Menelusuri Keraton Gunung Kawi yang Disorot Pesulap Merah

Menelusuri Keraton Gunung Kawi yang Disorot Pesulap Merah

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 21 Mei 2026 14:40 WIB
Dua lokasi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan di Gunung Kawi
Lokasi yang kerap dikaitkan dengan pesugihan di Gunung Kawi. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Selama puluhan tahun, nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang selalu diidentikkan dengan hal-hal magis. Mulai dari rumor praktik pesugihan, ritual penggandaan uang, hingga perjanjian gaib demi memperoleh kekayaan secara instan.

Lokasi ini kembali viral setelah Marcel Radhival Pesulap Merah membongkar dugaan praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi.

Melalui akun media sosialnya, Marcel sendiri menyampaikan bahwa kedatangan ke Keraton Gunung Kawi demi menjawab rasa penasaran netizen terkait dugaan adanya praktik pesugihan dan penggunaan tumbal di lokasi sakral tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi permintaan tersebut, Marcel langsung menemui juru kunci (kuncen) setempat untuk menggali informasi secara langsung.

Namun, jika kita menelusuri lebih dalam ke kompleks Keraton Gunung Kawi yang terletak di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, realitas yang ditemukan justru sangat jauh dari kesan menyeramkan tersebut.

ADVERTISEMENT

Memasuki gerbang Keraton Gunung Kawi, hawa sejuk khas lereng gunung langsung menyambut. Pohon-pohon besar yang dibalut kain bermotif kotak-kotak hitam-putih (kain poleng) memang memberikan kesan sakral dan magis.

Ditambah lagi, aroma dupa dan sesajen di beberapa sudut kerap kali membuat pengunjung yang baru pertama kali datang merasa merinding.

Meski demikian, pengelola setempat menegaskan bahwa aura mistis tersebut bukanlah penanda adanya praktik sekte gelap atau pesugihan hitam.

Jono, salah satu juru kunci kompleks keraton, menjelaskan bahwa pusat dari kawasan ini adalah makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati.

Kedua tokoh yang berasal dari Kerajaan Kediri kuno tersebut dikenal menetap di sana untuk bertapa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (moksa) hingga akhir hayatnya.

"Masyarakat datang ke sini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada leluhur, sama seperti makam-makam keramat pada umumnya. Anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi mencari pesugihan atau kekayaan instan itu tidak benar," ujar Jono ditemui detikJatim, Kamis (12/10/2023).

Bagi mereka yang datang dengan niat memperlancar usaha, pengelola meluruskan bahwa keraton ini berfungsi sebagai tempat berdoa dan memohon kelancaran kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menghormati jasa para leluhur sebagai perantaranya.

Menariknya, bukti keberhasilan doa para peziarah tidak diwujudkan dalam bentuk tumbal atau ritual aneh, melainkan dalam bentuk donasi sukarela.

Berkat kontribusi dari para peziarah yang sukses dalam karir dan usahanya, fasilitas di Keraton Gunung Kawi kini sangat modern, bahkan telah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi gratis demi kenyamanan pengunjung.

Di balik mitos pesugihan yang telanjur melekat, Keraton Gunung Kawi sebenarnya menyimpan permata yang jauh lebih berharga: nilai toleransi yang luar biasa tinggi.

Di dalam kompleks yang dikelola bersama oleh Perhutani dan warga setempat ini berdiri lima rumah ibadah untuk agama-agama yang diakui di Indonesia.

Umat dari berbagai latar belakang keyakinan sering kali datang dan beribadah secara berdampingan tanpa ada gesekan.

Tempat ini menjadi simbol bagaimana spiritualitas bisa menyatukan perbedaan, alih-alih memisahkannya.

Bagi wisatawan yang penasaran, tempat ini sangat terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 12 ribu dan biaya parkir kendaraan, pengunjung sudah bisa menikmati ketenangan batin, keindahan alam, sekaligus mengedukasi diri tentang sejarah dan budaya yang ada.

Kompleks ini dirawat secara bergantian oleh 10 orang juru kunci dan 20 warga lokal yang siap mendampingi sebagai pemandu wisata.

Pada akhirnya, misteri Keraton Gunung Kawi kembali pada niat masing-masing individu yang mengunjunginya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads