Mitos larangan menikah antara warga Polowijen dan Dinoyo di Malang tampaknya bukan bualan belaka. Mitos ini diyakini benar-benar terjadi.
Penggerak Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, membagikan kesaksian pilu terkait orang-orang terdekatnya yang mengalami nasib sial setelah nekat melanggar pantangan adat tersebut.
Kisah tragis pertama dialami oleh almarhumah Mbak Nina, sosok yang pernah berjasa mengurus Kampung Budaya Polowijen bersama Ki Demang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkawinannya dengan pria asal Dinoyo harus kandas dalam waktu singkat dan menyisakan duka mendalam. Setelah usia pernikahan menginjak usia 10 tahun, Mbak Nina bercerai dan tidak lama meninggal.
"Mbak Nina dulu menikah dengan orang Dinoyo. Usia pernikahannya tidak lama, tidak sampai sepuluh tahun. Pada akhirnya mereka bercerai, dan tidak lama setelah itu Mbak Nina meninggal dunia," kata Ki Demang, Senin (18/5/2026).
Tak berhenti sampai di situ, kutukan mitos ini disinyalir juga menimpa mantan asisten rumah tangga Ki Demang yang bernama Mbak Erna.
Erna yang sudah disekolahkan hingga lulus kuliah oleh Ki Demang itu harus menelan pil pahit perpisahan setelah membina rumah tangga dengan orang Dinoyo.
"Ada kemudian Erna, mantan pembantu saya. Pernah saya kuliahkan, menikah dengan orang Dinoyo, punya anak satu. Dan mereka juga pisah (bercerai)," tutur Ki Demang.
Dua kejadian yang menimpa orang-orang terdekat itu, membuat Ki Demang berada di persimpangan antara logika modern dan warisan kepercayaan leluhur.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sedang berspekulasi tentang nasib orang lain, melainkan bersaksi atas apa yang benar-benar terjadi di depan matanya sendiri.
"Saya tidak bicara tentang orang lain yang jauh, ini terjadi pada orang-orang terdekat saya sendiri. Saya tidak tahu apakah ini murni mitos atau bagaimana, saya tidak tahu pasti. Tetapi yang jelas, kenyataan pahit ini benar-benar terjadi," pungkas Ki Demang.
(auh/hil)
