2 Anggrek Langka Dunia Teridentifikasi di Gunung Semeru

2 Anggrek Langka Dunia Teridentifikasi di Gunung Semeru

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 20 Mei 2026 13:29 WIB
Anggrek langka ditemukan di Semeru
Anggrek langka ditemukan di Semeru/Foto: Istimewa
Malang -

Kekayaan hayati Indonesia kembali memikat dunia internasional. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) secara resmi mengumumkan pencatatan dua spesies anggrek baru di kawasan Gunung Semeru.

Kedua anggrek tersebut diidentifikasi sebagai Anoectochilus papuanus dan Acanthophippium bicolor, setelah melalui proses penelitian dan verifikasi ilmiah yang panjang dan menyeluruh.

Penemuan ini menjadi sangat istimewa karena kedua spesies tersebut merupakan catatan baru bagi keanekaragaman hayati di Pulau Jawa maupun Indonesia. Kedua tanaman langka ini ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru pada rentang elevasi sekitar 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anoectochilus papuanus pertama kali ditemukan pada tahun 2022, disusul oleh penemuan Acanthophippium bicolor pada tahun 2023.

ADVERTISEMENT

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS Toni Artaka menjelaskan, proses dari penemuan awal hingga pengakuan resmi di dunia sains membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Validasi botani harus melewati tahapan yang ketat sebelum akhirnya dipublikasikan secara luas.

"Sejak ditemukan sampai pengajuan jurnal ilmiah butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, setelah itu proses publikasi ilmiah hampir dua tahun. Penemuan dua jenis anggrek itu merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa dan Indonesia," kata Toni Artaka kepada wartawan, Rabu (20/5/2026).

Secara morfologi, lanjut Toni Artaka, kedua anggrek ini memiliki karakteristik yang sangat unik dan memikat.

Spesies Anoectochilus papuanus yang secara global masuk dalam kelompok Jewel Orchids memiliki ciri daun berurat berukuran sekitar dua sampai lima sentimeter, dengan ketinggian bunga mencapai 12 sentimeter.

Keindahan anggrek ini terletak pada bunganya yang memadukan warna marun dengan putih transparan, serta dilapisi rambut halus di seluruh bagian bunganya.

Sementara itu, Acanthophippium bicolor yang termasuk dalam kelompok Jug Orchids memiliki fisik yang lebih besar dengan tinggi mencapai 60 sentimeter dari pangkal tanaman hingga ujung daun.

Anggrek ini memiliki dua daun berwarna hijau yang bertahan sepanjang tahun dengan umbi semu yang tumbuh merumpun hingga sepanjang 20 sentimeter.

Karakteristik paling mencolok ada pada bunganya yang berdiameter empat sentimeter, berbentuk menyerupai kendi, dan menampilkan perpaduan warna merah menyala serta kuning pucat.

Penemuan ini sekaligus memperluas peta sebaran geografis kedua spesies tersebut. Sebelumnya, Anoectochilus papuanus hanya tercatat memiliki sebaran alami dari Papua hingga Kepulauan Solomon.

Di sisi lain, Acanthophippium bicolor selama ini diketahui hanya tersebar di wilayah India dan Sri Lanka. Meskipun menjadi penemuan yang sangat berharga, status konservasi kedua tanaman cantik ini masih memerlukan kajian lebih mendalam.

TNBTS mengonfirmasi bahwa kedua anggrek tersebut relatif sulit ditemukan di habitat alaminya dan tergolong cukup langka. Sehingga memerlukan perhatian khusus dalam hal perlindungan.

"Secara global Anoectochilus papuanus dikenal dalam kelompok Jewel Orchids, sedangkan Acanthophippium bicolor termasuk kelompok Jug Orchids," ujar Toni Artaka.

"Umbi semunya memiliki panjang hingga 20 sentimeter dan tumbuh merumpun. Bunganya memiliki ukuran diameter mencapai empat sentimeter, berbentuk menyerupai kendi, dan berwarna merah menyala berpadu kuning pucat," sambungnya.

Berdasarkan status global dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus masih masuk dalam kategori not evaluated atau belum dievaluasi.

Hingga saat ini, kedua spesies yang ditemukan di area Gunung Semeru tersebut juga belum memiliki nama lokal.

Pihak TNBTS menyatakan bahwa status konservasi yang lebih spesifik dan resmi untuk ranah domestik masih harus dikonfirmasi dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads