesajen-sesajen tertentu. Maka di sini mengapa dikatakan musyrik karena meyakini bahwa dengan melakukan ritual tersebut akan mendatangkan rezeki atau uang," tambahnya.
Gus Ubed juga menegaskan antara wasilah dengan pesugihan di Gunung Kawi tampak sekilas tidak berbeda. Namun jika dilihat detail, wasilah adalah momen ketika seseorang hanya berdoa tanpa ritual tertentu dan juga tanpa sesajen.
"Lain dengan persoalan wasilah, ini memang bedanya sedikit sekali. Kalau wasilah itu dalam artian perantara, tapi perantaranya untuk mendekatkan diri ke Allah. Dalam surat Al-Maidah dijelaskan," jelasnya.
"Sebagaimana dilakukan oleh banyak kalangan terutama di Indonesia seringkali tawassul atau wasilah ini dimaknai misalnya begini tawassul kepada Rasulullah SAW, karena Rasulullah kekasih Allah SWT. Harapannya dengan kita menyambungkan ke Rasulullah, apa yang kita minta ke Allah dikabulkan kasihnya. Kalau bahasa kasarnya kita itu kita tidak kenal sama presiden, tapi presiden punya orang dipercaya. Maka melalui orang yang dipercaya itu kita sampaikan sesuatu. Dan orang itu menyampaikan langsung ke presiden," tandasnya.
(auh/dpe)
